Mengenal Terapi Target dan Imunoterapi untuk Kanker, Penjelasan dari Dokter KHOM dr. Nia Sp.PD, Subsp.H Onk. M (K), RS Mandaya Puri

Mengenal Terapi Target dan Imunoterapi untuk Kanker, Penjelasan dari Dokter KHOM dr. Nia Sp.PD, Subsp.H Onk. M (K), RS Mandaya Puri

Perkembangan pengobatan kanker terus mengalami kemajuan dari waktu ke waktu. Jika dulu kemoterapi menjadi terapi sistemik yang paling umum digunakan untuk berbagai jenis kanker, kini tersedia pilihan pengobatan lain yang lebih spesifik, seperti terapi target dan imunoterapi. Kehadiran kedua terapi ini membuka peluang penanganan kanker yang lebih personal sesuai karakteristik masing-masing pasien dan jenis kankernya.

Menurut dr. Nia Noviantri Siregar, Sp.PD, Subsp.H Onk. M (K), dokter spesialis penyakit dalam konsultan hematologi-onkologi medik (KHOM) RS Mandaya Royal Puri, kemoterapi sampai saat ini masih digunakan karena efektif untuk banyak jenis kanker. Namun, kemoterapi juga dikenal memiliki efek samping yang cukup besar karena bekerja menyerang sel yang tumbuh cepat, termasuk sebagian sel normal di tubuh.

Karena itu, para peneliti terus mengembangkan terapi kanker yang lebih spesifik agar efek sampingnya dapat diminimalkan. Dari sinilah muncul terapi target dan imunoterapi yang kini semakin banyak digunakan dalam pengobatan kanker modern.

Konsultasi dokter

Apa itu terapi target dan imunoterapi?

Berikut ini adalah penjelasan mengenai apa itu terapi target dan imunoterapi menurut penjelasan dr. Nia:

  • Terapi target

Berdasarkan penjelasan dr. Nia, terapi target adalah pengobatan kanker yang bekerja secara lebih spesifik terhadap sinyal atau mekanisme tertentu yang dimiliki sel kanker.

Berbeda dengan kemoterapi yang menyerang sel secara luas, terapi target dirancang untuk mengenali target tertentu pada sel kanker, seperti reseptor atau mutasi gen tertentu. Karena lebih spesifik, terapi ini umumnya memiliki efek yang lebih terarah dibandingkan kemoterapi konvensional.

Contohnya pada kanker payudara. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan kanker didominasi oleh reseptor hormon atau HER-2, maka pasien dapat diberikan terapi hormon atau terapi anti HER-2 sebagai terapi target.

Selain itu, pada kanker paru dengan mutasi EGFR positif, terapi utama yang diberikan biasanya adalah obat anti-EGFR. Dalam kondisi seperti ini, kemoterapi masih bisa digunakan, tetapi bukan menjadi pilihan utama.

Menurut dr. Nia, jika dokter sudah mengetahui mekanisme sinyal yang mendasari pertumbuhan kanker dan tersedia obat yang sesuai, maka terapi target menjadi pilihan pengobatan yang dapat dipertimbangkan. Dalam beberapa kasus, terapi target juga dapat dikombinasikan dengan kemoterapi agar hasil pengobatan lebih efektif.

Baca juga: 9 Jenis Pengobatan Kanker yang Dapat Dilakukan

  • Imunoterapi

Selain terapi target, ada juga imunoterapi yang saat ini semakin berkembang dalam pengobatan kanker.

Jika terapi target dan kemoterapi bekerja dengan obat yang langsung menyerang sel kanker, maka imunoterapi memiliki cara kerja yang berbeda. Berdasarkan penjelasan dr. Nia, imunoterapi bertujuan untuk mengaktifkan kembali sistem imun pasien agar mampu mengenali dan melawan sel kanker.

Sel kanker diketahui memiliki kemampuan untuk “mengelabui” sistem imun tubuh. Padahal, secara alami sistem imun seharusnya mengenali kanker sebagai benda asing dan menghancurkannya. Namun, kanker dapat membuat sistem imun menjadi tidak mengenali keberadaan sel kanker sehingga tubuh tidak memberikan respons perlawanan yang optimal.

“Jadi, (sel) kanker tuh pinter banget, bukan hanya bisa menyebar ke mana-mana, tapi dia membuat sistem imun pasiennya jadi tidak kenal (dengan benda asing seperti kanker). Kanker itu kan benda asing, harusnya sistem imun kita membunuh sel kanker itu. Tapi, kanker karena banyak banget reseptornya, akhirnya kena ke imun kita, akhirnya imun kita nggak mengenali, diem aja,” kata dr. Nia. 

“Tujuan imunoterapi itu adalah membangkitkan kembali biar imun kita mengenali bahwa kanker itu sebagai musuh dan benda asing. Akhirnya imun kita bisa bunuh sel kanker, harapannya gitu,” ucap dr. Nia. 

Meski menjanjikan, imunoterapi tidak bisa diberikan pada semua pasien kanker. Menurut dr. Nia, ada syarat tertentu yang perlu diperiksa terlebih dahulu sebelum pasien menjalani imunoterapi.

Dokter biasanya akan memeriksa apakah terdapat reseptor tertentu yang menjadi target imunoterapi, seperti PD-1 atau PD-L1. Pemeriksaan ini penting untuk menentukan apakah imunoterapi berpotensi memberikan manfaat bagi pasien.

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan reseptor tersebut negatif, maka imunoterapi kemungkinan tidak akan memberikan hasil yang optimal. Karena itu, pemilihan terapi kanker harus dilakukan secara personal berdasarkan kondisi masing-masing pasien dan karakteristik sel kankernya.

Konsultasi dokter

Baca juga: Mengenal Kemoterapi dari Kacamata Dokter KHOM: dr. Nia Sp.PD, Subsp.H Onk. M(K) di RS Mandaya Royal Puri

Pentingnya penentuan terapi kanker yang tepat

Pemilihan terapi kanker tidak bisa disamakan pada setiap pasien. Jenis kanker, stadium penyakit, mutasi genetik, reseptor tertentu, hingga kondisi tubuh pasien menjadi faktor penting dalam menentukan pengobatan yang paling sesuai.

Karena itu, pasien kanker biasanya memerlukan pemeriksaan yang cukup detail sebelum terapi dimulai. Pemeriksaan ini membantu dokter memahami karakteristik kanker secara lebih spesifik sehingga terapi yang dipilih dapat bekerja lebih optimal.

Dengan pendekatan yang lebih personal, terapi kanker diharapkan tidak hanya membantu meningkatkan efektivitas pengobatan, tetapi juga membantu menjaga kualitas hidup pasien selama menjalani terapi.

Profil, keahlian, dan jadwal praktek dr. Nia di RS Mandaya Royal Puri

dr. Nia Noviantri Siregar, Sp.PD, Subsp.H Onk. M(K) merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan subspesialis hematologi dan onkologi medik di RS Mandaya Royal Puri. Beliau berpengalaman dalam menangani berbagai jenis kanker melalui terapi sistemik, termasuk kemoterapi, terapi target, hingga imunoterapi.

Dokter lulusan spesialis penyakit dalam Universitas Indonesia ini juga aktif tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia (IDI) serta Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI).

Bagi Anda yang ingin berkonsultasi mengenai pengobatan kanker, termasuk kemoterapi dan terapi sistemik lainnya, dr. Nia dapat ditemui di RS Mandaya Royal Puri.

dr. Nia Noviantri Siregar, Sp.PD, Subsp.H Onk. M(K) bisa ditemui di RS Mandaya Royal Puri pada:

  • Selasa: 15.00 – 18.00 WIB
  • Jumat: 17.00 – 20.00 WIB.

Untuk mempermudah kunjungan Anda ke Mandaya Royal Hospital Puri, gunakan fitur Chat melalui Whatsapp, Book Appointment, atau aplikasi Care Dokter yang bisa di-download di Google Play dan App Store untuk mempermudah kunjungan, melihat nomor antrian, dan mendapatkan informasi lengkap lainnya.

*Informasi yang tersedia pada halaman ini disusun untuk tujuan edukasi dan gambaran umum, sehingga tidak mencerminkan seluruh jenis layanan medis yang dapat dilakukan oleh masing-masing dokter. Untuk memastikan penanganan yang sesuai dengan kondisi kesehatan Anda, disarankan melakukan konsultasi langsung dengan dokter terkait.

Apabila Anda memiliki pertanyaan, saran, atau membutuhkan informasi lebih lanjut, silakan menghubungi call center kami di 0811-1900-2000.

Konsultasi dokter

Need Help? Chat with us!
Start a Conversation
Hi! Click one of our members below to chat on WhatsApp
We usually reply in a few minutes