Kanker hati adalah jenis kanker yang terjadi ketika sel-sel di organ hati tumbuh secara tidak normal dan membentuk tumor. Hati sendiri memiliki peran penting dalam tubuh, seperti membantu proses pencernaan, menyaring racun dari darah, serta mengatur metabolisme berbagai zat penting. Jenis kanker hati yang paling sering ditemukan adalah hepatocellular carcinoma (HCC), yang umumnya berkembang pada pasien dengan penyakit hati kronis, seperti sirosis.
Salah satu tantangan dalam penanganan kanker hati adalah gejalanya yang sering tidak muncul pada tahap awal. Banyak pasien baru menyadari adanya penyakit ini setelah tumor sudah cukup besar atau penyakit telah memasuki stadium lanjut. Kondisi ini membuat pilihan terapi menjadi lebih terbatas dan membutuhkan pendekatan yang lebih kompleks.
Saat ini, tersedia pilihan terapi modern untuk kanker hati tanpa operasi, yaitu High-Intensity Focused Ultrasound (HIFU). Teknologi ini telah tersedia di Mandaya Royal Hospital Puri dan dilakukan oleh Sugianto Santoso, Sp.Rad, (K)RI serta dr. Hendra Koncoro, Sp.PD-KGEH.
Contents
Mengenal teknologi HIFU untuk menghancurkan tumor hati

HIFU adalah metode terapi yang memanfaatkan gelombang ultrasound berenergi tinggi untuk menghancurkan jaringan tumor. Berbeda dengan operasi konvensional, prosedur ini dilakukan tanpa sayatan karena energi ultrasound dikirimkan dari luar tubuh dan difokuskan langsung ke titik tumor di dalam hati.
Ketika energi ultrasound tersebut terkonsentrasi pada area tumor, suhu di jaringan tersebut meningkat hingga lebih dari 60°C. Suhu tinggi ini menyebabkan kerusakan permanen pada sel kanker sehingga sel tersebut tidak lagi dapat berkembang. Proses ini dikenal sebagai ablasi termal, yaitu penghancuran jaringan tumor menggunakan panas.
Karena energi diarahkan secara sangat presisi, jaringan hati yang sehat di sekitarnya tetap dapat terlindungi. Pendekatan ini sangat penting, terutama pada pasien yang sudah mengalami gangguan fungsi hati seperti sirosis.
Siapa yang bisa menjalani terapi HIFU untuk kanker hati?
Tidak semua pasien kanker hati memiliki kondisi yang sama. Oleh karena itu, terapi HIFU biasanya dipertimbangkan setelah melalui evaluasi medis menyeluruh oleh dokter. Secara umum, terapi ini dapat menjadi pilihan pada beberapa kondisi berikut:
1. Pasien dengan kanker hati primer HCC
HIFU banyak digunakan pada kasus HCC karena mampu menghancurkan tumor secara langsung tanpa perlu pembedahan besar.
2. Pasien dengan sirosis hati
Bahkan pada pasien dengan sirosis yang sudah cukup berat, termasuk yang mengalami penumpukan cairan di perut (asites) atau cairan di rongga dada (efusi pleura), terapi HIFU masih dapat dipertimbangkan sebagai opsi pengobatan.
3. Tumor yang dapat terlihat melalui USG
Prosedur HIFU dilakukan dengan bantuan pencitraan medis seperti USG. Oleh karena itu, tumor yang dapat divisualisasikan dengan jelas melalui pemeriksaan tersebut biasanya lebih optimal untuk ditangani dengan metode ini.
4. Tumor yang berada di lokasi sulit
Beberapa tumor hati berada di area yang cukup menantang, misalnya dekat diafragma, tulang rusuk, lambung, usus, kantong empedu, jantung, pembuluh darah besar, atau saluran empedu. Dengan teknik khusus serta perencanaan yang matang, tindakan HIFU tetap dapat dilakukan secara aman pada kondisi ini.
Bagaimana prosedur HIFU dilakukan?
Secara garis besar, proses terapi HIFU dilakukan melalui beberapa tahapan berikut:
1. Prosedur dilakukan tanpa pembedahan
Perangkat HIFU ditempatkan di permukaan kulit pasien. Dari alat ini, gelombang ultrasound akan diarahkan menuju tumor di dalam tubuh.
2. Energi ultrasound difokuskan ke jaringan tumor
Gelombang suara dengan frekuensi khusus dipusatkan pada satu titik yang sangat kecil di jaringan kanker.
3. Terjadi peningkatan suhu pada tumor
Ketika energi terkumpul pada titik tersebut, suhu jaringan tumor meningkat hingga lebih dari 60°C.
4. Sel kanker dihancurkan oleh panas
Panas tinggi menyebabkan kerusakan permanen pada sel kanker sehingga sel tersebut tidak dapat bertahan hidup.
5. Jaringan sehat tetap terlindungi
Karena panas hanya terfokus pada titik tertentu, jaringan hati di sekitarnya relatif aman. Hal ini sangat penting bagi pasien dengan fungsi hati yang sudah menurun.
Hasil Penelitian tentang HIFU pada Kanker Hati
Sejumlah penelitian menunjukkan hasil yang cukup menjanjikan pada penggunaan HIFU untuk pasien kanker hati, termasuk yang disertai sirosis.
-
Risiko komplikasi yang rendah
Dalam sebuah penelitian yang melibatkan 55 pasien dengan tumor hati berukuran besar (rata-rata sekitar 8 cm) dan sirosis, terapi HIFU tidak menunjukkan adanya komplikasi berat selama maupun setelah prosedur.
-
Tingkat keberhasilan ablasi cukup tinggi
Pada pasien yang dievaluasi lebih lanjut, sekitar 69,2% mengalami penghancuran tumor secara lengkap setelah menjalani terapi.
-
Harapan hidup pasien
Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup pasien mencapai sekitar 61,5% setelah 12 bulan dan 35,3% setelah 18 bulan pasca terapi.
-
Kombinasi dengan terapi lain
Dalam beberapa kasus, HIFU juga dapat dikombinasikan dengan metode lain seperti TACE (Transarterial Chemoembolization). Penelitian menunjukkan bahwa kombinasi terapi ini dapat memberikan angka kelangsungan hidup yang lebih baik dibandingkan TACE saja pada pasien kanker hati stadium lanjut.
Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa HIFU memiliki potensi sebagai salah satu pendekatan terapi yang efektif, baik sebagai terapi utama maupun sebagai bagian dari terapi kombinasi.
Dokter ahli HIFU untuk tangani kanker hati di RS Mandaya Royal Puri
Berikut ini adalah tim dokter ahli HIFU untuk tangani kanker hati di RS Mandaya Royal Puri:
1. dr. Sugianto Santoso, Sp.Rad, (K)RI

Terapi HIFU untuk kanker hati di Mandaya Royal Hospital Puri salah satunya dilakukan oleh dr. Sugianto Santoso, Sp.Rad, (K)RI, dokter spesialis radiologi dengan subspesialis radiologi intervensi.
Dalam praktiknya, beliau menggunakan berbagai teknologi pencitraan medis seperti USG, CT Scan, MRI, dan fluoroskopi untuk memastikan prosedur dilakukan dengan presisi tinggi. Selain HIFU, beliau juga berpengalaman dalam berbagai tindakan minimal invasif untuk menghancurkan tumor tanpa operasi besar, seperti TACE, Radiofrequency Ablation (RFA), dan Microwave Ablation.
dr. Sugianto menyelesaikan pendidikan dokter umum di Universitas Kristen Maranatha Bandung dan melanjutkan pendidikan spesialis radiologi di Universitas Indonesia.
dr. Sugianto Santoso, Sp.Rad, (K)RI bisa ditemui di RS Mandaya Royal Puri pada:
- Selasa: 16.00 – 20.00 WIB
- Kamis: 16.00 – 20.00 WIB.
2. dr. Hendra Koncoro, Sp.PD-KGEH

dr. Hendra Koncoro, Sp.PD-KGEH adalah dokter spesialis penyakit dalam dengan subspesialisasi konsultan gastroenterohepatologi yang berfokus pada penanganan berbagai penyakit pada saluran pencernaan dan hati. Beliau menangani berbagai kondisi seperti kanker hati, batu empedu, fatty liver, nodul hati, sirosis hati, hingga kanker saluran empedu. dr. Hendra menyelesaikan pendidikan dokter umum di Atma Jaya Catholic University, kemudian melanjutkan pendidikan Master of Biomedical Science dan spesialis penyakit dalam di Udayana University. Ia juga meraih gelar konsultan gastroenterologi dan hepatologi dari University of Indonesia.
Dalam praktiknya, dr. Hendra memberikan layanan diagnosis dan penanganan penyakit dalam secara komprehensif, khususnya yang berkaitan dengan sistem pencernaan dan hati. Layanan yang tersedia meliputi konsultasi penyakit dalam, pemeriksaan fungsi hati, pemeriksaan fungsi ginjal, profil lipid, tes urine, serta pemeriksaan penunjang seperti CT Scan dan MRI Scan untuk membantu menegakkan diagnosis secara lebih akurat.
dr. Hendra Koncoro, Sp.PD-KGEH bisa ditemui di RS Mandaya Royal Puri pada:
- Rabu: 10.30 – 12.30 WIB
- Sabtu: 10.30 – 12.30 WIB.
Untuk mempermudah kunjungan Anda, gunakan fitur Chat melalui Whatsapp, Book Appointment, atau aplikasi Care Dokter yang bisa di-download di Google Play dan App Store untuk mempermudah kunjungan, melihat nomor antrian, dan mendapatkan informasi lengkap lainnya.

