Mengenal Kemoterapi dari Kacamata Dokter KHOM: dr. Nia Sp.PD, Subsp.H Onk. M(K) di RS Mandaya Royal Puri

Mengenal Kemoterapi dari Kacamata Dokter KHOM: dr. Nia Sp.PD, Subsp.H Onk. M(K) di RS Mandaya Royal Puri

Kanker adalah salah satu penyakit yang penanganannya membutuhkan pendekatan menyeluruh dan terencana. Salah satu modalitas pengobatan yang paling dikenal adalah kemoterapi. Apa sebenarnya kemoterapi itu? Bagaimana obatnya diberikan? Dan apakah efek sampingnya selalu seberat yang dibayangkan?

dr. Nia Noviantri Siregar, Sp.PD, Subsp.H Onk. M(K), dokter spesialis penyakit dalam subspesialis penyakit darah dan onkologi medik di RS Mandaya Royal Puri, menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara tuntas. 

Konsultasi dokter

Apa itu kemoterapi?

Menurut dr. Nia, pendekatan pengobatan kanker secara umum terbagi menjadi dua kategori besar. Pertama adalah terapi lokal, seperti operasi dan radioterapi, yang berfokus pada tumor di lokasi asalnya. Kedua adalah terapi sistemik, yaitu pengobatan yang bekerja tidak hanya pada sel kanker di titik primernya, tetapi juga dapat menjangkau seluruh tubuh, termasuk potensi efek sampingnya terhadap organ-organ lain.

Kemoterapi merupakan salah satu bentuk terapi sistemik yang termasuk dalam golongan agen sitotoksik yang bekerja dengan cara membunuh sel-sel kanker. Mekanismenya berkaitan erat dengan siklus sel. Setiap sel dalam tubuh memiliki siklus hidup yang terdiri dari beberapa fase, dan obat-obat kemoterapi bekerja dengan mengganggu fase-fase tertentu dalam siklus tersebut, sehingga sel kanker tidak dapat berkembang biak dan akhirnya mati.

Bagaimana cara pemberian obat kemoterapi?

Banyak orang mengasosiasikan kemoterapi dengan jarum infus dan kantong obat yang menetes perlahan. Menurut dr. Nia, pemberian melalui jalur intravena masih menjadi metode yang paling umum digunakan hingga saat ini. Jalur infus sendiri bisa melalui beberapa akses, antara lain:

  • Perifer — akses vena biasa melalui pembuluh darah di lengan, merupakan yang paling sering digunakan karena relatif mudah dan praktis
  • Chemoport — port khusus yang ditanam di bawah kulit, umumnya digunakan untuk pasien yang menjalani kemoterapi jangka panjang
  • CVC (Central Venous Catheter) — kateter yang dimasukkan melalui pembuluh darah besar, biasanya digunakan pada kondisi tertentu

Namun, dr. Nia menjelaskan bahwa seiring perkembangan ilmu kedokteran, kemoterapi kini tidak lagi terbatas pada pemberian lewat infus. Ada beberapa cara lain yang juga dapat digunakan, tergantung jenis kanker dan obat yang dipilih, di antaranya:

  • Oral (diminum) — beberapa jenis obat kemoterapi tersedia dalam bentuk tablet atau kapsul.
  • Topikal (oles) — diaplikasikan langsung pada permukaan kulit untuk kanker kulit tertentu.
  • Intratekal — disuntikkan ke dalam cairan tulang belakang.
  • Intravesikal — dimasukkan langsung ke dalam kandung kemih.
  • Intra-arterial — diberikan melalui pembuluh darah arteri menuju area tumor tertentu.

Apakah semua pasien kemoterapi mengalami efek samping yang sama?

Ini adalah salah satu pertanyaan yang paling sering muncul dari pasien. Menurut dr. Nia, jawabannya adalah tidak selalu. Efek samping kemoterapi pada dasarnya terbagi menjadi dua kelompok, yaitu efek samping umum dan efek samping yang bersifat spesifik pada organ tertentu.

Efek samping umum adalah yang paling dikenal luas dan dapat muncul pada hampir semua jenis obat kemoterapi, meliputi:

  • Mual dan muntah — salah satu keluhan yang paling sering dilaporkan pasien.
  • Sariawan — akibat sel-sel lapisan mukosa mulut yang ikut terdampak.
  • Rambut rontok — terjadi karena folikel rambut termasuk sel yang aktif membelah.
  • Malaise atau lemas — kondisi tubuh yang terasa lelah secara menyeluruh.

Di sisi lain, dr. Nia juga menjelaskan bahwa beberapa obat kemoterapi memiliki efek samping yang lebih spesifik dan menyasar organ tertentu, misalnya:

  • Cisplatin — berpotensi membebani fungsi ginjal, sehingga pasien perlu mendapat asupan cairan yang cukup banyak selama pemberian.
  • Golongan antrasiklin seperti doxorubicin — memiliki dampak terhadap jantung, sehingga pasien wajib menjalani pemeriksaan ekokardiografi (Echo) sebelum memulai kemoterapi.
  • Bleomycin — dapat berpengaruh pada fungsi paru-paru.

Meski begitu, dr. Nia menegaskan bahwa tidak semua pasien pasti mengalami efek samping tersebut. Setiap obat memiliki persentase kemungkinan efek samping yang berbeda-beda, dan perkembangan obat-obat suportif saat ini pun sudah semakin maju. Obat antimual dan antimuntah kini jauh lebih efektif, begitu pula penanganan untuk kondisi seperti penurunan kadar leukosit atau hemoglobin yang kerap menyertai kemoterapi. Dengan penanganan yang tepat, efek samping kemoterapi dapat diminimalkan secara signifikan.

Konsultasi dokter

Bagaimana dokter menentukan dan meracik obat kemoterapi?

Menurut dr. Nia, pemilihan obat kemoterapi tidak dilakukan secara sembarangan. Untuk jenis-jenis kanker yang umum, seperti kanker paru, kanker usus besar, atau kanker payudara, sudah tersedia panduan pengobatan, baik dari lembaga internasional maupun nasional, yang merekomendasikan regimen kemoterapi berdasarkan jenis dan karakteristik kankernya.

Namun, dr. Nia menekankan bahwa panduan tersebut hanyalah titik awal. Sebelum menentukan regimen yang tepat, dokter perlu mempertimbangkan beberapa faktor penting, antara lain:

  • Jenis dan tipe sel kanker — karena kanker yang sama pun bisa memiliki karakteristik sel yang berbeda.
  • Stadium kanker — menentukan seberapa agresif pendekatan pengobatan yang diperlukan.
  • Kondisi fisik dan performa pasien — apakah pasien masih mampu menjalankan aktivitas sehari-hari secara mandiri.
  • Fungsi organ-organ vital — terutama jantung, ginjal, dan hati, yang dapat memengaruhi pilihan dan dosis obat.

Dr. Nia mencontohkan, jika panduan merekomendasikan kombinasi tiga obat, namun kondisi pasien tidak memungkinkan, misalnya karena usia lanjut, kondisi fisik yang lemah, atau fungsi jantung yang menurun, maka dokter akan menyesuaikan regimennya, baik dengan mengurangi jumlah obat maupun memodifikasi dosisnya.

Itulah mengapa, pemeriksaan sebelum sesi kemoterapi pertama biasanya berlangsung lebih lama dan lebih menyeluruh. Dokter perlu memastikan bahwa pasien benar-benar layak menjalani kemoterapi, sekaligus menentukan pendekatan yang paling sesuai dengan kondisinya demi hasil pengobatan yang optimal dengan risiko yang terukur.

Konsultasi dengan dr. Nia terkait kemoterapi di RS Mandaya Royal Puri

dr. Nia Noviantri Siregar, Sp.PD, Subsp.H Onk. M(K) adalah dokter spesialis penyakit dalam subspesialis penyakit darah dan onkologi medik di RS Mandaya Royal Puri yang ahli menangani berbagai macam kanker dengan terapi sistemik, salah satunya kemoterapi. 

Dokter yang menamatkan pendidikan spesialis penyakit dalam di Universitas Indonesia ini juga tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI).

Untuk Anda yang ingin berkonsultasi seputar pengobatan kanker seperti kemoterapi, jangan ragu untuk bertemu dengan dr. Nia di RS Mandaya Royal Puri. 

dr. Nia Noviantri Siregar, Sp.PD, Subsp.H Onk. M(K) bisa ditemui di RS Mandaya Royal Puri pada:

  • Selasa: 17.00 – 20.00 WIB
  • Jumat: 17.00 – 20.00 WIB.

Untuk mempermudah kunjungan Anda ke Mandaya Royal Hospital Puri, gunakan fitur Chat melalui Whatsapp, Book Appointment, atau aplikasi Care Dokter yang bisa di-download di Google Play dan App Store untuk mempermudah kunjungan, melihat nomor antrian, dan mendapatkan informasi lengkap lainnya.

*Informasi yang tersedia pada halaman ini disusun untuk tujuan edukasi dan gambaran umum, sehingga tidak mencerminkan seluruh jenis layanan medis yang dapat dilakukan oleh masing-masing dokter. Untuk memastikan penanganan yang sesuai dengan kondisi kesehatan Anda, disarankan melakukan konsultasi langsung dengan dokter terkait.

Apabila Anda memiliki pertanyaan, saran, atau membutuhkan informasi lebih lanjut, silakan menghubungi call center kami di 0811-1900-2000.

Konsultasi dokter

Need Help? Chat with us!
Start a Conversation
Hi! Click one of our members below to chat on WhatsApp
We usually reply in a few minutes