Tumor payudara merupakan benjolan yang terbentuk akibat pertumbuhan jaringan payudara yang tidak normal. Secara umum, tumor payudara terbagi menjadi dua jenis, yaitu tumor jinak dan tumor ganas (kanker payudara). Berbeda dengan tumor ganas yang dapat menyebar ke jaringan lain, tumor payudara jinak umumnya tidak bersifat kanker dan tidak menyerang jaringan di sekitarnya. Oleh karena itu, dokter tidak selalu langsung menyarankan pengangkatan tumor jinak. Namun, pada beberapa kasus, tumor jinak dapat terus membesar, menekan jaringan di sekitarnya, menimbulkan rasa tidak nyaman, atau meningkatkan kekhawatiran pasien sehingga perlu mendapatkan penanganan yang sesuai.

Salah satu pasien yang mengalami kondisi tersebut adalah Olivia Novita, pasien berusia 50 tahun asal Lubang Buaya, Jakarta Timur. Awalnya, Olivia menemukan benjolan di kedua payudaranya saat melakukan pemeriksaan kesehatan secara mandiri. Setelah berkonsultasi dengan dr. Abdul Rachman, Sp.B (K) Onk, dokter spesialis bedah subspesialis bedah onkologi RS Mandaya Royal Puri, dokter memastikan bahwa benjolan tersebut merupakan tumor payudara jinak. Meski demikian, dokter menyarankan agar tumor tersebut ditangani. Namun, Olivia mengaku sempat menunda tindakan karena merasa takut menjalani operasi dengan pembiusan total. Hingga akhirnya, ia menemukan pilihan penanganan yang membuatnya lebih yakin untuk menjalani pengobatan di RS Mandaya Royal Puri, yaitu High Intensity Focused Ultrasound (HIFU).
“Mulai tindakannya sekitar jam 2.00 (siang), sepertinya tidak lama sih tindakannya, satu posisi itu 40 menit, yang satunya lagi hanya 10 menit. Waktu itu bius lokal saja dan disuntiknya pun tidak sakit ya menurut aku. Di anestesinya juga tidak sakit. Terus pas tindakannya juga tidak sakit. Dari 1 sampai 10, sepertinya (tingkat sakitnya) 2 ya. Aku tengkurap karena tindakannya dari bawah, jadi jam 4.00 (sore) itu selesai, observasi 3 jam, sudah boleh pulang (di hari yang sama). Langsung pulang. Karena aku juga (Setelah tindakan) tidak ada rasa gimana-gimana. Hanya dibius lokal. Nyaman sih, jadi keluarga juga kaget kok sudah pulang lagi, sudah sampai rumah lagi. Karena nyaman banget sih menurut aku,” kata pasien.
Contents
Sempat menunda tindakan karena takut operasi
Pasien pertama kali mengetahui adanya benjolan di kedua payudaranya saat melakukan pemeriksaan kesehatan secara mandiri. Benjolan tersebut kemudian diperiksakan ke dokter untuk memastikan apakah kondisinya berbahaya atau tidak.
Setelah berkonsultasi dengan dr. Abdul di RS Mandaya Royal Puri, Olivia mendapat kabar bahwa benjolan tersebut merupakan tumor payudara jinak. Saat itu, terdapat dua benjolan utama dengan ukuran sekitar 1,8 cm dan 0,6 cm, disertai beberapa benjolan kecil lainnya. Meski tidak merasakan nyeri, dokter tetap menyarankan agar tumor tersebut ditangani.

Namun, Olivia belum siap menjalani operasi. Ia mengaku ketakutan karena membayangkan harus menjalani pembiusan total. Selama hampir satu tahun, ia memilih untuk menjalani kontrol rutin setiap tiga hingga empat bulan guna memantau perkembangan tumornya.
Hingga suatu hari, dr. Abdul menjelaskan adanya pilihan penanganan lain yang tidak memerlukan operasi terbuka, yaitu HIFU. Mendengar bahwa prosedur tersebut dilakukan tanpa sayatan dan hanya menggunakan bius lokal, Olivia pun merasa lebih yakin untuk menjalani tindakan di RS Mandaya Royal Puri.
Baca juga: HIFU untuk Tumor Payudara: Bagaimana Cara Kerja dan Apa Saja Keunggulannya?
Apa itu HIFU dan bagaimana cara kerjanya?

High-Intensity Focused Ultrasound (HIFU) adalah prosedur medis yang memanfaatkan gelombang ultrasound berintensitas tinggi untuk menangani berbagai kondisi medis, termasuk tumor. HIFU merupakan prosedur minimal invasif, sehingga tidak memerlukan sayatan seperti pada operasi konvensional.
Berbeda dengan pemeriksaan USG biasa yang digunakan untuk menghasilkan gambar organ dalam tubuh, HIFU menggunakan energi ultrasound untuk menghancurkan jaringan target tanpa merusak jaringan sehat di sekitarnya.
Cara kerja HIFU dapat dijelaskan sebagai berikut:
- Menggunakan gelombang ultrasound berintensitas tinggi yang difokuskan secara presisi ke jaringan yang akan ditangani.
- Gelombang ultrasound tidak menghasilkan gambar, melainkan mengirimkan energi panas ke titik target.
- Energi yang terkonsentrasi tersebut meningkatkan suhu jaringan target hingga mampu menghancurkan (mengablasi) sel atau jaringan yang menjadi sasaran.
- Gelombang ultrasound dapat menembus lapisan kulit dan jaringan lain tanpa merusaknya, kemudian bekerja hanya pada area yang dituju.
- Prinsip kerjanya mirip seperti kaca pembesar yang memfokuskan sinar matahari ke satu titik, sehingga panas hanya terkumpul pada target tertentu.
Agar terapi dilakukan secara akurat, dokter biasanya menggunakan teknologi pencitraan untuk memandu tindakan, antara lain Magnetic Resonance Imaging (MRI), atau USG.
Teknologi pencitraan tersebut membantu dokter menentukan lokasi target, memandu jalannya prosedur, serta memantau hasil terapi secara real-time, sehingga tindakan dapat dilakukan dengan lebih presisi.
Baca juga: Pengobatan Tumor Payudara Tanpa Operasi dengan Teknologi HIFU di RS Mandaya Puri
Setelah tindakan HIFU, pasien bisa pulang di hari yang sama

Olivia menjalani tindakan HIFU di RS Mandaya Royal Puri pada pagi hari. Sebelum prosedur dimulai, ia terlebih dahulu menjalani serangkaian pemeriksaan, seperti tes laboratorium, pemeriksaan paru-paru, dan jantung untuk memastikan kondisinya siap menjalani tindakan. Setelah itu, ia dipersiapkan untuk menjalani HIFU pada siang hari.
Selama prosedur berlangsung, Olivia hanya mendapatkan bius lokal. Menurutnya, proses penyuntikan anestesi maupun tindakan HIFU terasa nyaman. Ia bahkan menilai tingkat nyeri yang dirasakannya hanya sekitar 2 dari skala 10.
Setelah tindakan selesai, Olivia menjalani observasi selama sekitar tiga jam sebelum akhirnya diizinkan pulang pada hari yang sama. Ia mengaku tidak merasakan keluhan berarti setelah prosedur sehingga cukup terkejut dengan cepatnya proses pemulihan.
Sekitar 13 hari setelah menjalani HIFU, Olivia kembali ke RS Mandaya Royal Puri untuk kontrol. Hasil evaluasi menunjukkan kondisinya berjalan baik. Menurut penjelasan dokter, jaringan tumor yang telah diterapi akan terus mengecil dan secara bertahap meluruh dalam beberapa bulan ke depan. Olivia pun dijadwalkan kembali menjalani kontrol tiga bulan kemudian untuk memantau perkembangan hasil terapinya.
Profil dan jadwal praktek dr. Abdul di Mandaya Royal Hospital Puri

dr. Abdul Rachman, Sp.B (K) Onk merupakan dokter spesialis bedah konsultan bedah onkologi di RS Mandaya Royal Puri yang menangani berbagai penyakit tumor dan kanker melalui pendekatan bedah maupun tindakan minimal invasif. Ia menyelesaikan pendidikan dokter umum di Universitas Trisakti, kemudian melanjutkan pendidikan Spesialis Bedah Umum dan Konsultan Bedah Onkologi di Universitas Indonesia. Untuk meningkatkan kompetensinya, dr. Abdul juga mengikuti berbagai pelatihan di bidang bedah kanker, seperti Workshop Minimal Invasive Surgery, RFA and VABB di RS Kanker Dharmais, Workshop Oncoplasty & Microsurgery in Management of Cancer, Workshop on Evidence Based Medicine, hingga pelatihan Laparoscopic in Breast Cancer Reconstruction with Implant di National Cheng Kung University Hospital.
Di RS Mandaya Royal Puri, dr. Abdul memberikan layanan untuk berbagai tindakan bedah onkologi, termasuk operasi pengangkatan tiroid total, operasi pengangkatan tiroid parsial, operasi benjolan payudara (lumpektomi), hingga operasi kanker payudara. Selain tindakan bedah, dr. Abdul juga menangani pasien dengan pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing, termasuk memanfaatkan teknologi minimal invasif seperti HIFU (High-Intensity Focused Ultrasound) pada kasus tertentu, sehingga pasien memiliki lebih banyak pilihan terapi sesuai indikasi medis.
dr. Abdul Rahman, SpB, Subsp.Onk (K) bisa ditemui di RS Mandaya Royal Puri pada:
- Selasa: 16.00 – 18.00 WIB
- Kamis: 16.00 – 18.00 WIB
- Sabtu: 09.00 – 12.00 WIB.
Untuk mempermudah kunjungan Anda ke Mandaya Royal Hospital Puri, gunakan fitur Chat melalui Whatsapp, Book Appointment, atau aplikasi Care Dokter yang bisa di-download di Google Play dan App Store untuk mempermudah kunjungan, melihat nomor antrian, dan mendapatkan informasi lengkap lainnya.
*Informasi yang tersedia pada halaman ini disusun untuk tujuan edukasi dan gambaran umum, sehingga tidak mencerminkan seluruh jenis layanan medis yang dapat dilakukan oleh masing-masing dokter. Untuk memastikan penanganan yang sesuai dengan kondisi kesehatan Anda, disarankan melakukan konsultasi langsung dengan dokter terkait.
Apabila Anda memiliki pertanyaan, saran, atau membutuhkan informasi lebih lanjut, silakan menghubungi call center kami di 0811-1900-2000.
Referensi
- National Breast Cancer Foundation. Breast Tumors. (https://www.nationalbreastcancer.org/breast-tumors/). Direvisi terakhir 2 Maret 2026. Diakses pada 16 Juli 2026.
- Cleveland Clinic. High-Intensity Focused Ultrasound (HIFU): Purpose & Procedure. (https://my.clevelandclinic.org/health/treatments/16541-hifu-high-intensity-focused-ultrasound). Direvisi terakhir 31 Agustus 2022. Diakses pada 16 Juli 2026.

