Kanker sering kali datang tanpa gejala yang khas. Hal inilah yang dialami oleh Bapak Edi Sutikno Kurniawan, pasien asal Jakarta berusia 70 tahun yang akhirnya didiagnosis menderita kanker tiroid papiler yang telah menyebar ke seluruh tulang.
Di tengah kondisi yang berat, keluarga Bapak Edi sempat mempertimbangkan berbagai pilihan pengobatan. Namun pada akhirnya mereka memutuskan untuk menjalani terapi ablasi nuklir di RS Mandaya Royal Puri, Indonesia, tanpa harus pergi ke luar negeri.
“Buat saya kalau orang yang kena kanker, di Indonesia sudah ada (rumah sakitnya) kok, apalagi kalau berbicara tentang ablasi. Jauh lebih murah di Indonesia dan dapat fasilitas yang tidak kalah. Kalau memang perlu ablasi, saya akan tetap di Mandaya. Tidak akan ke mana-mana,” ucap istri pasien.
Contents
Berawal dari nyeri hebat di punggung, ternyata kanker tiroid sudah menyebar ke tulang
Menurut sang istri, gejala pertama yang dirasakan suaminya muncul pada Maret 2022 berupa rasa sakit di bagian pinggang dan punggung atas. Awalnya ia memeriksakan diri ke dokter bedah saraf dan mendapatkan pengobatan untuk meredakan keluhan tersebut.
Namun setelah satu minggu, rasa sakit yang dialami tidak kunjung membaik. Dokter kemudian menyarankan pemeriksaan MRI untuk mencari penyebab keluhan yang dirasakan.
Hasil MRI menunjukkan adanya tanda-tanda keganasan. Untuk mengetahui sumber kanker secara lebih jelas, pasien kemudian menjalani pemeriksaan PET Scan pada awal Juli 2022.
Dari hasil PET Scan diketahui bahwa ia menderita kanker tiroid papiler. Pemeriksaan CT Scan dan MRI juga menunjukkan bahwa kanker telah bermetastasis ke seluruh tulang. Kondisi ini menyebabkan nyeri yang sangat berat. Tulang pasien mengalami keropos akibat penyebaran sel kanker sehingga aktivitas sehari-hari menjadi sangat terbatas.
Rasa sakit yang dialami bahkan membuat pasien tidak dapat tidur dalam posisi terlentang dan harus beristirahat dalam posisi setengah duduk. Ia juga sempat menjalani perawatan selama 47 hari di rumah sakit untuk mengendalikan nyeri yang dirasakan.
Karena lesi kanker telah menyebar luas pada tulang, tindakan operasi tulang belakang dinilai memiliki risiko tinggi. Dokter kemudian menyarankan terapi ablasi terlebih dahulu sebagai bagian dari penanganan kanker yang dideritanya.
Baca juga: Kisah Pasien Asal Singapura Jalani Terapi Ablasi Nuklir untuk Tumor Tiroid di RS Mandaya Puri
Apa itu terapi ablasi nuklir untuk kanker tiroid?
Ablasi Tiroid dengan Radioaktif Iodine-131 (RAI) merupakan terapi kedokteran nuklir yang digunakan untuk mengurangi hingga menghancurkan jaringan kelenjar tiroid yang tumbuh secara tidak normal, seperti pada kasus hipertiroid maupun kanker tiroid. Melalui terapi ini, kelainan pada kelenjar tiroid, baik yang bersifat jinak maupun ganas, dapat ditangani tanpa perlu menjalani tindakan operasi.
Proses ablasi tiroid relatif sederhana dan terdiri dari beberapa tahapan berikut:
- Pasien akan diminta mengonsumsi radioaktif iodin-131 dalam bentuk cairan atau kapsul. Zat ini tidak memiliki warna, bau, maupun rasa sehingga prosesnya serupa dengan minum obat biasa.
- Setelah menerima terapi, pasien perlu menjalani perawatan di ruang isolasi selama sekitar tiga hingga lima hari, tergantung pada dosis yang diberikan. Langkah ini bertujuan untuk mencegah paparan radiasi kepada orang lain selama zat radioaktif masih aktif di dalam tubuh.
Selama menjalani masa isolasi di Mandaya, pasien tetap dapat beraktivitas dengan nyaman berkat berbagai fasilitas yang tersedia di kamar, antara lain Smart TV 55 inci, mesin pembuat kopi dan teh, microwave, hingga kulkas.
Baca juga: Terapi Ablasi Nuklir, Tindakan Lanjutan Setelah Operasi Kanker Tiroid
Pilih terapi ablasi nuklir di RS Mandaya Puri, Indonesia, tak perlu jauh-jauh ke luar negeri
Saat mencari informasi mengenai terapi ablasi, keluarga pasien menemukan layanan kedokteran nuklir di RS Mandaya Royal Puri. Sebelum memutuskan berobat, sang istri melakukan survei langsung untuk melihat fasilitas dan layanan yang tersedia.
Menurutnya, salah satu pertimbangan utama adalah kemampuan rumah sakit dalam merawat pasien dengan keterbatasan mobilitas akibat kanker yang telah menyebar ke tulang.
Terapi ablasi pertama dilakukan pada 14 Desember 2022. Saat itu, kadar tiroglobulin pasien berada di atas 5.000. Tiga bulan setelah terapi, hasil pemeriksaan menunjukkan penurunan signifikan hingga mencapai 792.
Meski sempat kembali meningkat, pasien kemudian menjalani terapi ablasi berikutnya pada 27 Juni 2023. Tiga bulan setelah tindakan kedua, kadar tiroglobulin kembali turun menjadi 423.

Penanganan pasien dilakukan oleh dr. Eko Purnomo, Sp.KNTM (K) Onk, dokter spesialis kedokteran nuklir di RS Mandaya Royal Puri.
Keluarga pasien mengaku merasa nyaman selama menjalani pengobatan karena mendapatkan penjelasan yang lengkap serta pendampingan yang baik dari tim medis.
Kondisi membaik setelah ablasi, kembali beraktivitas dan lebih percaya berobat di negeri sendiri
Perubahan kondisi pasien mulai dirasakan setelah menjalani terapi ablasi nuklir. Sebelum pengobatan, pasien harus menggunakan bantuan walker untuk berjalan akibat nyeri dan kelemahan yang dialaminya.
Namun setelah menjalani terapi, kemampuan fisiknya berangsur membaik hingga dapat berjalan sendiri tanpa alat bantu. Bahkan, ia kembali mampu melakukan perjalanan darat jarak jauh dari Jakarta ke Surabaya.
Selain itu, keluarga pasien juga menyampaikan bahwa pasien tidak mengalami efek samping berarti setelah menjalani terapi ablasi. Tidak ada keluhan mual maupun gangguan lain yang mengganggu aktivitas sehari-harinya.
Pengalaman tersebut membuat keluarga semakin yakin bahwa layanan kanker di Indonesia sudah mampu memberikan kualitas penanganan yang sangat baik. Menurut mereka, fasilitas medis, teknologi, dan kompetensi dokter di rumah sakit tertentu di Indonesia tidak kalah dengan yang tersedia di luar negeri.
Selain tidak perlu melakukan perjalanan jauh, pasien dan keluarga juga dapat berkomunikasi langsung dengan dokter menggunakan bahasa Indonesia sehingga proses konsultasi dan pengambilan keputusan medis menjadi lebih mudah dipahami.
Bagi keluarga pasien, keberadaan layanan ablasi nuklir di Indonesia, seperti di RS Mandaya Royal Puri, menjadi alasan kuat untuk tetap menjalani pengobatan di dalam negeri. Mereka menilai pasien kanker kini memiliki akses terhadap teknologi medis modern, dokter yang kompeten, serta fasilitas yang nyaman tanpa harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk berobat ke luar negeri.
Profil dr. Eko, dokter spesialis kedokteran nuklir yang berpengalaman dalam ablasi nuklir untuk kanker tiroid

dr. Eko Purnomo, Sp.KNTM (K) Onk merupakan dokter spesialis kedokteran nuklir dan terapi molekuler dengan konsultan onkologi yang memiliki pengalaman dalam menangani berbagai kasus kanker maupun penyakit pada kelenjar tiroid. Beliau memberikan layanan diagnosis dan terapi berbasis kedokteran nuklir, termasuk terapi ablasi tiroid, terapi untuk hipertiroid, penanganan kanker tiroid dan kanker prostat, serta berbagai pemeriksaan diagnostik seperti PET Scan, Whole Body Scan, Bone Scan, dan Renography.
Perjalanan pendidikan dr. Eko dimulai di Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta. Setelah meraih gelar dokter, beliau melanjutkan pendidikan spesialis Kedokteran Nuklir di Rumah Sakit Hasan Sadikin yang bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung. Berbekal pendidikan dan pengalaman tersebut, dr. Eko berfokus membantu pasien memperoleh diagnosis yang tepat serta terapi yang sesuai dengan kebutuhan medis masing-masing.
Bagi pasien yang ingin berkonsultasi, dr. Eko Purnomo, Sp.KNTM (K) Onk melayani praktek di RS Mandaya Royal Puri dengan jadwal sebagai berikut:
- Senin: 11.00 – 17.00 WIB
- Selasa: 11.00 – 17.00 WIB
- Rabu: 11.00 – 17.00 WIB
- Kamis: 11.00 – 17.00 WIB
- Jumat: 13.00 – 17.00 WIB.
Untuk mempermudah kunjungan Anda ke Mandaya Royal Hospital Puri, gunakan fitur Chat melalui Whatsapp, Book Appointment, atau aplikasi Care Dokter yang bisa di-download di Google Play dan App Store untuk mempermudah kunjungan, melihat nomor antrian, dan mendapatkan informasi lengkap lainnya.
*Informasi yang tersedia pada halaman ini disusun untuk tujuan edukasi dan gambaran umum, sehingga tidak mencerminkan seluruh jenis layanan medis yang dapat dilakukan oleh masing-masing dokter. Untuk memastikan penanganan yang sesuai dengan kondisi kesehatan Anda, disarankan melakukan konsultasi langsung dengan dokter terkait.
Apabila Anda memiliki pertanyaan, saran, atau membutuhkan informasi lebih lanjut, silakan menghubungi call center kami di 0811-1900-2000.

