Limfedema: Penyebab, Gejala, hingga Penanganannya di Limfedema Center RS Mandaya Puri

Limfedema adalah kondisi pembengkakan yang dapat terjadi di berbagai area tubuh akibat gangguan pada sistem limfatik. Sistem limfatik sendiri berfungsi mengumpulkan kelebihan cairan, protein, dan zat sisa dari sel serta jaringan tubuh untuk kemudian dikembalikan ke aliran darah.

Sistem limfatik manusia.

Ketika sistem limfatik mengalami gangguan, cairan dapat menumpuk di dalam jaringan tubuh dan menyebabkan pembengkakan. Kondisi ini paling sering terjadi pada lengan dan tungkai, tetapi juga dapat memengaruhi area tubuh lainnya. 

RS Mandaya Royal Puri menghadirkan Limfedema Center yang dilengkapi dengan tim dokter dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi dan estetik dengan subspesialis rekonstruksi bedah mikro serta onkoplasti, dokter rehabilitasi, hingga perawat yang tersertifikasi untuk melakukan penanganan limfedema. 

Konsultasi dokter

Jenis dan tingkat keparahan limfedema

Secara umum, limfedema terbagi menjadi dua jenis, yaitu limfedema primer dan limfedema sekunder.

Limfedema primer

Limfedema primer adalah limfedema yang terjadi akibat kelainan bawaan atau faktor keturunan yang memengaruhi perkembangan sistem limfatik. Kondisi ini tergolong langka dan dapat muncul pada usia yang berbeda-beda, seperti:

  • Saat bayi: Bayi dapat lahir dengan penyakit Milroy, yaitu bentuk limfedema bawaan yang diturunkan secara genetik.
  • Saat pubertas, kehamilan, atau hingga usia 35 tahun: Kondisi yang disebut penyakit Meige atau limfedema praecox dapat muncul pada masa pubertas, kehamilan, atau usia dewasa muda.
  • Setelah usia 35 tahun: Ada juga jenis limfedema yang muncul lebih lambat atau disebut limfedema tarda. Kondisi ini biasanya menyebabkan pembengkakan yang terbatas pada area tungkai atau kaki.

Limfedema sekunder

Limfedema sekunder terjadi ketika sistem limfatik mengalami kerusakan akibat prosedur medis atau cedera, seperti operasi, trauma, atau terapi radiasi. Kondisi ini paling sering ditemukan pada pasien yang pernah menjalani pengobatan kanker payudara. Namun, tidak semua pasien kanker payudara pasti mengalami limfedema.

Limfedema juga memiliki beberapa tahapan berdasarkan tingkat keparahannya, yaitu:

  • Stadium 0: Area tubuh yang terkena mungkin terasa berat, kencang, atau seperti bengkak, tetapi belum terlihat pembengkakan dari luar.
  • Stadium I: Pembengkakan mulai muncul, namun masih bisa berkurang atau mengempis ketika bagian tubuh yang bengkak diangkat lebih tinggi.
  • Stadium II: Area yang terkena hampir selalu tampak bengkak, dan kulit di sekitarnya mulai terasa lebih keras dibanding area lain.
  • Stadium III: Pembengkakan sudah cukup berat dan biasanya disertai perubahan pada kulit, seperti perubahan warna maupun tekstur kulit.

Baca juga: RS Mandaya Puri Hadirkan Limfedema Center untuk Pasien Bengkak Pasca Operasi

Penyebab limfedema

Limfedema dapat terjadi akibat gangguan atau kerusakan pada sistem limfatik. Beberapa penyebab limfedema antara lain:

  • Operasi kanker payudara yang melibatkan pengangkatan kelenjar getah bening
  • Operasi di area panggul
  • Terapi radiasi yang menyebabkan kerusakan jaringan limfatik
  • Cedera atau trauma pada tubuh
  • Infeksi
  • Obesitas atau kelebihan berat badan
  • Kurang aktivitas fisik
  • Tumor yang menghambat aliran cairan limfatik
  • Gangguan jantung, seperti gagal jantung
  • Gangguan pembuluh darah
  • Penyakit ginjal yang menyebabkan penumpukan cairan dalam tubuh.

Gejala limfedema

Gejala limfedema yang paling umum adalah pembengkakan, terutama pada lengan atau tungkai. Pembengkakan bisa muncul perlahan maupun tiba-tiba. Selain itu, gejala lain yang dapat muncul antara lain:

  • Pembuluh darah vena atau tendon di tangan dan kaki menjadi sulit terlihat
  • Ukuran lengan atau tungkai terlihat berbeda
  • Sendi terasa kaku atau sulit digerakkan
  • Kulit tampak kemerahan atau bengkak
  • Lengan, tungkai, atau bagian tubuh lain terasa berat dan penuh
  • Pakaian atau perhiasan terasa lebih sempit dari biasanya
  • Muncul rasa panas, perih, atau gatal pada kulit
  • Kulit menjadi lebih tebal atau mengeras.

Konsultasi dokter

Baca juga: Rekomendasi Dokter Limfedema di Jakarta dan Tangerang

Penanganan limfedema di Limfedema Center RS Mandaya Royal Puri

Penanganan limfedema di Limfedema Clinic RS Mandaya Royal Puri dilakukan dengan pendekatan yang komprehensif, mulai dari tindakan bypass limfatik hingga terapi rehabilitasi menggunakan teknologi compression devices dan manual lymph drainage (MLD). Berikut penjelasannya:

1. Prosedur bypass limfatik

Salah satu penanganan untuk limfedema di RS Mandaya Royal Puri adalah prosedur bypass limfatik atau Lymphaticovenular Anastomosis (LVA). Tindakan ini ditujukan bagi pasien yang sudah mengalami pembengkakan akibat gangguan aliran cairan limfa.

Lymphaticovenular Anastomosis (LVA) (Sumber: Memorial Sloan Kettering Cancer Center)
Lymphaticovenular Anastomosis (LVA) (Sumber: Memorial Sloan Kettering Cancer Center)

Pada prosedur ini, dokter membuat jalur baru dengan menghubungkan pembuluh limfatik yang bermasalah ke pembuluh darah kecil bernama venula. Dengan adanya jalur alternatif tersebut, cairan limfa dapat langsung dialirkan ke sistem pembuluh darah vena sehingga membantu mengurangi penumpukan cairan dan pembengkakan.

Tindakan bypass limfatik dilakukan menggunakan teknik supermicrosurgery yang membutuhkan tingkat presisi sangat tinggi. Untuk mendukung prosedur ini, dokter menggunakan mikroskop canggih Kinevo 900 yang memungkinkan visualisasi pembuluh darah dan pembuluh limfatik berukuran sangat kecil secara lebih detail.

Sebelum operasi dilakukan, dokter akan memetakan aliran pembuluh limfatik menggunakan zat kontras untuk menentukan area yang mengalami gangguan. Setelah titik-titik pembuluh yang bermasalah teridentifikasi, dokter kemudian melakukan penyambungan pembuluh limfatik ke venula secara presisi.

2. Rehabilitasi dengan compression devices

Setelah menjalani prosedur bypass limfatik, pasien juga dapat melanjutkan terapi bersama tim rehabilitasi medik untuk membantu mengoptimalkan hasil pengobatan.

Salah satu terapi yang digunakan adalah compression devices, yaitu alat berupa pompa pneumatik yang bekerja dengan memberikan tekanan secara bergantian pada area tubuh yang mengalami pembengkakan.

Alat ini dihubungkan ke sleeve khusus yang dipasang pada lengan atau kaki pasien. Tekanan yang dihasilkan membantu mendorong cairan limfa tetap bergerak melalui pembuluh limfatik dan vena sehingga mencegah penumpukan cairan.

Selain membantu mengurangi pembengkakan, penggunaan compression pump juga dapat membantu menurunkan risiko komplikasi limfedema dan mendukung proses pemulihan pasien secara menyeluruh.

3. Manual lymph drainage (MLD)

Layanan fisioterapi di RS Mandaya Royal Puri juga didukung oleh fisioterapis tersertifikasi yang berpengalaman dalam melakukan manual lymph drainage (MLD) untuk pasien limfedema.

MLD merupakan teknik terapi khusus yang bertujuan membantu mengurangi pembengkakan dengan cara mengarahkan cairan limfa berlebih dari area yang mengalami pembengkakan ke area tubuh lain yang masih memiliki sistem limfatik sehat.

Dengan teknik ini, cairan limfa dapat lebih mudah diproses dan dikeluarkan oleh tubuh secara alami. Terapi manual lymph drainage juga dapat membantu meningkatkan kenyamanan pasien dan mendukung kelancaran aliran cairan limfatik setelah menjalani pengobatan limfedema.

Baca juga: Penanganan Tangan Bengkak Setelah Operasi Kanker Payudara di RS Mandaya Puri

Tim dokter limfedema center RS Mandaya Royal Puri

Tidak hanya lengkap secara teknologi dan penanganan, Limfedema Center RS Mandaya Royal Puri juga didukung oleh tim dokter multidisiplin untuk menangani limfedema, yaitu:

1. dr. Sara Ester Triatmoko, Sp.B.P.R.E., Subsp.M.O. (K)

dr. Sara Ester Triatmoko, Sp.B.P.R.E., Subsp.M.O. (K) adalah dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi dan estetik dengan subspesialis rekonstruksi bedah mikro dan onkoplasti. Dalam prakteknya, beliau menangani berbagai tindakan rekonstruksi untuk membantu mengembalikan fungsi sekaligus bentuk tubuh pasien setelah mengalami kondisi medis tertentu.

Penanganan yang dilakukan meliputi rekonstruksi pasca operasi kanker, perbaikan jaringan akibat cedera atau trauma, penanganan luka bakar, hingga koreksi kelainan bawaan. Dengan dukungan teknik bedah mikro yang presisi, tindakan yang dilakukan dapat membantu memperbaiki struktur tubuh, memindahkan jaringan, serta meningkatkan kualitas hidup pasien secara menyeluruh.

dr. Sara Ester Triatmoko, Sp.B.P.R.E., Subsp.M.O. (K) bisa ditemui di RS Mandaya Royal Puri pada:

  • Selasa: 17.00 – 19.30 WIB
  • Kamis: 17.00 – 19.30 WIB.

2. dr. Andre Sugiyono, Sp.KFR

dr. Andre Sugiyono, Sp.KFR merupakan dokter spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi yang berpraktek di RS Mandaya Royal Puri. Beliau menyelesaikan pendidikan dokter umum di Universitas Katolik Atma Jaya dan melanjutkan pendidikan spesialis di Universitas Indonesia.

Dalam praktek sehari-hari, dr. Andre menangani berbagai program rehabilitasi untuk membantu pasien memulihkan fungsi tubuh setelah mengalami gangguan kesehatan tertentu. Keahlian beliau meliputi elektroterapi, fisioterapi, hidroterapi, hingga rehabilitasi pasca stroke.

dr. Andre Sugiyono,Sp.KFR bisa ditemui di RS Mandaya Royal Puri pada:

  • Senin: 08.30 – 15.30 WIB
  • Selasa: 08.30 – 15.30 WIB
  • Rabu: 08.30 – 15.30 WIB
  • Kamis: 08.30 – 15.30 WIB
  • Jumat: 08.30 – 15.30 WIB
  • Sabtu: 14.30 – 19.00 WIB.

3. dr. Eugene Nathania, Sp.KFR

dr. Eugene Nathania, Sp.KFR adalah dokter spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Medik yang menempuh pendidikan dokter umum dan spesialis di Universitas Indonesia.

Beliau memiliki kompetensi dalam berbagai metode terapi rehabilitasi, seperti rehabilitasi obstetri, taping, manual therapy, hingga dry needling. Selain itu, dr. Eugene juga berpengalaman dalam menangani keluhan nyeri muskuloskeletal dan membantu pasien memulihkan fungsi gerak serta mobilitas tubuh setelah cedera maupun kondisi medis tertentu.

dr. Eugene Nathania, Sp.KFR bisa ditemui di RS Mandaya Royal Puri pada:

  • Senin: 08.00 – 14.00 WIB
  • Selasa: 08.00 – 14.00 WIB
  • Rabu: 08.00 – 14.00 WIB
  • Kamis: 08.00 – 14.00 WIB
  • Jumat: 08.00 – 14.00 WIB
  • Sabtu: 08.00 – 14.00 WIB.

4. dr. Johanes Putra, Sp.KFR

dr. Johanes Putra, Sp.KFR merupakan dokter spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Medik yang menyelesaikan pendidikan dokter umum di Universitas Atma Jaya dan melanjutkan pendidikan spesialis di Universitas Indonesia.

Beliau memiliki keahlian dalam rehabilitasi muskuloskeletal, khususnya untuk menangani gangguan pada otot, tulang, dan sendi. Selain itu, dr. Johanes juga kompeten dalam melakukan tindakan manajemen nyeri intervensi untuk membantu mengurangi keluhan pasien secara lebih optimal.

dr. Johanes Putra, Sp.KFR bisa ditemui di RS Mandaya Royal Puri pada:

  • Senin: 14.30 – 20.00 WIB
  • Selasa: 14.30 – 20.00 WIB
  • Rabu: 14.30 – 20.00 WIB
  • Kamis: 14.30 – 20.00 WIB
  • Jumat: 14.30 – 20.00 WIB
  • Sabtu: 08.00 – 14.00 WIB.

Di RS Mandaya Royal Puri, penanganan limfedema dilakukan secara multidisiplin dengan dukungan dokter spesialis dari berbagai bidang serta tim perawat yang terlatih dan berpengalaman dalam memberikan perawatan optimal bagi pasien limfedema.

Untuk mempermudah kunjungan Anda ke Mandaya Royal Hospital Puri, gunakan fitur Chat melalui Whatsapp, Book Appointment, atau aplikasi Care Dokter yang bisa di-download di Google Play dan App Store untuk mempermudah kunjungan, melihat nomor antrian, dan mendapatkan informasi lengkap lainnya.

*Informasi yang tersedia pada halaman ini disusun untuk tujuan edukasi dan gambaran umum, sehingga tidak mencerminkan seluruh jenis layanan medis yang dapat dilakukan oleh masing-masing dokter. Untuk memastikan penanganan yang sesuai dengan kondisi kesehatan Anda, disarankan melakukan konsultasi langsung dengan dokter terkait.

Apabila Anda memiliki pertanyaan, saran, atau membutuhkan informasi lebih lanjut, silakan menghubungi call center kami di 0811-1900-2000.

Konsultasi dokter

Need Help? Chat with us!
Start a Conversation
Hi! Click one of our members below to chat on WhatsApp
We usually reply in a few minutes