Urine berbusa saat buang air kecil merupakan kondisi yang cukup umum terjadi. Terkadang, urine dapat terlihat berbusa karena alirannya terlalu deras saat kandung kemih sudah penuh sehingga menimbulkan banyak gelembung di dalam toilet. Penggunaan cairan pembersih toilet juga bisa menyebabkan urine tampak berbusa. Selain itu, kondisi ini dapat terjadi ketika tubuh mengalami dehidrasi atau kekurangan cairan.
Meski begitu, urine berbusa yang terjadi sesekali umumnya tidak perlu langsung dikhawatirkan. Namun, jika urine sering terlihat berbusa, memiliki banyak gelembung, atau busanya bertahan cukup lama, kondisi ini perlu diperhatikan. Urine berbusa yang terjadi terus-menerus dapat menjadi salah satu tanda adanya gangguan kesehatan, termasuk masalah pada ginjal.
Contents
Apa penyebab urine berbusa saat buang air kecil?
Urine berbusa sesekali merupakan kondisi yang cukup umum terjadi dan tidak selalu menandakan adanya gangguan kesehatan. Gelembung urine bahkan terkadang dapat menutupi sebagian besar permukaan air toilet. Namun, jika kondisi ini sering terjadi, busa sulit hilang meski toilet sudah disiram lebih dari sekali, atau urine tampak sangat berbuih dan berwarna putih, sebaiknya periksakan diri ke dokter untuk mengetahui penyebabnya.
Berikut ini adalah beberapa kemungkinan penyebab urine berbusa:
1. Penyakit ginjal
Urine berbusa dapat menjadi salah satu tanda gangguan ginjal, terutama jika kondisi ini terjadi secara terus-menerus. Pada penyakit ginjal kronis (PGK), urine berbusa dapat muncul ketika ginjal mengalami kerusakan sehingga protein ikut keluar bersama urine (proteinuria).
Pada penyakit ginjal kronis stadium 2, misalnya, seseorang dapat mengalami urine berbusa jika terdapat peningkatan kadar protein dalam urine. Meski demikian, penyakit ginjal kronis pada tahap awal sering kali belum menimbulkan gejala yang jelas. Oleh karena itu, pemeriksaan urine dan fungsi ginjal diperlukan untuk mengetahui kondisi ginjal secara lebih akurat.
Baca juga: Gagal Ginjal Kronis: Pengertian, Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya
2. Diabetes
Diabetes juga dapat menjadi salah satu penyebab urine berbusa, terutama ketika kadar gula darah sering berada di atas batas normal dalam waktu lama. Kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan ginjal akibat diabetes atau disebut diabetic nephropathy.
Kerusakan tersebut dapat mengganggu kemampuan ginjal dalam menyaring darah dan mempertahankan protein agar tidak keluar bersama urine. Akibatnya, kadar protein dalam urine meningkat dan urine dapat terlihat berbusa.
3. Dehidrasi
Dehidrasi atau kekurangan cairan juga dapat menyebabkan urine berbusa. Ketika tubuh tidak mendapatkan cukup cairan, urine menjadi lebih pekat dan biasanya berwarna kuning lebih gelap dari biasanya.
Kondisi tersebut dapat membuat urine tampak berbusa saat dikeluarkan. Jika urine berwarna kuning pekat dan berbusa, cobalah mencukupi kebutuhan cairan dengan minum air putih. Namun, jika busa tetap muncul meskipun kebutuhan cairan sudah terpenuhi, sebaiknya konsultasikan kondisi tersebut dengan dokter.
4. Ejakulasi retrograd
Ejakulasi retrograd atau retrograde ejaculation merupakan kondisi ketika air mani masuk ke dalam kandung kemih, bukan keluar melalui penis saat ejakulasi. Kondisi ini dapat menyebabkan urine tampak berbusa setelah pria mengalami orgasme.
Ejakulasi retrograd dapat terjadi akibat gangguan pada otot yang mengatur aliran air mani. Meski umumnya tidak berbahaya, kondisi ini dapat memengaruhi kesuburan pria karena air mani tidak keluar seperti biasanya.
5. Amiloidosis
Amiloidosis merupakan penyakit langka yang terjadi akibat penumpukan protein abnormal bernama amiloid di berbagai jaringan dan organ tubuh. Jika penumpukan protein terjadi pada ginjal, kemampuan organ tersebut untuk menyaring darah dapat terganggu.
Gangguan ginjal akibat amiloidosis dapat menyebabkan protein keluar bersama urine sehingga urine tampak berbusa. Kondisi ini juga dapat disertai penumpukan cairan di dalam tubuh atau pembengkakan pada bagian tertentu, seperti kaki dan pergelangan kaki.
6. Efek samping obat-obatan
Penggunaan obat-obatan tertentu juga dapat menyebabkan urine berbusa. Salah satu contohnya adalah phenazopyridine, yaitu obat yang digunakan untuk membantu meredakan nyeri atau rasa tidak nyaman akibat gangguan saluran kemih.
Jika urine berbusa muncul setelah mengonsumsi obat tertentu, sebaiknya konsultasikan dengan dokter atau apoteker untuk mengetahui kemungkinan efek sampingnya. Jangan menghentikan penggunaan obat yang diresepkan dokter tanpa berkonsultasi terlebih dahulu.
Kapan urine berbusa perlu diperiksakan ke dokter?
Urine berbusa sesekali umumnya tidak berbahaya dan dapat disebabkan oleh kondisi sederhana, seperti aliran urine yang deras atau kekurangan cairan. Namun, jika urine berbusa berlangsung selama beberapa hari, semakin sering terjadi, atau tampak semakin banyak, sebaiknya konsultasikan kondisi tersebut dengan dokter.
Terlebih lagi, jika urine berbusa disertai beberapa gejala berikut:
- Pembengkakan pada tubuh (edema): Terutama di area tangan, kaki, atau pergelangan kaki akibat penumpukan cairan.
- Mudah lelah: Tubuh terasa sangat lemas atau kelelahan meskipun sudah mendapatkan waktu istirahat yang cukup.
- Mual dan muntah: Keluhan pencernaan yang dapat menyertai gangguan fungsi ginjal.
- Penurunan nafsu makan: Keinginan untuk makan berkurang tanpa alasan yang jelas.
- Perubahan warna dan kondisi urine: Urine menjadi lebih gelap, keruh, atau disertai darah (hematuria).
Gejala-gejala tersebut perlu diperhatikan karena dapat berkaitan dengan gangguan fungsi ginjal maupun kondisi kesehatan lainnya. Pemeriksaan sejak dini dapat membantu dokter mengetahui penyebab urine berbusa dan menentukan penanganan yang sesuai.
Bagaimana dokter mendiagnosis penyebab urine berbusa?
Untuk mengetahui penyebab urine berbusa, dokter akan melakukan pemeriksaan berdasarkan keluhan, riwayat kesehatan, serta gejala lain yang dialami pasien. Jika dicurigai terdapat gangguan ginjal atau kebocoran protein ke dalam urine, dokter dapat merekomendasikan beberapa pemeriksaan berikut:
1. Tes urine
Dokter akan meminta sampel urine untuk memeriksa kandungan protein, darah, dan zat lainnya. Pemeriksaan dapat dilakukan menggunakan dipstick atau analisis urine di laboratorium. Dokter juga dapat merekomendasikan pemeriksaan rasio albumin-kreatinin urine (UACR) untuk mengetahui jumlah albumin yang keluar bersama urine.
2. Tes darah
Pemeriksaan darah dilakukan untuk mengetahui kadar kreatinin dan memperkirakan laju filtrasi glomerulus (estimated glomerular filtration rate/eGFR). Hasilnya membantu dokter menilai seberapa baik ginjal menyaring zat sisa dari darah.
3. Pemeriksaan pencitraan
Dokter dapat merekomendasikan USG atau CT scan ginjal dan saluran kemih jika dicurigai terdapat batu ginjal, penyumbatan, atau kelainan struktural lainnya.
4. Biopsi ginjal
Pada kondisi tertentu, dokter mungkin menyarankan biopsi ginjal, yaitu pengambilan sedikit sampel jaringan ginjal untuk diperiksa di laboratorium. Pemeriksaan ini dapat membantu mengetahui penyebab dan tingkat kerusakan ginjal.
Pusat Urologi Mandaya: Solusi Menyeluruh untuk Masalah Ginjal, Saluran Kemih, dan Kesehatan Pria

Pusat Urologi Mandaya Royal Hospital Puri menyediakan layanan diagnosis dan penanganan berbagai masalah kesehatan saluran kemih serta sistem reproduksi pria, mulai dari kondisi yang umum hingga kasus urologi kompleks.
Didukung fasilitas medis modern dan teknologi minimal invasif, pusat layanan ini menangani berbagai kondisi, seperti batu ginjal, infeksi saluran kemih, pembesaran prostat, gangguan kandung kemih, hingga kanker pada organ saluran kemih dan reproduksi pria.
Layanan yang tersedia juga mencakup berbagai tindakan urologi modern, termasuk RIRS, PCNL, Rezum, serta bedah robotik untuk kasus tertentu. Bahkan, layanan penanganan urologi kompleks seperti transplantasi ginjal juga menjadi bagian dari cakupan layanan yang dapat dilakukan di Pusat Urologi Mandaya.
Untuk memberikan penanganan yang menyeluruh, Pusat Urologi Mandaya didukung oleh tim dokter multidisiplin dengan berbagai subspesialisasi, meliputi urologi umum, urologi pediatrik (anak), urologi onkologi, urologi perempuan (female urology), neuro-urologi, hingga andrologi. Dengan cakupan keahlian tersebut, pasien dapat memperoleh penanganan yang disesuaikan dengan kondisi, usia, serta kebutuhan medis masing-masing.
Fasilitas pasien luar kota dan internasional di RS Mandaya Royal Puri

Mandaya Royal Hospital Puri menyediakan berbagai fasilitas penunjang untuk memberikan kenyamanan ekstra bagi pasien yang berasal dari luar kota maupun luar negeri:
- Penjemputan VIP (VIP transport): Layanan penjemputan dari Bandara Soekarno-Hatta, stasiun, atau pelabuhan menuju rumah sakit menggunakan kendaraan nyaman yang didampingi oleh tim Patient Experience Officer (PEO).
- Penjemputan ambulans medis: Penjemputan khusus bagi pasien dengan kondisi kesehatan tertentu dari titik kedatangan (bandara/stasiun/pelabuhan) yang dilengkapi peralatan medis dan pendampingan tenaga kesehatan profesional.
- Akomodasi penginapan (Sleep Hub & apartemen): Fasilitas penginapan nyaman bagi keluarga yang mendampingi pasien, terletak langsung di lantai 8 gedung Mandaya Royal Puri serta opsi apartemen terdekat.
- Layanan pasien internasional (International Patient Relation): Pendampingan khusus bagi pasien luar negeri untuk pengurusan koordinasi medis, penerjemah, hingga administrasi. Untuk informasi dan bantuan International Patient Relation, Anda dapat menghubungi 021 5092 8888 atau email ke [email protected].
Untuk mempermudah kunjungan Anda ke Mandaya Royal Hospital Puri, gunakan fitur Chat melalui Whatsapp, Book Appointment, atau aplikasi Care Dokter yang bisa di-download di Google Play dan App Store untuk mempermudah kunjungan, melihat nomor antrian, dan mendapatkan informasi lengkap lainnya.
*Informasi yang tersedia pada halaman ini disusun untuk tujuan edukasi dan gambaran umum, sehingga tidak mencerminkan seluruh jenis layanan medis yang dapat dilakukan oleh masing-masing dokter. Untuk memastikan penanganan yang sesuai dengan kondisi kesehatan Anda, disarankan melakukan konsultasi langsung dengan dokter terkait.
Apabila Anda memiliki pertanyaan, saran, atau membutuhkan informasi lebih lanjut, silakan menghubungi call center kami di 0811-1900-2000.
Referensi:
- Cleveland Clinic. Foamy Urine. (https://my.clevelandclinic.org/health/symptoms/foamy-urine). Diakses pada 3 November 2026.
- Advanced Urology. Why Is My Urine Foamy? (https://www.advancedurology.com/blog/why-is-my-urine-foamy). Diakses pada 3 November 2026.
- UPMC. Foamy Urine. (https://www.upmc.com/healthbeat/urology/foamy-urine). Diakses pada 3 November 2026.

