Kaki bengkak setelah operasi kanker serviks merupakan kondisi yang perlu diwaspadai, terutama jika berlangsung lama atau semakin memburuk. Hal ini dapat terjadi karena prosedur operasi kanker serviks sering kali melibatkan pengangkatan kelenjar getah bening di area panggul, yang berperan penting dalam sistem limfatik. Ketika aliran cairan limfa terganggu, risiko terjadinya limfedema atau pembengkakan pada kaki pun meningkat.
Untuk membantu mengatasi kondisi ini secara optimal, RS Mandaya Puri menghadirkan Limfedema Center dengan pendekatan medis modern dan penanganan terpadu bagi pasien.
Contents
Mengapa kaki bisa bengkak setelah operasi dan penanganan kanker serviks?
Terdapat sejumlah faktor yang bisa menyebabkan limfedema atau kaki bengkak setelah menjalani penanganan atau operasi kanker serviks, antara lain:
-
Indeks Massa Tubuh (Body Mass Index/BMI)
Indeks Massa Tubuh (Body Mass Index) yang tinggi merupakan faktor risiko untuk limfedema, khususnya limfedema sekunder. Obesitas (BMI di atas 30) dapat secara langsung menyebabkan gangguan limfatik dan mengganggu fungsi limfatik, yang menyebabkan pembengkakan kronis.
-
Menjalani radioterapi (terapi radiasi)
Radioterapi (terapi radiasi) yang dilakukan untuk menangani kanker serviks berpotensi merusak atau membentuk jaringan parut pada kelenjar dan pembuluh getah bening, sehingga mengurangi kemampuan tubuh untuk mengalirkan cairan getah bening dan memicu pembengkakan.
-
Pengangkatan kelenjar getah bening
Pengangkatan kelenjar getah bening dan jumlah kelenjar getah bening yang diangkat merupakan faktor risiko utama dari berkembangnya limfedema sekunder.
-
Ukuran tumor
Terkadang, tumor kanker yang membesar dapat menyumbat sistem limfatik, sehingga menyebabkan pembengkakan di area yang terdampak.
Gejala limfedema yang perlu diwaspadai setelah operasi kanker serviks
Pembengkakan di kaki bukanlah satu-satunya gejala limfedema. Masih ada gejala lain yang perlu diwaspadai, antara lain:
- Pembuluh darah atau tendon di tangan dan kaki sulit terlihat atau dirasakan
- Ukuran lengan atau kaki tampak tidak sama
- Sendi terasa kaku atau kurang fleksibel
- Kulit terlihat bengkak atau kemerahan
- Terjadi pembengkakan pada lengan, kaki, atau area tubuh lainnya
- Area tubuh terasa berat atau penuh
- Pakaian atau perhiasan terasa lebih sempit dari biasanya
- Muncul sensasi perih atau gatal
- Kulit menjadi lebih tebal dari kondisi normal.
Penanganan kaki bengkak setelah operasi kanker serviks di RS Mandaya Puri
Penanganan pembengkakan kaki setelah operasi kanker serviks di Limfedema Center RS Mandaya Royal Puri dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan tim multidisiplin. Tim ini terdiri dari dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi dan estetik dengan subspesialis rekonstruksi bedah mikro serta onkoplasti, yang berkolaborasi dengan dokter spesialis rehabilitasi medik untuk memberikan terapi yang terintegrasi sesuai kebutuhan pasien.
1. Prosedur bypass limfatik
Salah satu terapi utama untuk mengatasi limfedema di Limfedema Center RS Mandaya Royal Puri adalah prosedur bypass limfatik. Tindakan ini diperuntukkan bagi pasien yang mengalami pembengkakan akibat gangguan aliran cairan limfa, dengan tujuan menciptakan jalur baru agar cairan dapat mengalir kembali secara optimal.
Menurut dr. Sara, pasien yang mulai mengalami gejala pembengkakan disarankan untuk segera memeriksakan diri agar mendapatkan penanganan yang tepat sejak dini. Prosedur ini dilakukan dengan menyambungkan pembuluh limfatik ke pembuluh darah kecil (venula), sehingga aliran cairan limfa tidak lagi terhambat.
Tindakan ini menggunakan teknik supermicrosurgery yang membutuhkan tingkat ketelitian tinggi. Itulah mengapa tindakan ini akan dilakukan dengan mikroskop canggih bernama Kinevo 900 yang memungkinkan dokter melihat pembuluh berukuran sangat kecil secara lebih detail dan presisi.
Sebelum operasi dilakukan, dokter akan memetakan pembuluh limfatik menggunakan zat kontras untuk mengidentifikasi area yang bermasalah. Hasil pemetaan ini kemudian menjadi acuan dalam menentukan lokasi terbaik untuk tindakan bypass.
Selanjutnya, pembuluh limfatik yang terganggu akan dihubungkan dengan venula untuk membentuk jalur baru, sehingga cairan limfa dapat langsung mengalir ke sistem vena. Dengan adanya jalur alternatif ini, pembengkakan dapat berkurang secara signifikan.
Prosedur ini dikenal sebagai Lymphaticovenular Anastomosis (LVA), yaitu teknik minimal invasif yang bertujuan mengatasi limfedema dengan mengalihkan aliran cairan limfa ke pembuluh vena kecil di sekitarnya.
2. Rehabilitasi

Setelah menjalani prosedur bypass limfatik, pasien biasanya akan melanjutkan terapi bersama tim rehabilitasi medik guna memaksimalkan hasil pengobatan. Salah satu metode yang digunakan adalah compression devices, yaitu alat berupa pompa pneumatik yang bekerja dengan memberikan tekanan secara bergantian pada area yang mengalami pembengkakan.

Alat ini digunakan bersama selongsong khusus (sleeve) yang dipasang pada lengan atau kaki pasien. Tekanan yang dihasilkan membantu menjaga sirkulasi cairan limfa tetap lancar melalui pembuluh limfatik dan vena, sekaligus mencegah penumpukan cairan.
Selain membantu mengurangi pembengkakan, penggunaan compression pump juga berperan dalam menurunkan risiko komplikasi limfedema serta mendukung proses pemulihan pasien secara lebih optimal.
Baca juga: RS Mandaya Puri Hadirkan Limfedema Center untuk Pasien Bengkak Pasca Operasi
Tim dokter di Limfedema Center RS Mandaya Royal Puri
Penanganan limfedema di RS Mandaya Royal Puri didukung oleh tim dokter berpengalaman dari berbagai bidang spesialisasi, di antaranya:
1. dr. Sara Ester Triatmoko, Sp.B.P.R.E., Subsp.M.O. (K)

Sebagai dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi dan estetik dengan subspesialis rekonstruksi bedah mikro serta onkoplasti, dr. Sara Ester Triatmoko, Sp.B.P.R.E., Subsp.M.O. (K) berperan dalam mengembalikan fungsi sekaligus bentuk tubuh pasien. Bidang ini tidak hanya berfokus pada estetika, tetapi juga mencakup berbagai penanganan medis, seperti rekonstruksi pascaoperasi kanker, perbaikan jaringan akibat cedera, penanganan luka bakar, hingga koreksi kelainan bawaan. Dengan teknik bedah mikro yang presisi, tindakan yang dilakukan dapat membantu memperbaiki struktur tubuh sekaligus meningkatkan kualitas hidup pasien.
dr. Sara Ester Triatmoko, Sp.B.P.R.E., Subsp.M.O. (K) bisa ditemui di RS Mandaya Royal Puri pada:
- Selasa: 17.00 – 19.30 WIB
- Kamis: 17.00 – 19.30 WIB.
2. dr. Andre Sugiyono, Sp.KFR

dr. Andre Sugiyono,Sp.KFR merupakan dokter spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi yang menempuh pendidikan di Universitas Katolik Atma Jaya dan Universitas Indonesia. Ia memiliki keahlian dalam berbagai metode terapi seperti elektroterapi, fisioterapi, hidroterapi, hingga rehabilitasi pascastroke. Layanan yang diberikan berfokus pada pemulihan fungsi tubuh serta peningkatan kualitas hidup pasien.
dr. Andre Sugiyono,Sp.KFR bisa ditemui di RS Mandaya Royal Puri pada:
- Senin: 08.30 – 15.30 WIB
- Selasa: 08.30 – 15.30 WIB
- Rabu: 08.30 – 15.30 WIB
- Kamis: 08.30 – 15.30 WIB
- Jumat: 08.30 – 15.30 WIB
- Sabtu: 14.30 – 19.00 WIB.
3. dr. Eugene Nathania, Sp.KFR

dr. Eugene Nathania, Sp.KFR adalah dokter spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Medik lulusan Universitas Indonesia. Ia memiliki kompetensi dalam berbagai teknik terapi, seperti rehabilitasi obstetri, taping, manual therapy, hingga dry needling. Selain itu, ia juga berpengalaman dalam menangani nyeri muskuloskeletal serta membantu pasien mengembalikan fungsi dan mobilitas tubuh setelah cedera atau kondisi tertentu.
dr. Eugene Nathania, Sp.KFR bisa ditemui di RS Mandaya Royal Puri pada:
- Senin: 08.00 – 14.00 WIB
- Selasa: 08.00 – 14.00 WIB
- Rabu: 08.00 – 14.00 WIB
- Kamis: 08.00 – 14.00 WIB
- Jumat: 08.00 – 14.00 WIB
- Sabtu: 08.00 – 14.00 WIB.
4. dr. Johanes Putra, Sp.KFR

dr. Johanes Putra, Sp.KFR merupakan dokter spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Medik yang menyelesaikan pendidikan di Universitas Atma Jaya dan Universitas Indonesia. Ia memiliki keahlian dalam rehabilitasi muskuloskeletal, termasuk penanganan gangguan pada otot, tulang, dan sendi, serta manajemen nyeri intervensi untuk membantu mengurangi keluhan pasien secara lebih efektif.
dr. Johanes Putra, Sp.KFR bisa ditemui di RS Mandaya Royal Puri pada:
- Senin: 14.30 – 20.00 WIB
- Selasa: 14.30 – 20.00 WIB
- Rabu: 14.30 – 20.00 WIB
- Kamis: 14.30 – 20.00 WIB
- Jumat: 14.30 – 20.00 WIB
- Sabtu: 08.00 – 14.00 WIB.
Selain didukung oleh dokter spesialis dari berbagai bidang, penanganan limfedema di RS Mandaya Royal Puri juga melibatkan tim perawat yang terlatih dan berpengalaman, sehingga pasien dapat memperoleh perawatan yang optimal, menyeluruh, dan terintegrasi.
Untuk mempermudah proses kunjungan ke RS Mandaya Royal Puri, pasien dapat menggunakan fitur Chat melalui WhatsApp, Book Appointment, atau aplikasi Care Dokter yang tersedia di Google Play dan App Store. Melalui layanan ini, pasien dapat mengatur jadwal konsultasi, melihat nomor antrean, serta memperoleh berbagai informasi penting terkait layanan rumah sakit.
*Informasi yang tersedia pada halaman ini disusun untuk tujuan edukasi dan gambaran umum, sehingga tidak mencerminkan seluruh jenis layanan medis yang dapat dilakukan oleh masing-masing dokter. Untuk memastikan penanganan yang sesuai dengan kondisi kesehatan Anda, disarankan melakukan konsultasi langsung dengan dokter terkait.
Apabila Anda memiliki pertanyaan, saran, atau membutuhkan informasi lebih lanjut, silakan menghubungi call center kami di 0811-1900-2000.

