Kaki bengkak setelah operasi kanker rahim dapat terjadi akibat terganggunya sistem limfatik selama proses pengobatan. Pada banyak kasus, tindakan seperti pengangkatan kelenjar getah bening (limfadenektomi) atau terapi radiasi di area panggul dapat merusak maupun menyumbat pembuluh limfa, sehingga aliran cairan tidak berjalan optimal. Kondisi ini dapat menyebabkan penumpukan cairan yang dikenal sebagai limfedema, yaitu pembengkakan kronis yang umumnya muncul di area kaki atau selangkangan.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, RS Mandaya Puri menghadirkan Limfedema Center yang menyediakan penanganan komprehensif, mulai dari prosedur bypass limfatik hingga terapi rehabilitasi dengan teknologi compression devices guna membantu mengurangi pembengkakan dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Contents
Penyebab kaki bengkak setelah operasi kanker rahim
Operasi kanker rahim umumnya dilakukan untuk mengangkat jaringan kanker sekaligus mencegah penyebaran penyakit ke organ lain. Dalam banyak kasus, tindakan ini juga melibatkan pengangkatan kelenjar getah bening sebagai bagian dari proses penentuan stadium (staging) kanker.
Namun, prosedur tersebut dapat berdampak pada sistem limfatik yang berperan dalam mengalirkan cairan tubuh, sehingga berpotensi menyebabkan limfedema atau pembengkakan pada kaki.
Berikut beberapa penyebab utama dan faktor risikonya:
-
Pengangkatan kelenjar getah bening
Prosedur ini sering dilakukan pada kanker endometrium untuk mengetahui penyebaran kanker. Namun, pengangkatan kelenjar getah bening di area panggul atau sekitar aorta dapat menghilangkan “saluran pembuangan” cairan limfa, sehingga cairan menumpuk dan menyebabkan pembengkakan.
-
Terapi radiasi
Radiasi di area panggul dapat merusak pembuluh limfatik yang tersisa. Akibatnya, terjadi jaringan parut yang menghambat aliran cairan limfa dan meningkatkan risiko terjadinya limfedema.
-
Perkembangan penyakit
Dalam beberapa kasus, tumor itu sendiri atau kekambuhan kanker dapat menekan atau menyumbat pembuluh limfatik, sehingga aliran cairan terganggu dan memicu pembengkakan pada kaki.
Ciri-ciri limfedema
Ciri-ciri limfedema yang paling umum adalah pembengkakan. Kondisi ini dapat berkembang secara perlahan sehingga sering tidak disadari pada tahap awal, namun juga bisa muncul secara tiba-tiba. Selain pembengkakan, beberapa gejala lain yang dapat dirasakan meliputi:
- Pembuluh darah atau tendon di tangan dan kaki sulit terlihat atau dirasakan
- Ukuran lengan atau kaki tampak tidak sama
- Sendi terasa kaku atau kurang fleksibel
- Kulit terlihat bengkak atau kemerahan
- Terjadi pembengkakan pada lengan, kaki, atau area tubuh lainnya
- Area tubuh terasa berat atau penuh
- Pakaian atau perhiasan terasa lebih sempit dari biasanya
- Muncul sensasi perih atau gatal
- Kulit menjadi lebih tebal dari kondisi normal.
Jika gejala-gejala di atas terjadi pada Anda setelah menjalani operasi kanker rahim, itu bisa menandakan kondisi limfedema. Anda bisa datang ke Limfedema Center RS Mandaya Puri untuk berkonsultasi langsung dengan dr. Sara Ester Triatmoko, Sp.B.P.R.E., Subsp.M.O. (K), dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi dan estetik dengan subspesialis rekonstruksi bedah mikro serta onkoplasti. Nantinya, dr. Sara bisa melihat langsung kondisi pembengkakan yang terjadi pada diri Anda dan menentukan penanganan yang paling sesuai.
Penanganan kaki bengkak setelah operasi kanker rahim di RS Mandaya Puri
Penanganan pembengkakan kaki setelah operasi kanker rahim di Limfedema Center RS Mandaya Royal Puri dilakukan secara komprehensif melalui kolaborasi tim multidisiplin. Tim ini melibatkan dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi dan estetik dengan subspesialis rekonstruksi bedah mikro serta onkoplasti, yang bekerja sama dengan dokter spesialis rehabilitasi medik dan perawat untuk memberikan terapi yang terpadu serta sesuai dengan kondisi pasien.
1. Prosedur bypass limfatik
Salah satu metode dalam menangani limfedema di Limfedema Center RS Mandaya Royal Puri adalah prosedur bypass limfatik. Tindakan ini ditujukan bagi pasien yang mengalami pembengkakan akibat gangguan aliran cairan limfa, dengan tujuan menciptakan jalur baru agar cairan dapat mengalir kembali dengan lebih lancar.
Menurut dr. Sara, pasien yang mulai merasakan gejala pembengkakan setelah operasi kanker rahim sebaiknya segera memeriksakan diri agar mendapatkan penanganan sedini mungkin. Prosedur ini dilakukan dengan menyambungkan pembuluh limfatik ke pembuluh darah kecil (venula), sehingga aliran cairan limfa yang sebelumnya terhambat dapat kembali mengalir.
Tindakan ini dilakukan melalui teknik supermicrosurgery dengan tingkat presisi tinggi. Untuk menunjang ketelitian, prosedur dilakukan menggunakan mikroskop canggih Kinevo 900 yang memungkinkan visualisasi pembuluh berukuran sangat kecil secara lebih detail. Sebelum operasi, dokter akan melakukan pemetaan pembuluh limfatik menggunakan zat kontras untuk mengidentifikasi area yang mengalami gangguan. Hasil pemetaan ini menjadi panduan dalam menentukan titik bypass yang paling optimal.
Selanjutnya, pembuluh limfatik yang bermasalah akan dihubungkan dengan venula untuk membentuk jalur baru, sehingga cairan limfa dapat langsung dialirkan ke sistem vena. Dengan adanya jalur alternatif ini, pembengkakan dapat berkurang secara signifikan.
Prosedur ini dikenal sebagai Lymphaticovenular Anastomosis (LVA), yaitu teknik minimal invasif yang bertujuan mengatasi limfedema dengan mengalihkan aliran cairan limfa ke pembuluh vena kecil di sekitarnya.
2. Rehabilitasi


Setelah menjalani prosedur bypass limfatik, pasien umumnya akan melanjutkan terapi bersama tim rehabilitasi medik untuk mengoptimalkan hasil pengobatan. Salah satu metode yang digunakan adalah compression devices, yaitu alat berupa pompa pneumatik yang memberikan tekanan secara bergantian pada area yang mengalami pembengkakan.

Alat ini digunakan bersama selongsong khusus (sleeve) yang dipasang pada kaki pasien. Tekanan yang dihasilkan membantu menjaga aliran cairan limfa tetap lancar melalui pembuluh limfatik dan vena, sekaligus mencegah penumpukan cairan.
Selain membantu mengurangi pembengkakan, penggunaan compression pump juga berperan dalam menurunkan risiko komplikasi limfedema serta mendukung proses pemulihan pasien agar berjalan lebih optimal.
Tim dokter di Limfedema Center RS Mandaya Royal Puri
Penanganan limfedema di RS Mandaya Royal Puri didukung oleh tenaga medis profesional dari berbagai disiplin ilmu yang berpengalaman dalam bidangnya. Kolaborasi ini memungkinkan pasien mendapatkan perawatan yang komprehensif dan sesuai dengan kondisi masing-masing. Berikut adalah tim dokter yang terlibat:
1. dr. Sara Ester Triatmoko, Sp.B.P.R.E., Subsp.M.O. (K)

dr. Sara Ester Triatmoko, Sp.B.P.R.E., Subsp.M.O. (K) merupakan dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi dan estetik dengan subspesialis rekonstruksi bedah mikro serta onkoplasti. Perannya tidak hanya berfokus pada aspek estetika, tetapi juga pada pemulihan fungsi tubuh pasien, seperti rekonstruksi pascaoperasi kanker, perbaikan jaringan akibat cedera, penanganan luka bakar, hingga koreksi kelainan bawaan. Dengan dukungan teknik bedah mikro yang presisi, tindakan yang dilakukan bertujuan memperbaiki struktur tubuh sekaligus meningkatkan kualitas hidup pasien secara menyeluruh.
dr. Sara Ester Triatmoko, Sp.B.P.R.E., Subsp.M.O. (K) bisa ditemui di RS Mandaya Royal Puri pada:
- Selasa: 17.00 – 19.30 WIB
- Kamis: 17.00 – 19.30 WIB.
2. dr. Andre Sugiyono, Sp.KFR

dr. Andre Sugiyono,Sp.KFR adalah dokter spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi yang menempuh pendidikan di Universitas Katolik Atma Jaya dan Universitas Indonesia. Ia memiliki kompetensi dalam berbagai metode terapi, seperti elektroterapi, fisioterapi, hidroterapi, hingga rehabilitasi pascastroke. Fokus layanannya adalah membantu pasien memulihkan fungsi tubuh serta meningkatkan kualitas hidup setelah mengalami gangguan kesehatan.
dr. Andre Sugiyono,Sp.KFR bisa ditemui di RS Mandaya Royal Puri pada:
- Senin: 08.30 – 15.30 WIB
- Selasa: 08.30 – 15.30 WIB
- Rabu: 08.30 – 15.30 WIB
- Kamis: 08.30 – 15.30 WIB
- Jumat: 08.30 – 15.30 WIB
- Sabtu: 14.30 – 19.00 WIB.
3. dr. Eugene Nathania, Sp.KFR

dr. Eugene Nathania, Sp.KFR merupakan dokter spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Medik lulusan Universitas Indonesia. Ia menguasai berbagai teknik terapi, termasuk rehabilitasi obstetri, taping, manual therapy, hingga dry needling. Selain itu, ia juga berpengalaman dalam menangani nyeri muskuloskeletal serta membantu pasien mengembalikan fungsi dan mobilitas tubuh pasca cedera atau kondisi medis tertentu.
dr. Eugene Nathania, Sp.KFR bisa ditemui di RS Mandaya Royal Puri pada:
- Senin: 08.00 – 14.00 WIB
- Selasa: 08.00 – 14.00 WIB
- Rabu: 08.00 – 14.00 WIB
- Kamis: 08.00 – 14.00 WIB
- Jumat: 08.00 – 14.00 WIB
- Sabtu: 08.00 – 14.00 WIB.
4. dr. Johanes Putra, Sp.KFR

dr. Johanes Putra, Sp.KFR adalah dokter spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Medik yang menyelesaikan pendidikan di Universitas Atma Jaya dan Universitas Indonesia. Ia memiliki keahlian dalam rehabilitasi muskuloskeletal, termasuk penanganan gangguan pada otot, tulang, dan sendi, serta terapi manajemen nyeri intervensi untuk membantu meredakan keluhan pasien secara efektif.
dr. Johanes Putra, Sp.KFR bisa ditemui di RS Mandaya Royal Puri pada:
- Senin: 14.30 – 20.00 WIB
- Selasa: 14.30 – 20.00 WIB
- Rabu: 14.30 – 20.00 WIB
- Kamis: 14.30 – 20.00 WIB
- Jumat: 14.30 – 20.00 WIB
- Sabtu: 08.00 – 14.00 WIB.
Selain didukung oleh tim dokter dari berbagai spesialisasi, layanan limfedema di RS Mandaya Royal Puri juga diperkuat oleh tenaga perawat yang terlatih dan berpengalaman. Dengan pendekatan yang terintegrasi, pasien dapat memperoleh penanganan yang optimal dan menyeluruh.
Untuk mempermudah proses kunjungan ke RS Mandaya Royal Puri, pasien dapat menggunakan fitur Chat melalui WhatsApp, Book Appointment, atau aplikasi Care Dokter yang tersedia di Google Play dan App Store. Melalui layanan ini, pasien dapat mengatur jadwal konsultasi, melihat nomor antrean, serta memperoleh berbagai informasi penting terkait layanan rumah sakit.
*Informasi yang tersedia pada halaman ini disusun untuk tujuan edukasi dan gambaran umum, sehingga tidak mencerminkan seluruh jenis layanan medis yang dapat dilakukan oleh masing-masing dokter. Untuk memastikan penanganan yang sesuai dengan kondisi kesehatan Anda, disarankan melakukan konsultasi langsung dengan dokter terkait.
Apabila Anda memiliki pertanyaan, saran, atau membutuhkan informasi lebih lanjut, silakan menghubungi call center kami di 0811-1900-2000.

