Penyakit jantung koroner atau coronary artery disease (CAD) merupakan kondisi ketika pembuluh darah koroner yang bertugas memasok darah kaya oksigen ke otot jantung mengalami penyempitan atau penyumbatan. Kondisi ini umumnya terjadi akibat penumpukan plak, termasuk kolesterol, di dalam pembuluh darah sehingga aliran darah menuju jantung menjadi terbatas.
Penyumbatan pembuluh darah koroner dapat memiliki tingkat keparahan yang berbeda. Pada salah satu pasien RS Mandaya Royal Puri, penyumbatan ditemukan dalam kondisi parah, yaitu mencapai sekitar 95%. Kondisi tersebut membuat pasien perlu menjalani operasi bypass jantung untuk membantu mengembalikan aliran darah ke otot jantung. Tindakan dilakukan dengan metode minimal invasif atau Minimally Invasive Cardiac Surgery (MICS) tanpa belah dada bersama dr. Wirya Ayu Graha, Sp. BTKV, Subsp. JD (K).
Tiga hari setelah operasi, kondisi pasien sudah membaik dan bahkan sudah dapat berjalan sendiri tanpa alat bantu. “(Tiga hari pascaoperasi), Alhamdulillah sudah membaik dan kemungkinan nanti sore kita sudah bisa pulang. Sejauh ini tidak ada (masalah) ya, hanya perih-perih karena mungkin bekas sayatan luka,” kata pasien.
Contents
Berawal dari dada sesak, panas, dan keringat dingin
Pasien ini bernama Lulus Widodo, berusia 47 tahun dan berasal dari Cipondoh Makmur. Sebelum menjalani operasi bypass jantung, pasien mengalami keluhan berupa dada terasa sesak dan panas, disertai keringat dingin. Keluhan tersebut sebenarnya sudah mulai dirasakan sejak akhir Januari, tetapi pada awalnya tidak terlalu diperhatikan. Seiring waktu, keluhan semakin sering dan berat sehingga pasien memutuskan untuk memeriksakan diri ke dr. Wirya di RS Mandaya Royal Puri.
Dari hasil pemeriksaan dan evaluasi dokter, diketahui bahwa pasien mengalami penyumbatan pembuluh darah koroner hingga sekitar 95%. Dengan kondisi tersebut, pasien kemudian disarankan menjalani operasi bypass jantung. Keputusan untuk menjalani tindakan dibuat dalam waktu relatif singkat setelah pasien mendapatkan penjelasan mengenai kondisinya dan berdiskusi dengan dokter serta tim medis di RS Mandaya Royal Puri.
Salah satu hal yang menjadi pertimbangan pasien adalah pilihan metode operasi. Pasien mendapatkan penjelasan mengenai perbedaan metode bypass jantung konvensional dan metode minimal invasif atau MICS. Berbeda dengan operasi bypass konvensional yang membutuhkan sayatan di bagian tengah dada, metode MICS dilakukan melalui sayatan yang lebih kecil di area bawah dada, dengan panjang sekitar 5–6 cm.
Sebelum menjalani tindakan, pasien sempat mencari informasi lebih lanjut mengenai MICS karena sebelumnya mengira metode tersebut hanya tersedia di luar negeri. Setelah mengetahui bahwa metode ini sudah tersedia di Indonesia, pasien semakin yakin untuk mempertimbangkannya sebagai pilihan bersama dokter.
Pasien mengaku sempat merasa kaget ketika mengetahui dirinya membutuhkan operasi bypass, terlebih karena masih berusia 47 tahun dan rutin berolahraga. Namun, berdasarkan penjelasan dokter, terdapat beberapa faktor yang dapat berperan terhadap kondisi tersebut, termasuk faktor genetik dan pola makan yang kurang seimbang. Pasien juga memiliki riwayat keluarga dengan penyakit jantung.
Pemulihan setelah bypass jantung dengan metode MICS
Tiga hari setelah menjalani operasi bypass jantung dengan metode MICS, kondisi pasien menunjukkan perkembangan yang baik. Pasien sudah dapat berjalan sendiri tanpa alat bantu dan mulai melakukan aktivitas ringan di lorong rumah sakit. Rasa perih masih dirasakan pada area bekas sayatan, tetapi secara keseluruhan tidak terdapat keluhan yang dianggap mengganggu.
Proses pemulihan tetap membutuhkan waktu dan dilakukan secara bertahap, termasuk melalui fisioterapi. Pasien juga mengalami batuk dan napas yang masih terasa lebih berat selama masa awal pemulihan. Berdasarkan penjelasan dokter, proses pemulihan membutuhkan waktu setidaknya sekitar dua minggu, sehingga pasien tetap perlu mengikuti anjuran perawatan dan menjalani proses rehabilitasi secara bertahap.
Ukuran sayatan yang lebih kecil menjadi salah satu hal yang dirasakan pasien selama masa pemulihan. Pada metode MICS, akses menuju jantung dilakukan melalui sayatan yang lebih kecil dibandingkan operasi bypass jantung konvensional yang menggunakan sayatan di tengah dada. Hal ini membuat prosedur MICS menjadi salah satu pendekatan minimal invasif yang dapat dipertimbangkan pada pasien yang memenuhi kriteria untuk menjalani tindakan tersebut.
Selain tindakan medis, pengalaman pasien selama menjalani perawatan di RS Mandaya Royal Puri juga mencakup pelayanan dari tim medis dan tenaga keperawatan. Pasien menilai dokter memberikan penjelasan mengenai prosedur secara jelas dan terperinci sehingga informasi yang disampaikan dapat dipahami sebelum tindakan. Respons tenaga keperawatan juga dirasakan cepat, sementara pilihan makanan selama perawatan cukup beragam.
Mengenal operasi bypass jantung metode MICS dan keunggulannya

Operasi bypass jantung metode MICS merupakan prosedur operasi bypass jantung dengan teknik minimal invasif untuk membuat jalur baru bagi aliran darah pada pembuluh darah koroner yang menyempit atau tersumbat.
Berbeda dengan operasi bypass jantung konvensional yang dilakukan dengan membuka tulang dada, MICS CABG menggunakan alat khusus melalui sayatan kecil berukuran sekitar 7–10 cm di area tulang rusuk atau di bawah dada kiri. Melalui sayatan tersebut, dokter membuat pembuluh darah baru sebagai jalur alternatif agar aliran darah dapat melewati bagian pembuluh koroner yang mengalami penyumbatan.
Selama prosedurnya, jantung tetap berdetak, tidak seperti bypass jantung konvensional yang kerap perlu menghentikan jantung sementara. Dokter menggunakan alat khusus untuk menjaga bagian jantung yang sedang ditangani tetap stabil sehingga pembuluh darah dapat disambungkan dengan tepat tanpa banyak mengganggu kerja jantung.
Karena dilakukan dengan sayatan yang lebih kecil, MICS CABG dapat mengurangi trauma pada jaringan dan pembuluh darah serta membantu proses pemulihan menjadi lebih cepat.
Beberapa keunggulan MICS CABG antara lain:
- Tidak perlu membelah tulang dada, berbeda dengan operasi bypass jantung konvensional.
- Sayatan lebih kecil, sekitar 7–10 cm dan berada di bawah payudara kiri sehingga lebih tersembunyi.
- Trauma pada jaringan dan pembuluh darah lebih sedikit.
- Kehilangan darah lebih sedikit selama prosedur.
- Rasa nyeri setelah operasi dapat lebih ringan.
- Dapat membantu mengurangi risiko komplikasi tertentu, terutama pada pasien dengan kondisi yang mendasari seperti diabetes atau pasien lanjut usia.
- Pemulihan lebih cepat dengan waktu perawatan yang relatif lebih singkat. Aktivitas kerja ringan umumnya dapat kembali dilakukan sekitar 3–4 minggu setelah operasi, sesuai kondisi dan evaluasi.
Jangan disepelekan, ini komplikasi penyakit jantung koroner yang harus diwaspadai
Penyakit jantung koroner yang semakin parah dapat menyebabkan beberapa komplikasi, seperti:
- Nyeri dada (angina): terjadi ketika aliran darah ke otot jantung tidak mencukupi akibat penyempitan pembuluh darah.
- Serangan jantung: dapat terjadi ketika bekuan darah menyumbat pembuluh darah dan menghambat aliran darah ke jantung.
- Gagal jantung: penyempitan pembuluh darah atau tekanan darah tinggi dalam jangka panjang dapat membuat jantung melemah atau menjadi kaku sehingga sulit memompa darah.
- Gangguan irama jantung (aritmia): kurangnya aliran darah ke jantung dapat mengganggu sistem kelistrikan jantung dan menyebabkan detak jantung tidak teratur.
Tanda-tanda penyumbatan jantung yang perlu segera diperiksakan ke dokter
Nyeri atau rasa tidak nyaman di dada merupakan salah satu gejala penyakit jantung koroner yang paling umum. Kondisi ini dapat terjadi ketika penumpukan plak membuat pembuluh darah koroner menyempit sehingga aliran darah ke otot jantung berkurang.
Pada sebagian orang, tanda pertama penyakit jantung koroner justru muncul saat mengalami serangan jantung. Beberapa gejalanya meliputi:
- Nyeri atau rasa tidak nyaman di dada.
- Lemas, pusing, mual, atau keringat dingin.
- Nyeri atau rasa tidak nyaman pada lengan atau bahu.
- Sesak napas.
Jika berlangsung dalam jangka panjang, penyakit jantung koroner juga dapat melemahkan otot jantung dan meningkatkan risiko gagal jantung, yaitu kondisi ketika jantung tidak mampu memompa darah secara optimal. Segera ke dokter jika gejala-gejala di atas terjadi pada diri Anda.
Baca juga: Ini Ciri-ciri Penyempitan Pembuluh Darah Jantung yang Wajib Diwaspadai
Profil dan jadwal praktek dr. Wirya di RS Mandaya Royal Puri

dr. Wirya A. Graha, Sp.BTKV, Subsp. JD (K) merupakan dokter spesialis bedah toraks, kardiak, dan vaskular dengan subspesialisasi bedah jantung dewasa. Beliau berpengalaman dalam menangani berbagai tindakan bedah jantung dan pembuluh darah. Pendidikan Spesialis Bedah Toraks dan Kardiovaskular ditempuh di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Selain mendalami teknik bedah jantung konvensional, dr. Wirya juga memiliki keahlian dalam teknik bedah minimal invasif.
Dalam praktiknya, dr. Wirya menangani MICS, yaitu teknik operasi jantung yang dilakukan melalui sayatan kecil tanpa perlu membuka tulang dada secara penuh. Pendekatan ini dapat mengurangi trauma pada tubuh dan membantu proses pemulihan pasien. Untuk memperluas pengalaman dan pengetahuannya di bidang bedah jantung dan pembuluh darah, dr. Wirya juga mengikuti berbagai pelatihan dan konferensi internasional, di antaranya:
- 2017: 25th Annual Meeting of the Asian Society for Cardiovascular and Thoracic Surgery, Seoul, Korea Selatan.
- 2018: 28th Annual Meeting of the Association of Thoracic and Cardiovascular Surgeons of Asia.
- 2019: 1st Joint Biennial South East Asian Regional Congress on Cardiovascular and Thoracic Surgery bersama 20th MATCVS Annual Scientific Meeting, Malaka.
- 2021: 25th European Vascular Course dan 5th European Cardiovascular Course.
dr. Wirya A. Graha, Sp.BTKV, Subsp. JD (K) dapat ditemui di Mandaya Royal Hospital Puri pada jadwal berikut:
- Selasa: 16.30–20.00 WIB.
- Kamis: 16.30–20.00 WIB.
- Sabtu: 10.00–13.00 WIB.
Untuk mempermudah kunjungan Anda ke Mandaya Royal Hospital Puri, gunakan fitur Chat melalui Whatsapp, Book Appointment, atau aplikasi Care Dokter yang bisa di-download di Google Play dan App Store untuk mempermudah kunjungan, melihat nomor antrian, dan mendapatkan informasi lengkap lainnya.
*Informasi yang tersedia pada halaman ini disusun untuk tujuan edukasi dan gambaran umum, sehingga tidak mencerminkan seluruh jenis layanan medis yang dapat dilakukan oleh masing-masing dokter. Untuk memastikan penanganan yang sesuai dengan kondisi kesehatan Anda, disarankan melakukan konsultasi langsung dengan dokter terkait.
Apabila Anda memiliki pertanyaan, saran, atau membutuhkan informasi lebih lanjut, silakan menghubungi call center kami di 0811-1900-2000.
Referensi:
- Cleveland Clinic. Coronary Artery Disease. (https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/16898-coronary-artery-disease). Diakses pada 30 September 2026.
- Bangkok Hospital. MICS CABG. (https://www.bangkokhospital.com/en/bangkok-heart/content/mics-cabg). Diakses pada 30 September 2026.
- Mayo Clinic. Coronary artery disease – Symptoms and causes. (https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/coronary-artery-disease/symptoms-causes/syc-20350613). Diakses pada 30 September 2026.
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). About Coronary Artery Disease. (https://www.cdc.gov/heart-disease/about/coronary-artery-disease.html). Diakses pada 30 September 2026.

