Cedera lutut merupakan salah satu masalah yang paling sering terjadi saat berolahraga, baik pada atlet profesional maupun individu yang aktif secara fisik. Kondisi ini dapat terjadi akibat gerakan yang salah, benturan, atau penggunaan sendi secara berlebihan, dan jika tidak ditangani dengan tepat dapat memperburuk kerusakan pada lutut. Oleh karena itu, penting untuk memahami langkah penanganan dan pertolongan pertama yang benar sejak awal.
dr. Paulus Ronald Hibono, Sp.OT (K) Hip & Knee, dokter spesialis ortopedi konsultan hip & knee di RS Mandaya Royal Puri, menjelaskan bagaimana cara mengenali cedera lutut akibat olahraga serta langkah-langkah awal yang dapat dilakukan untuk mencegah kondisi menjadi lebih serius.

Contents
Penyebab umum cedera lutut saat olahraga
Menurut dr. Paulus, cedera lutut paling sering terjadi saat seseorang berolahraga seperti sepak bola atau basket, terutama ketika terjadi gerakan memutar secara tiba-tiba, benturan, atau tekel langsung pada area lutut. Kondisi ini dapat menyebabkan cedera pada berbagai struktur penting di dalam lutut.
Beliau menjelaskan bahwa lutut memiliki beberapa ligamen utama yang berfungsi menjaga stabilitas sendi, yaitu MCL (Medial Collateral Ligament) di bagian dalam, LCL (Lateral Collateral Ligament) di bagian luar, serta ACL (Anterior Cruciate Ligament) dan PCL (Posterior Cruciate Ligament) yang berada di bagian tengah lutut. Selain itu, terdapat juga tendon patella dan quadriceps di bagian depan lutut yang berperan dalam pergerakan kaki.
Menurut dr. Paulus, cedera bisa terjadi pada salah satu ligamen saja, namun tidak jarang juga berupa kombinasi cedera yang melibatkan beberapa struktur sekaligus, tergantung dari mekanisme trauma yang dialami.
Baca juga: 10 Jenis Cedera Lutut dan Pengobatannya
Pertolongan pertama cedera lutut di lapangan
Menurut dr. Paulus, saat cedera lutut terjadi di lapangan, penanganan awal yang tepat sangat penting untuk mencegah kondisi menjadi lebih parah. Ia menekankan agar tidak melakukan manipulasi berlebihan pada lutut yang cedera. Memijat atau memaksakan lutut untuk tetap bergerak justru dapat memperparah peradangan dan kerusakan jaringan.
Adapun langkah awal yang dianjurkan menurut dr. Paulus antara lain:
- Mengistirahatkan lutut dan menghentikan aktivitas
- Menggunakan alat bantu atau penyangga untuk melindungi lutut
- Memberikan kompres es untuk mengurangi bengkak dan nyeri
- Menghindari tekanan atau beban berlebih pada lutut.
Menurut dr. Paulus, langkah-langkah ini bertujuan untuk meredakan gejala awal, namun belum cukup untuk memastikan jenis cedera yang terjadi.
Baca juga: 4 Rekomendasi Dokter Cedera ACL di Jakarta dan Tangerang
Pentingnya pemeriksaan lanjutan untuk diagnosis
Lebih lanjut, menurut dr. Paulus, pemeriksaan lanjutan sangat diperlukan untuk mengetahui secara pasti bagian mana yang mengalami cedera. Pemeriksaan rontgen umumnya hanya dapat menunjukkan kondisi tulang, seperti ada atau tidaknya patah tulang.
Namun, menurut dr. Paulus, banyak struktur penting pada lutut seperti ligamen, meniskus, dan jaringan lunak lainnya tidak dapat terlihat melalui rontgen. Oleh karena itu, diperlukan pemeriksaan lanjutan seperti MRI (Magnetic Resonance Imaging) untuk memberikan gambaran yang lebih detail mengenai kondisi jaringan lunak di dalam lutut.
Dengan MRI, menurut dr. Paulus, dokter dapat mengetahui secara pasti lokasi dan tingkat keparahan cedera, sehingga penanganan dapat dilakukan secara lebih tepat dan optimal.

Perkembangan penanganan cedera lutut: dari operasi terbuka ke artroskopi
Di masa lalu penanganan cedera lutut umumnya dilakukan dengan metode operasi terbuka, di mana dokter harus membuka area lutut secara luas untuk melihat dan memperbaiki kerusakan jaringan.
Namun, seiring perkembangan teknologi medis, metode artroskopi kini telah menjadi standar dalam penanganan cedera lutut modern.
Artroskopi adalah prosedur bedah minimal invasif yang dilakukan dengan menggunakan kamera kecil yang dimasukkan ke dalam sendi lutut melalui sayatan kecil. Kamera ini memungkinkan dokter melihat kondisi bagian dalam lutut secara langsung di layar monitor dan melakukan tindakan perbaikan secara presisi.
Keunggulan artroskopi dibandingkan operasi terbuka antara lain:
- Sayatan lebih kecil
- Risiko komplikasi lebih rendah
- Nyeri pasca operasi lebih minimal
- Waktu pemulihan lebih cepat.
Dengan metode ini, menurut dr. Paulus, pasien dapat kembali beraktivitas lebih cepat dan hasil pengobatan menjadi lebih optimal.
Baca juga: Penyebab Lutut Bengkak dan Cara Mengobatinya
Profil dr. Paulus dan jadwal prakteknya di RS Mandaya Royal Puri

dr. Paulus Ronald Hibono, Sp.OT (K) Hip & Knee merupakan dokter spesialis ortopedi dengan subspesialisasi pada pinggul dan lutut yang memiliki pengalaman luas dalam melakukan operasi penggantian sendi lutut menggunakan teknologi robotik CORI Robotic System.
Selain keahliannya dalam prosedur tersebut, dr. Paulus juga dipercaya sebagai satu-satunya perwakilan dari Indonesia yang berpartisipasi dalam CORI Robotic Summit di Jerman, sebuah forum internasional yang membahas perkembangan terbaru dalam bedah ortopedi berbasis robotik.
Dalam praktiknya, dr. Paulus turut menangani berbagai masalah ortopedi, antara lain:
- Cedera Anterior Cruciate Ligament injury (ACL)
- Kista pada lutut
- Osteoarthritis
- Robekan meniskus dengan teknik artroskopi
- Fraktur atau patah tulang.
Untuk mempermudah kunjungan Anda ke Mandaya Royal Hospital Puri, gunakan fitur Chat melalui Whatsapp, Book Appointment, atau aplikasi Care Dokter yang bisa di-download di Google Play dan App Store untuk mempermudah kunjungan, melihat nomor antrian, dan mendapatkan informasi lengkap lainnya.
*Informasi yang tersedia pada halaman ini disusun untuk tujuan edukasi dan gambaran umum, sehingga tidak mencerminkan seluruh jenis layanan medis yang dapat dilakukan oleh masing-masing dokter. Untuk memastikan penanganan yang sesuai dengan kondisi kesehatan Anda, disarankan melakukan konsultasi langsung dengan dokter terkait.
Apabila Anda memiliki pertanyaan, saran, atau membutuhkan informasi lebih lanjut, silakan menghubungi call center kami di 0811-1900-2000.

