Stimulasi Sensorik: Kunci Anak Lancar Berkomunikasi, dr. Eugene Nathania, Sp.KFR

Stimulasi Sensorik: Kunci Anak Lancar Berkomunikasi, dr. Eugene Nathania, Sp.KFR

Kemampuan anak untuk berkomunikasi dengan lancar tidak muncul begitu saja. Menurut dr. Eugene Nathania, Sp.KFR, dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi dari RS Mandaya Royal Puri, salah satu fondasi penting yang penting dipahami oleh orang tua adalah stimulasi sensorik. Sebelum anak bisa berbicara dan berkomunikasi dengan baik, otaknya perlu terlebih dahulu mengolah berbagai informasi dari indra dan lingkungan sekitarnya.

Konsultasi dokter

Apa itu integrasi sensorik?

dr. Eugene Nathania, Sp.KFR, dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi ahli terapi tumbuh kembang anak Mandaya Royal Hospital Puri.

Integrasi sensorik adalah cara otak menerima dan mengolah informasi dari tubuh serta lingkungan sekitar. Ada tujuh jenis input sensorik yang berperan, yaitu:

  • Visual (penglihatan)
  • Olfactory (penciuman)
  • Tactile (sentuhan)
  • Gustatory (pengecapan)
  • Auditory (pendengaran)
  • Vestibular (keseimbangan)
  • Proprioception (posisi tubuh).

Semua rangsangan ini tidak bekerja sendiri-sendiri. Otak perlu menyaring, menggabungkan, dan memberi makna pada informasi tersebut agar anak bisa merespons dengan tepat. Menurut dr. Eugene, pemrosesan sensorik yang baik membantu anak lebih siap untuk fokus, menjaga keseimbangan tubuh, bergerak, bermain, belajar, serta berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain.

Sederhananya: sensori masuk → otak mengolah → anak merespons dan berpartisipasi.

Tahapan otak memproses informasi sensori

Setelah rangsangan sensorik masuk, otak tidak langsung bereaksi. Ada empat tahapan yang dilalui:

  • Registrasi – menyadari dan mendeteksi adanya rangsangan.
  • Modulasi – mengatur intensitas respons terhadap stimulus, misalnya volume suara.
  • Diskriminasi – membedakan karakteristik stimulus, seperti kasar-halus atau panas-dingin.
  • Organisasi – mengkategorikan informasi agar dapat digunakan secara tepat.

dr. Eugene menjelaskan, keempat proses ini berjalan berurutan: menerima → mengatur → membedakan → mengorganisasi → menghasilkan respons adaptif.

Baca juga: Kapan Harus Membawa Anak untuk Konsultasi Tumbuh Kembang?

Dari sensori menuju respons dan kemampuan bicara

Pemrosesan sensorik bekerja sama dengan atensi (yang dipengaruhi arousal atau kesadaran) dan regulasi diri untuk membentuk persepsi. Persepsi inilah yang nantinya menghasilkan respons berupa kemampuan motorik, perilaku, bicara dan bahasa, emosional, hingga psikososial anak.

Karena itu, menurut dr. Eugene, bicara dan bahasa tidak berdiri sendiri. Kemampuan anak untuk memperhatikan, memahami informasi, merencanakan respons, dan mengeksekusinya turut mendukung proses komunikasi. Meski begitu, pemrosesan sensorik hanya mendukung kesiapan anak untuk berkomunikasi — bukan berarti semua gangguan bicara disebabkan oleh masalah sensorik.

Baca juga: Rekomendasi Dokter Spesialis Terapi Tumbuh Kembang Anak di Tangerang

Sensori sebagai fondasi kemampuan bahasa

Merujuk pada piramida perkembangan dari Maryann Trott dan Kathleen Taylor, kemampuan tingkat tinggi seperti bahasa, perilaku, aktivitas sehari-hari, dan belajar akademik tidak muncul begitu saja, melainkan dibangun di atas fondasi yang lebih dasar.

Di lapisan paling bawah terdapat sistem sensorik: sentuhan, vestibular, propriosepsi, visual, auditori, penciuman, dan pengecapan. Sistem inilah yang kemudian mendukung kontrol postur, kesadaran tubuh, perencanaan gerak, koordinasi mata-tangan, hingga kemampuan berbahasa. Artinya, fondasi sensorik yang baik membantu anak lebih siap untuk memperhatikan, memahami bahasa, dan belajar.

Komunikasi, bahasa, dan bicara: apa bedanya?

Banyak orang tua menyamakan bicara dengan komunikasi, padahal keduanya berbeda. dr. Eugene menjelaskan tiga istilah ini secara berurutan dari yang paling luas:

  • Komunikasi – proses menyampaikan dan menerima pesan, bisa lewat bicara, mendengar, membaca, menulis, gestur, atau bahasa isyarat.
  • Bahasa – sistem simbol dan aturan untuk memberi makna, meliputi bentuk (fonologi, morfologi, sintaksis), isi (semantik), dan penggunaan (pragmatik).
  • Bicara – salah satu cara mengekspresikan bahasa secara verbal, melalui koordinasi motorik, artikulasi, suara, intonasi, dan kecepatan.

Karena itu, anak yang belum banyak bicara tetap bisa berkomunikasi lewat tatapan, ekspresi, menunjuk, atau gestur. Saat menilai perkembangan anak, orang tua perlu melihat apakah anak memahami, merespons, dan menggunakan komunikasi secara fungsional,  bukan hanya menghitung jumlah kata yang sudah diucapkan.

Baca juga: Anak Usia 1 Tahun Harus Sudah Bisa Apa Saja? Ini Kata Dokter Anak 

Tahapan perkembangan bicara anak

Perkembangan bicara terjadi bertahap sejak bayi, dimulai dari menangis dan vokalisasi, lalu babbling, kata pertama, frasa, hingga kalimat yang makin kompleks. Kejelasan ucapan pun meningkat perlahan seiring bertambahnya usia. Menurut data Hustad dan koleganya (2021), pada anak dengan perkembangan tipikal:

  • Kata tunggal: 50% dapat dipahami pada usia sekitar 31 bulan, 75% pada 49 bulan, dan 90% pada 83 bulan.
  • Ujaran beberapa kata: 50% dapat dipahami pada usia sekitar 34 bulan, 75% pada 46 bulan, dan 90% pada 62 bulan.

dr. Eugene mengingatkan bahwa angka tersebut adalah median atau perkiraan umum, sehingga setiap anak bisa memiliki kecepatan perkembangan yang berbeda-beda.

Milestone komunikasi anak sejak bayi

Selain kejelasan bicara, perkembangan bahasa dan komunikasi anak juga mengikuti pola tertentu, yaitu suara → babbling → gestur → kata → gabungan kata → percakapan sederhana. Berikut gambaran umumnya:

  • 0–6 bulan: merespons suara, menatap wajah, mulai bereksperimen dengan suara.
  • 7–12 bulan: babbling, gestur seperti menunjuk dan melambaikan tangan, muncul kata pertama.
  • 13–24 bulan: kosakata bertambah, mulai menggabungkan dua kata.
  • 2–3 tahun: kalimat makin panjang dan jelas, mulai aktif bertanya.
  • Lebih dari 3 tahun: percakapan makin lancar dan kompleks.

Menurut dr. Eugene, milestone ini adalah panduan rentang perkembangan, bukan patokan usia yang kaku. Setiap anak dapat berkembang dengan kecepatannya masing-masing.

Kesimpulan: Cara Mendukung Anak Lancar Berkomunikasi

Kemampuan bahasa dan bicara anak dibangun di atas banyak fondasi. Pemrosesan sensorik membantu anak menerima dan mengorganisasi informasi sehingga ia lebih siap untuk belajar, bermain, berinteraksi, dan berkomunikasi. Perkembangan komunikasi juga berlangsung bertahap dan kecepatannya berbeda pada setiap anak, sehingga milestone sebaiknya dijadikan panduan, bukan patokan usia yang kaku.

Karena itu, dr. Eugene mengingatkan orang tua untuk tidak hanya melihat berapa banyak kata yang sudah diucapkan anak, tetapi juga apakah ia mampu merespons, memahami, menunjuk, bergiliran, berinteraksi, dan menggunakan komunikasi dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan utama untuk orang tua: berikan pengalaman sensorik yang sesuai, banyak kesempatan bermain dan berinteraksi, lalu jadikan komunikasi sebagai bagian alami dari aktivitas sehari-hari anak.

Profil dan jadwal praktik dr. Eugene Nathania, Sp.KFR

dr. Eugene Nathania, Sp.KFR

dr. Eugene Nathania, Sp.KFR merupakan dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi yang memiliki fokus pada terapi tumbuh kembang anak serta penanganan keluhan pada ibu hamil. Dalam praktiknya, beliau membantu mengevaluasi perkembangan anak berdasarkan tahapan usia, termasuk kemampuan motorik yang biasanya menjadi bagian dari pemantauan tumbuh kembang. Jika terdapat keterlambatan, dr. Eugene dapat membantu mencari kemungkinan penyebabnya dan menentukan apakah anak membutuhkan stimulasi atau terapi tertentu.

Berbagai kondisi keterlambatan perkembangan dapat ditangani, mulai dari bayi yang belum mampu tengkurap, duduk, atau berjalan hingga keterlambatan bicara. Program stimulasi diberikan sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak, termasuk melatih kemampuan motorik dasar seperti tengkurap, duduk, berdiri, dan bergerak dengan pola yang tepat.

Selain menangani tumbuh kembang anak, dr. Eugene juga membantu mengatasi keluhan pada ibu hamil, khususnya nyeri yang muncul selama kehamilan. Perubahan postur tubuh seiring bertambahnya usia kehamilan dapat memicu nyeri pada area pinggang, paha, hingga bokong. Melalui terapi yang sesuai, keluhan tersebut dapat ditangani untuk membantu mengurangi nyeri dan meningkatkan kenyamanan ibu selama kehamilan.

Jadwal praktek dr. Eugene Nathania, Sp.KFR di RS Mandaya Puri

dr. Eugene Nathania, Sp.KFR bisa ditemui di RS Mandaya Royal Puri pada:

  • Senin: 08.00 – 14.00 WIB
  • Selasa: 08.00 – 14.00 WIB
  • Rabu: 08.00 – 14.00 WIB
  • Kamis: 08.00 – 14.00 WIB
  • Jumat: 08.00 – 12.00 WIB
  • Sabtu: 08.00 – 14.00 WIB.

Untuk mempermudah kunjungan Anda ke Mandaya Royal Hospital Puri, gunakan fitur Chat melalui Whatsapp, Book Appointment, atau aplikasi Care Dokter yang bisa di-download di Google Play dan App Store untuk mempermudah kunjungan, melihat nomor antrian, dan mendapatkan informasi lengkap lainnya.

*Informasi yang tersedia pada halaman ini disusun untuk tujuan edukasi dan gambaran umum, sehingga tidak mencerminkan seluruh jenis layanan medis yang dapat dilakukan oleh masing-masing dokter. Untuk memastikan penanganan yang sesuai dengan kondisi kesehatan Anda, disarankan melakukan konsultasi langsung dengan dokter terkait.

Apabila Anda memiliki pertanyaan, saran, atau membutuhkan informasi lebih lanjut, silakan menghubungi call center kami di 0811-1900-2000.

Narasumber: dr. Eugene Nathania, Sp.KFR, dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi ahli terapi tumbuh kembang anak Mandaya Royal Hospital Puri. 

Konsultasi dokter

Need Help? Chat with us!
Start a Conversation
Hi! Click one of our members below to chat on WhatsApp
We usually reply in a few minutes