Sulit Bicara Setelah Stroke (Afasia): Kenali Gejala, Penyebab dan Terapinya

Sulit Bicara Setelah Stroke (Afasia): Kenali Gejala, Penyebab dan Terapinya

Sulit bicara setelah stroke atau afasia adalah gangguan bahasa yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk berkomunikasi. Kondisi ini paling sering terjadi akibat stroke yang menyerang sisi kiri otak, yaitu area yang berperan dalam mengatur kemampuan berbicara dan berbahasa.

Penderita afasia dapat mengalami kesulitan berbicara, memahami pembicaraan orang lain, membaca, maupun menulis. Akibatnya, aktivitas sehari-hari di rumah, lingkungan sosial, maupun tempat kerja dapat menjadi terganggu. Tidak sedikit penderita afasia yang juga merasa terisolasi karena kesulitan berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya.

Meski demikian, penting untuk diketahui bahwa afasia tidak memengaruhi tingkat kecerdasan seseorang. Penyintas stroke dengan afasia tetap memiliki kemampuan berpikir yang baik dan tetap memahami apa yang terjadi di sekitarnya. Hanya saja, mereka mengalami hambatan dalam menyampaikan atau memahami bahasa sehingga ucapan yang dihasilkan dapat terdengar tidak jelas, terputus-putus, atau sulit dipahami.

Konsultasi dokter

Mengenal gejala sulit bicara (afasia) pada pasien stroke

Berikut ini adalah beberapa gejala afasia yang bisa terjadi pada pasien stroke:

  • Berbicara dengan kalimat yang pendek atau tidak lengkap.
  • Mengucapkan kalimat yang sulit dipahami atau tidak memiliki makna yang jelas.
  • Menggantikan suatu kata dengan kata lain atau mengganti bunyi suatu kata secara tidak tepat.
  • Mengucapkan kata-kata yang tidak dapat dikenali.
  • Kesulitan menemukan kata yang ingin diucapkan.
  • Sulit memahami percakapan dengan orang lain.
  • Sulit memahami bacaan.
  • Menulis kalimat yang tidak memiliki makna atau sulit dipahami.

Gejala afasia dapat berbeda pada setiap orang, tergantung pada lokasi dan tingkat kerusakan otak akibat stroke atau penyebab lainnya.

Mengapa stroke bisa menyebabkan gangguan bicara?

Untuk memahami mengapa stroke dapat menyebabkan gangguan bicara, penting untuk mengetahui terlebih dahulu apa itu stroke.

Stroke adalah kondisi ketika aliran darah ke otak berkurang atau terhenti sehingga sel-sel otak tidak mendapatkan pasokan oksigen dan nutrisi yang cukup. Akibatnya, jaringan otak dapat mengalami kerusakan. Stroke jenis ini disebut stroke iskemik dan merupakan jenis stroke yang paling sering terjadi.

Selain itu, stroke juga dapat disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah di otak atau dikenal sebagai stroke hemoragik. Perdarahan yang terjadi juga dapat merusak jaringan otak dan mengganggu fungsi bagian otak yang terdampak.

Stroke merupakan penyebab afasia yang paling sering ditemukan. Bahkan, sekitar 1 dari 3 pasien stroke mengalami afasia atau gangguan bicara.

Otak memiliki banyak pembuluh darah yang memasok darah ke berbagai area dengan fungsi yang berbeda-beda. Karena itu, stroke umumnya hanya merusak bagian otak tertentu, tergantung lokasi gangguan aliran darah atau perdarahan yang terjadi.

Apabila stroke menyerang area otak yang mengatur kemampuan berbahasa dan berbicara, maka seseorang dapat mengalami afasia. Gangguan ini biasanya muncul secara tiba-tiba bersamaan dengan terjadinya stroke, dan gejalanya cenderung paling berat pada fase awal setelah stroke.

Pusat bahasa di otak sebagian besar berada di belahan kiri otak, terutama pada dua area penting, yaitu area Broca yang berperan dalam menghasilkan ucapan, serta area Wernicke yang berfungsi memahami bahasa. Stroke dapat merusak salah satu area tersebut atau bahkan keduanya, sehingga kemampuan berkomunikasi penderita menjadi terganggu. Kerusakan inilah yang menyebabkan seseorang mengalami kesulitan berbicara, memahami percakapan, membaca, maupun menulis setelah stroke.

Baca juga: 7 Jenis Terapi Stroke yang Bisa Bantu Pemulihan

Pentingnya menangani gangguan bicara pada pasien stroke

Afasia atau kesulitan bicara dapat menimbulkan berbagai dampak yang memengaruhi kualitas hidup pasien stroke. Pasalnya, kemampuan berkomunikasi merupakan bagian penting dalam menjalani aktivitas sehari-hari. 

Gangguan komunikasi akibat afasia dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan, seperti:

  • Pekerjaan
  • Hubungan dengan pasangan, keluarga, maupun teman
  • Kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari secara mandiri.

Kesulitan dalam mengungkapkan keinginan, kebutuhan, maupun perasaan juga dapat menyebabkan penderita merasa malu, frustrasi, terisolasi, hingga mengalami depresi.

Selain gangguan berbahasa, penyintas stroke yang mengalami afasia juga dapat memiliki masalah lain yang terjadi secara bersamaan, seperti gangguan pergerakan tubuh, penurunan daya ingat, serta gangguan kemampuan berpikir. Oleh karena itu, penanganan afasia sebaiknya dilakukan secara menyeluruh agar pasien dapat memperoleh kualitas hidup yang lebih baik setelah stroke.

Terapi kesulitan bicara setelah stroke dengan TMS di RS Mandaya Royal Puri

transcranial magnetic stimulation TMS keunggulan Transcranial Magnetic Stimulation (TMS)

Di RS Mandaya Royal Puri, pasien stroke yang mengalami gangguan bicara dapat menjalani terapi Transcranial Magnetic Stimulation (TMS), yaitu terapi noninvasif yang menggunakan gelombang magnet untuk merangsang aktivitas sel-sel saraf di otak. Prosedur ini tidak memerlukan pembedahan maupun sayatan sehingga umumnya dapat dilakukan tanpa menimbulkan rasa nyeri.

Pada prosedurnya, dokter akan menempatkan sebuah coil atau kumparan elektromagnetik di bagian kepala yang sesuai dengan area otak yang ingin dirangsang. Terapi TMS bekerja melalui beberapa tahapan berikut:

  • Coil ditempatkan di atas area kepala yang berhubungan dengan fungsi otak yang akan diterapi.
  • Alat kemudian menghasilkan denyut magnet yang mampu menembus tulang tengkorak tanpa tindakan operasi.
  • Denyut magnet tersebut memicu impuls listrik berintensitas rendah pada sel-sel saraf di area otak yang menjadi target terapi.
  • Frekuensi dan pola stimulasi akan disesuaikan dengan kebutuhan pasien, baik untuk meningkatkan aktivitas pada area otak yang kurang aktif maupun mengurangi aktivitas yang berlebihan.
  • Rangsangan ini diharapkan dapat membantu memperbaiki fungsi jaringan saraf dan mendukung proses pemulihan fungsi otak sesuai kondisi medis yang dialami pasien.

Baca juga: Mengenal Prosedur Transcranial Magnetic Stimulation (TMS) untuk Rehabilitasi Stroke

Paket terapi TMS di RS Mandaya Royal Puri

Di RS Mandaya Royal Puri, terapi TMS tersedia dengan paket Rp1.500.000 untuk 1 kali terapi atau Rp12.500.000 untuk 10 kali terapi. 

Seluruh tindakan dilakukan oleh tim dokter dan tenaga medis berpengalaman setelah pasien menjalani evaluasi menyeluruh untuk menentukan rencana terapi yang sesuai dengan kondisinya. 

Dokter saraf ahli terapi TMS pascastroke di RS Mandaya Royal Puri

Bagi pasien yang membutuhkan terapi TMS sebagai bagian dari rehabilitasi pascastroke, salah satu dokter yang dapat dikonsultasikan di RS Mandaya Royal Puri adalah Dr. dr. Yetty Ramli, Sp.N(K).

Dr. Yetty merupakan dokter spesialis saraf dengan fokus keahlian di bidang neurorestorasi, neurobehavior, dan neurotrauma untuk pasien anak maupun dewasa. Beliau berpengalaman menangani berbagai penyakit neurologis, seperti stroke, penyakit Parkinson, penyakit Alzheimer, hingga gangguan spektrum autisme pada anak.

Selain terapi TMS, Dr. Yetty juga memiliki kompetensi dalam berbagai metode neuromodulasi dan rehabilitasi saraf, termasuk Transcranial Direct Current Stimulation (tDCS), pemeriksaan Electroencephalography (EEG), serta berbagai pendekatan neurorestorasi yang bertujuan membantu mengoptimalkan pemulihan fungsi sistem saraf.

Riwayat pendidikan beliau dimulai dari Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, kemudian melanjutkan pendidikan spesialis neurologi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Dr. Yetty juga meraih gelar Ph.D. di bidang Biomedik Veteriner dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Untuk memperdalam kompetensinya, beliau mengikuti berbagai program fellowship di Sydney Children’s Hospital serta fellowship di bidang Neurobehavior, Neurorestorasi, dan Neurotrauma, sehingga memiliki pengalaman yang komprehensif dalam menangani berbagai gangguan sistem saraf.

Jadwal praktik Dr. dr. Yetty Ramli, Sp.N(K) di RS Mandaya Royal Puri:

  • Senin: 16.00–20.00 WIB
  • Rabu: 16.00–20.00 WIB.

Untuk mempermudah kunjungan Anda ke Mandaya Royal Hospital Puri, gunakan fitur Chat melalui Whatsapp, Book Appointment, atau aplikasi Care Dokter yang bisa di-download di Google Play dan App Store untuk mempermudah kunjungan, melihat nomor antrian, dan mendapatkan informasi lengkap lainnya.

*Informasi yang tersedia pada halaman ini disusun untuk tujuan edukasi dan gambaran umum, sehingga tidak mencerminkan seluruh jenis layanan medis yang dapat dilakukan oleh masing-masing dokter. Untuk memastikan penanganan yang sesuai dengan kondisi kesehatan Anda, disarankan melakukan konsultasi langsung dengan dokter terkait.

Apabila Anda memiliki pertanyaan, saran, atau membutuhkan informasi lebih lanjut, silakan menghubungi call center kami di 0811-1900-2000.

Konsultasi dokter

Referensi:

  1. American Stroke Association. Stroke and Aphasia. (https://www.stroke.org/en/about-stroke/effects-of-stroke/communication-and-aphasia/stroke-and-aphasia). Diakses pada 13 Juli 2026.
  2. Mayo Clinic. Aphasia: Symptoms and Causes. (https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/aphasia/symptoms-causes/syc-20369518). Direvisi terakhir 11 Juni 2022. Diakses pada 13 Juli 2026.
  3. Constant Therapy Health. What Causes Aphasia? Stroke. (https://aphasia.com/navigating-aphasia/what-causes-aphasia/stroke/). Diakses pada 13 Juli 2026.
  4. Cleveland Clinic. Transcranial Magnetic Stimulation (TMS). (https://my.clevelandclinic.org/health/treatments/17827-transcranial-magnetic-stimulation-tms). Direvisi terakhir 30 Juli 2024. Diakses pada 13 Juli 2026.
Need Help? Chat with us!
Start a Conversation
Hi! Click one of our members below to chat on WhatsApp
We usually reply in a few minutes