Bengkak setelah operasi patah tulang merupakan kondisi yang cukup umum terjadi selama masa pemulihan. Namun, jika pembengkakan berlangsung lama atau semakin memburuk, hal ini bisa menjadi tanda adanya gangguan pada sistem limfatik, sehingga menyebabkan limfedema yang memerlukan penanganan lebih lanjut. Sistem limfatik sendiri adalah jaringan dalam tubuh yang terdiri dari organ dan pembuluh, yang berperan dalam melindungi tubuh dari infeksi sekaligus menjaga keseimbangan cairan agar tetap stabil.

Di Limfedema Center RS Mandaya Puri, terapi bengkak pascaoperasi tidak hanya berfokus pada perawatan konvensional, tetapi juga didukung oleh pendekatan medis modern, seperti prosedur bypass limfatik untuk mengatasi hambatan aliran cairan limfa, serta rehabilitasi dengan teknologi compression devices yang membantu proses penyembuhan dan mengurangi pembengkakan.
Contents
Mengapa bisa terjadi pembengkakan setelah operasi patah tulang?
Ketika mendengar istilah limfedema, banyak orang langsung mengaitkannya dengan pengobatan kanker. Padahal, kondisi ini juga dapat terjadi setelah operasi ortopedi, termasuk operasi patah tulang. Jika Anda mengalami kaki bengkak setelah operasi, disertai rasa berat atau kaku pada anggota tubuh, kondisi tersebut mungkin bukan sekadar bagian dari proses pemulihan biasa, melainkan bisa jadi merupakan limfedema.
Limfedema adalah jenis pembengkakan kronis yang terjadi ketika sistem limfatik (sistem pembuangan “limbah” alami dalam tubuh) menjadi lambat atau tersumbat. Kondisi ini umumnya memengaruhi lengan atau kaki, tetapi juga dapat muncul di area tubuh lainnya.
Jika disebabkan oleh operasi atau trauma, kondisi ini disebut sebagai limfedema sekunder. Pada kasus operasi ortopedi, limfedema bisa muncul beberapa minggu hingga berbulan-bulan setelah tindakan dilakukan.
Operasi ortopedi melibatkan sendi, tulang, serta jaringan lunak di sekitarnya. Meskipun dilakukan dengan teknik yang hati-hati, tetap ada kemungkinan sistem limfatik ikut terdampak.
Berikut beberapa penyebab yang dapat memicu limfedema setelah operasi:
1. Kerusakan pembuluh limfatik
Prosedur seperti operasi penggantian panggul atau lutut dapat mengganggu pembuluh limfatik kecil. Ketika pembuluh ini terpotong atau tertekan, cairan limfa dapat menumpuk karena tidak dapat mengalir dengan lancar.
2. Peradangan setelah operasi
Pembengkakan ringan setelah operasi adalah hal yang normal akibat proses peradangan. Namun, jika peradangan berlangsung lama atau terlalu berat, sistem limfatik bisa kewalahan, terutama pada pasien yang sudah memiliki gangguan sirkulasi atau limfatik sebelumnya.
3. Mobilitas yang terbatas
Selama masa pemulihan, pergerakan tubuh sering kali terbatas. Padahal, kontraksi otot berperan penting dalam membantu aliran cairan limfa. Tanpa pergerakan yang cukup, pembengkakan pascaoperasi bisa meningkat, terutama pada area kaki.
4. Jaringan parut dan adhesi
Jaringan parut yang terbentuk setelah operasi dapat menekan atau menghambat jalur limfatik, terutama jika proses penyembuhan tidak optimal. Hal ini dapat membuat limfedema menjadi lebih sulit ditangani.
5. Penggunaan tourniquet
Penggunaan tourniquet saat operasi ortopedi untuk mengontrol perdarahan dapat sementara waktu menghambat aliran darah dan limfa. Jika tekanan ini berlangsung cukup lama, bisa berpotensi menimbulkan gangguan setelah operasi.
Baca juga: RS Mandaya Puri Hadirkan Limfedema Center untuk Pasien Bengkak Pasca Operasi
Apakah pembengkakan yang Anda alami limfedema atau bagian dari proses pemulihan biasa?

Kondisi pembengkakan setelah operasi adalah hal yang lazim terjadi. Akan tetapi, jika pembengkakannya tidak kunjung membaik dalam waktu lama sampai menimbulkan nyeri dan mengganggu aktivitas, sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter, seperti dr. Sara Ester Triatmoko, Sp.B.P.R.E., Subsp.M.O. (K), dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi dan estetik dengan subspesialis rekonstruksi bedah mikro serta onkoplasti di Limfedema Center RS Mandaya Royal Puri.
Dengan berkonsultasi dengan dr. Sara, beliau bisa melihat kondisi pembengkakan yang Anda alami secara langsung dan menentukan penanganan yang paling sesuai.
Berikut ini adalah ciri-ciri limfedema pascaoperasi patah tulang yang perlu Anda waspadai:
- Pembengkakan pada sebagian atau seluruh lengan atau kaki, termasuk jari tangan atau jari kaki
- Rasa berat atau kencang pada area yang terdampak
- Keterbatasan rentang gerak
- Infeksi yang berulang
- Pengerasan dan penebalan kulit (fibrosis).
Untuk memastikan apakah kondisi pembengkakan yang Anda alami limfedema atau tidak, Anda bisa berkonsultasi langsung dengan dr. Sara di Limfedema Center RS Mandaya Royal Puri.
Baca juga: Rekomendasi Dokter Limfedema di Jakarta dan Tangerang
Terapi bengkak pascaoperasi tulang di Limfedema Center RS Mandaya Royal Puri
Penanganan pembengkakan setelah operasi di Limfedema Center RS Mandaya Royal Puri dilakukan secara komprehensif oleh tim multidisiplin. Tim ini terdiri dari dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi dan estetik dengan subspesialis rekonstruksi bedah mikro serta onkoplasti, yang bekerja sama dengan dokter spesialis rehabilitasi medik serta perawat untuk memberikan terapi yang menyeluruh bagi pasien.
1. Prosedur bypass limfatik

Salah satu metode unggulan dalam menangani limfedema di Limfedema Center RS Mandaya Royal Puri adalah prosedur bypass limfatik. Tindakan ini ditujukan bagi pasien yang mengalami pembengkakan akibat terganggunya aliran cairan limfa, dengan tujuan menciptakan jalur alternatif agar cairan tersebut dapat mengalir kembali dengan lebih lancar.
Menurut dr. Sara, pasien yang mulai merasakan pembengkakan sebaiknya segera memeriksakan diri untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Prosedur ini dilakukan dengan cara menghubungkan pembuluh limfatik ke pembuluh darah kecil (venula), sehingga aliran cairan limfa tidak lagi terhambat.
Teknik yang digunakan adalah supermicrosurgery yang sangat presisi. Tindakan ini akan dilakukan dengan bantuan mikroskop Kinevo 900 yang memungkinkan visualisasi pembuluh berukuran sangat kecil secara lebih detail dan presisi.
Sebelum tindakan, dokter akan melakukan pemetaan pembuluh limfatik menggunakan zat kontras untuk mengidentifikasi area yang bermasalah. Berdasarkan hasil tersebut, dokter menentukan titik yang optimal untuk dilakukan bypass.
Selanjutnya, pembuluh limfatik yang mengalami gangguan akan disambungkan dengan venula, sehingga terbentuk jalur baru yang memungkinkan cairan limfa langsung mengalir ke sistem vena. Dengan cara ini, pembengkakan dapat berkurang secara signifikan.
Prosedur ini dikenal sebagai Lymphaticovenular Anastomosis (LVA), yaitu tindakan minimal invasif yang bertujuan mengatasi limfedema dengan mengalihkan aliran limfa ke pembuluh vena kecil di sekitarnya.
2. Rehabilitasi

Setelah menjalani prosedur bypass limfatik dengan dr. Sara, pasien dapat melanjutkan terapi dengan tim rehabilitasi medik untuk mengoptimalkan hasil pengobatan. Salah satu metode yang digunakan adalah compression devices, yaitu alat berupa pompa pneumatik yang memberikan tekanan secara bergantian pada area yang mengalami pembengkakan.

Alat ini digunakan bersama selongsong khusus (sleeve) yang dipasang pada lengan atau kaki. Tekanan yang dihasilkan membantu menjaga aliran cairan limfa tetap bergerak melalui pembuluh limfatik dan vena, sekaligus mencegah penumpukan cairan.
Selain membantu mengurangi pembengkakan, penggunaan compression pump juga dapat menurunkan risiko komplikasi limfedema dan mendukung proses pemulihan pasien secara lebih optimal.
Baca juga: RS Mandaya Puri Hadirkan Limfedema Center untuk Pasien Bengkak Pasca Operasi
Tim dokter Limfedema Center di RS Mandaya Royal Puri
Penanganan limfedema di RS Mandaya Royal Puri didukung oleh tim dokter berpengalaman dari berbagai bidang spesialisasi, yaitu:
1. dr. Sara Ester Triatmoko, Sp.B.P.R.E., Subsp.M.O. (K)

Sebagai dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi dan estetik dengan subspesialis rekonstruksi bedah mikro serta onkoplasti, dr. Sara Ester Triatmoko, Sp.B.P.R.E., Subsp.M.O. (K) berperan dalam mengembalikan fungsi sekaligus bentuk tubuh pasien.
Bidang ini tidak hanya berfokus pada aspek estetika, tetapi juga mencakup penanganan medis seperti rekonstruksi pascaoperasi kanker, perbaikan jaringan akibat cedera, penanganan luka bakar, hingga koreksi kelainan bawaan. Dengan teknik bedah mikro yang presisi, tindakan yang dilakukan dapat membantu memperbaiki struktur tubuh dan meningkatkan kualitas hidup pasien secara menyeluruh.
dr. Sara Ester Triatmoko, Sp.B.P.R.E., Subsp.M.O. (K) bisa ditemui di RS Mandaya Royal Puri pada:
- Selasa: 17.00 – 19.30 WIB
- Kamis: 17.00 – 19.30 WIB.
2. dr. Andre Sugiyono, Sp.KFR

dr. Andre Sugiyono,Sp.KFR merupakan dokter spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi yang menyelesaikan pendidikan di Universitas Katolik Atma Jaya dan Universitas Indonesia. Ia memiliki keahlian dalam berbagai metode terapi seperti elektroterapi, fisioterapi, hidroterapi, hingga rehabilitasi pascastroke. Layanan yang diberikan bertujuan membantu memulihkan fungsi tubuh dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
dr. Andre Sugiyono,Sp.KFR bisa ditemui di RS Mandaya Royal Puri pada:
- Senin: 08.30 – 15.30 WIB
- Selasa: 08.30 – 15.30 WIB
- Rabu: 08.30 – 15.30 WIB
- Kamis: 08.30 – 15.30 WIB
- Jumat: 08.30 – 15.30 WIB
- Sabtu: 14.30 – 19.00 WIB.
3. dr. Eugene Nathania, Sp.KFR

dr. Eugene Nathania, Sp.KFR adalah dokter spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Medik lulusan Universitas Indonesia. Ia memiliki kompetensi dalam berbagai teknik terapi seperti rehabilitasi obstetri, taping, manual therapy, hingga dry needling. Selain itu, ia juga berpengalaman dalam menangani nyeri muskuloskeletal serta membantu pasien mengembalikan fungsi dan mobilitas tubuh.
dr. Eugene Nathania, Sp.KFR bisa ditemui di RS Mandaya Royal Puri pada:
- Senin: 08.00 – 14.00 WIB
- Selasa: 08.00 – 14.00 WIB
- Rabu: 08.00 – 14.00 WIB
- Kamis: 08.00 – 14.00 WIB
- Jumat: 08.00 – 14.00 WIB
- Sabtu: 08.00 – 14.00 WIB.
4. dr. Johanes Putra, Sp.KFR

dr. Johanes Putra, Sp.KFR merupakan dokter spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Medik yang menempuh pendidikan di Universitas Atma Jaya dan Universitas Indonesia. Ia memiliki keahlian dalam rehabilitasi muskuloskeletal, termasuk penanganan gangguan otot, tulang, dan sendi, serta manajemen nyeri intervensi untuk membantu mengurangi keluhan pasien secara efektif.
dr. Johanes Putra, Sp.KFR bisa ditemui di RS Mandaya Royal Puri pada:
- Senin: 14.30 – 20.00 WIB
- Selasa: 14.30 – 20.00 WIB
- Rabu: 14.30 – 20.00 WIB
- Kamis: 14.30 – 20.00 WIB
- Jumat: 14.30 – 20.00 WIB
- Sabtu: 08.00 – 14.00 WIB.
Selain didukung oleh dokter spesialis dari berbagai bidang, penanganan limfedema di RS Mandaya Royal Puri juga melibatkan tim perawat yang terlatih dan berpengalaman, sehingga pasien dapat memperoleh perawatan yang optimal dan terintegrasi.
Apa bahayanya jika limfedema tidak ditangani?
Berikut ini adalah beberapa kemungkinan komplikasi yang bisa terjadi jika limfedema tidak ditangani:
- Infeksi kulit (selulitis), ditandai kulit bengkak, kemerahan, nyeri, dan terasa hangat
- Sepsis, yaitu infeksi berat yang bisa mengancam nyawa jika tidak ditangani
- Kebocoran cairan limfa melalui kulit atau muncul lepuhan
- Perubahan kulit menjadi lebih tebal dan keras (mirip kulit gajah)
- Kanker jaringan lunak (jarang, pada kasus limfedema yang sangat berat dan tidak diobati).
Untuk mempermudah proses kunjungan ke RS Mandaya Royal Puri, pasien dapat menggunakan fitur Chat melalui WhatsApp, Book Appointment, atau aplikasi Care Dokter yang tersedia di Google Play dan App Store. Melalui layanan ini, pasien dapat mengatur jadwal konsultasi, melihat nomor antrean, serta memperoleh berbagai informasi penting terkait layanan rumah sakit.
*Informasi yang tersedia pada halaman ini disusun untuk tujuan edukasi dan gambaran umum, sehingga tidak mencerminkan seluruh jenis layanan medis yang dapat dilakukan oleh masing-masing dokter. Untuk memastikan penanganan yang sesuai dengan kondisi kesehatan Anda, disarankan melakukan konsultasi langsung dengan dokter terkait.
Apabila Anda memiliki pertanyaan, saran, atau membutuhkan informasi lebih lanjut, silakan menghubungi call center kami di 0811-1900-2000.

