Ngompol atau tidak mampu menahan buang air kecil setelah stroke merupakan kondisi yang cukup sering terjadi. Hal ini disebabkan karena stroke dapat merusak bagian otak yang berfungsi mengatur dan mengendalikan kerja kandung kemih. Akibatnya, penderita dapat mengalami kesulitan mengontrol keinginan buang air kecil sehingga urine keluar tanpa disadari.
Selain menyebabkan ngompol, stroke juga dapat memengaruhi fungsi kandung kemih dengan cara lain, seperti membuat penderita sulit mengosongkan kandung kemih secara tuntas (retensi urine). Kondisi ini sebaiknya tidak diabaikan karena dapat meningkatkan risiko infeksi saluran kemih, batu saluran kemih, hingga iritasi atau kerusakan pada kulit akibat paparan urine yang terus-menerus.

Salah satu dokter yang dapat menangani ngompol setelah stroke adalah dokter spesialis urologi konsultan fungsional, perempuan, dan neuro-urologi. Di RS Mandaya Royal Puri, pasien dapat berkonsultasi dengan dr. Andika Afriansyah, Sp.U, Subsp. FFN (K), MARS, yang memiliki keahlian dalam menangani berbagai gangguan fungsi saluran kemih akibat kelainan sistem saraf (neuro-urologi), termasuk inkontinensia urine atau ngompol setelah stroke.
Contents
Apa yang menyebabkan sering ngompol setelah stroke?
Ngompol setelah stroke umumnya terjadi karena stroke dapat mengganggu fungsi otak dan sistem saraf yang berperan dalam mengendalikan kandung kemih. Selain itu, keterbatasan fisik maupun gangguan kognitif setelah stroke juga dapat membuat seseorang kesulitan menahan atau mengontrol buang air kecil.
Beberapa penyebab sering ngompol setelah stroke meliputi:
1. Kerusakan pada bagian otak yang mengendalikan kandung kemih
Stroke dapat merusak area otak yang bertugas mengatur proses buang air kecil. Akibatnya, sinyal antara otak dan kandung kemih menjadi terganggu sehingga penderita sulit menahan keinginan buang air kecil. Kondisi ini dapat menyebabkan urine keluar tanpa disadari (inkontinensia urine atau ngompol).
Pada sebagian pasien, stroke juga dapat menyebabkan kandung kemih sulit dikosongkan (retensi urine). Meski biasanya bersifat sementara, kondisi ini tetap memerlukan evaluasi oleh dokter.
2. Gangguan gerak, komunikasi, dan fungsi berpikir
Dampak stroke, seperti kelemahan anggota gerak atau kesulitan berjalan, dapat membuat penderita tidak sempat mencapai toilet saat muncul keinginan buang air kecil. Akibatnya, urine dapat keluar sebelum penderita tiba di toilet.
Selain itu, gangguan pada tangan dapat menyulitkan seseorang membuka atau menurunkan pakaian saat ingin buang air kecil. Gangguan bicara (afasia) juga dapat membuat penderita kesulitan meminta bantuan, sedangkan gangguan daya ingat dan fungsi berpikir dapat menyebabkan penderita terlambat menyadari bahwa kandung kemih sudah penuh.
3. Terlalu lama duduk atau berbaring
Pasien stroke sering kali harus menjalani masa pemulihan dengan aktivitas yang terbatas. Duduk atau berbaring dalam waktu lama dapat memperburuk gangguan kontrol kandung kemih, terutama pada orang yang sebelumnya sudah memiliki masalah berkemih ringan. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko ngompol selama proses pemulihan setelah stroke.
Baca juga: 8 Penyebab Sering Ngompol Pada Dewasa dan Lansia
Tips mengelola kondisi sering ngompol pada pasien stroke
Selain menjalani pengobatan sesuai penyebabnya, beberapa langkah berikut dapat membantu mengurangi keluhan ngompol setelah stroke dan memudahkan aktivitas sehari-hari:
- Perhatikan pola makan dan minum. Beberapa jenis makanan dan minuman dapat membuat kandung kemih lebih aktif. Misalnya, kopi, teh, minuman berkafein, alkohol, atau makanan pedas dapat meningkatkan keinginan untuk buang air kecil pada sebagian orang.
- Atur waktu dan jumlah asupan cairan. Tetap minum dalam jumlah yang cukup, tetapi cobalah mengurangi konsumsi cairan beberapa jam sebelum tidur apabila sering ngompol pada malam hari. Jangan mengurangi minum secara berlebihan karena dapat meningkatkan risiko dehidrasi.
- Gunakan pakaian yang mudah dilepas. Pilih pakaian yang praktis sehingga Anda dapat lebih cepat menggunakan toilet ketika muncul keinginan buang air kecil.
- Pastikan toilet mudah dijangkau. Jika memungkinkan, atur lingkungan rumah agar akses menuju toilet lebih mudah dan aman, terutama bagi penyintas stroke yang masih mengalami gangguan berjalan atau keseimbangan.
Apabila keluhan ngompol setelah stroke tidak kunjung membaik atau semakin sering terjadi, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter. Dokter akan mencari penyebab yang mendasarinya dan menentukan penanganan yang paling sesuai agar fungsi kandung kemih dapat membaik serta kualitas hidup pasien tetap terjaga.
Baca juga: Cara Mengatasi Lansia yang Sering Ngompol
Dokter yang menangani kondisi sering ngompol setelah stroke di RS Mandaya Puri

Ngompol pada pasien stroke dapat ditangani oleh beberapa dokter sesuai penyebabnya. Apabila keluhan terjadi akibat gangguan saraf yang memengaruhi fungsi kandung kemih, salah satu dokter yang berperan dalam penanganannya adalah dokter spesialis urologi subspesialis neuro-urologi.
Neuro-urologi merupakan cabang subspesialis urologi yang berfokus pada diagnosis dan penanganan gangguan saluran kemih akibat kelainan atau gangguan pada sistem saraf. Bidang ini berperan penting dalam menangani berbagai masalah berkemih, seperti inkontinensia urine (ngompol) dan kandung kemih neurogenik (neurogenic bladder), sehingga pasien dapat memperoleh penanganan yang tepat untuk membantu memperbaiki fungsi berkemih sekaligus meningkatkan kualitas hidup.
Di RS Mandaya Royal Puri, pasien yang mengalami ngompol setelah stroke dapat berkonsultasi dengan dr. Andika Afriansyah, Sp.U, Subsp. FFN (K), MARS, dokter spesialis urologi konsultan fungsional, perempuan, dan neuro-urologi. Beliau memiliki keahlian dalam menangani berbagai gangguan fungsi saluran kemih yang berkaitan dengan kelainan sistem saraf, termasuk inkontinensia urine (ngompol) dan gangguan kandung kemih akibat stroke.
dr. Andika menyelesaikan pendidikan dokter umum di Universitas Indonesia pada tahun 2008. Beliau kemudian melanjutkan pendidikan Dokter Spesialis Urologi di Universitas Indonesia dan lulus pada tahun 2020. Untuk memperdalam kompetensinya, dr. Andika menempuh pendidikan Konsultan Urologi Fungsional, Perempuan, dan Neuro-Urologi di Kolegium Urologi Indonesia yang diselesaikan pada tahun 2022.
Keahlian dr. Andika Afriansyah, Sp.U, Subsp. FFN (K), MARS
Sebagai dokter spesialis urologi subspesialis fungsional, perempuan, dan neuro-urologi, dr. Andika menangani berbagai kondisi berikut:
- Gangguan saluran kemih pada wanita, termasuk infeksi saluran kemih (ISK) yang berulang.
- Gangguan berkemih, seperti sulit buang air kecil, aliran urine lemah, serta kandung kemih yang tidak dapat dikosongkan secara optimal.
- Inkontinensia urine atau ketidakmampuan menahan buang air kecil (ngompol) pada orang dewasa maupun lansia.
- Gangguan fungsi kandung kemih akibat kelainan sistem saraf (neurourologi), termasuk pada pasien pascastroke, diabetes, maupun penyakit neurologis lainnya.
- Berbagai gangguan fungsi saluran kemih yang memerlukan evaluasi dan penanganan oleh dokter urologi subspesialis fungsional, perempuan, dan neuro-urologi.
Jadwal praktik dr. Andika di RS Mandaya Royal Puri
dr. Andika Afriansyah, Sp.U, Subsp. FFN (K), MARS melayani pasien di RS Mandaya Royal Puri dengan jadwal praktik sebagai berikut:
- Selasa: 16.00–20.00 WIB
- Kamis: 16.00–20.00 WIB
- Sabtu: 09.00–16.00 WIB.
Untuk mempermudah kunjungan Anda ke Mandaya Royal Hospital Puri, gunakan fitur Chat melalui Whatsapp, Book Appointment, atau aplikasi Care Dokter yang bisa di-download di Google Play dan App Store untuk mempermudah kunjungan, melihat nomor antrian, dan mendapatkan informasi lengkap lainnya.
*Informasi yang tersedia pada halaman ini disusun untuk tujuan edukasi dan gambaran umum, sehingga tidak mencerminkan seluruh jenis layanan medis yang dapat dilakukan oleh masing-masing dokter. Untuk memastikan penanganan yang sesuai dengan kondisi kesehatan Anda, disarankan melakukan konsultasi langsung dengan dokter terkait.
Apabila Anda memiliki pertanyaan, saran, atau membutuhkan informasi lebih lanjut, silakan menghubungi call center kami di 0811-1900-2000.
Referensi:
- UW Health. Bladder and Bowel Problems After a Stroke. (https://patient.uwhealth.org/healthfacts/6552). Diakses pada 7 Agustus 2026.
- Stroke Association. Continence problems after stroke. (https://www.stroke.org.uk/stroke/effects/physical/continence-problems). Diakses pada 7 Agustus 2026.
- American Stroke Association. Incontinence. (https://www.stroke.org/en/about-stroke/effects-of-stroke/physical-effects/incontinence). Diakses pada 7 Agustus 2026.
- Shepherd Center. What Is Neurourology? (https://shepherd.org/treatment/services-clinics/urology-clinic/what-is-neurourology/). Diakses pada 7 Agustus 2026.

