Hipospadia adalah kelainan bawaan pada bayi laki-laki yang terjadi sejak masih berada di dalam kandungan. Pada kondisi ini, lubang saluran kencing (uretra) tidak berada di ujung penis, melainkan terletak di bagian bawah penis. Uretra sendiri merupakan saluran yang berfungsi mengalirkan urine dari kandung kemih ke luar tubuh. Hipospadia termasuk kelainan bawaan yang cukup sering ditemukan dan umumnya dapat dikenali sejak bayi lahir.
Sebagian besar kasus hipospadia dapat ditangani dengan baik melalui operasi. Tindakan operasi bertujuan untuk memperbaiki posisi lubang uretra sehingga fungsi buang air kecil menjadi normal sekaligus membentuk penis agar tampak dan berfungsi sebagaimana mestinya. Dengan penanganan yang tepat, sebagian besar anak dengan hipospadia dapat tumbuh dengan fungsi saluran kemih dan fungsi reproduksi yang baik saat dewasa.

Baru-baru ini, dokter spesialis urologi konsultan urologi pediatrik RS Mandaya Royal Puri, dr. Hendy Mirza, Sp.U (K), berhasil menangani kasus hipospadia pada seorang anak. Berbekal pengalaman dalam menangani berbagai kelainan urologi pada anak, dr. Hendy melakukan penanganan yang disesuaikan dengan kondisi pasien untuk membantu mengembalikan fungsi saluran kemih sekaligus mendukung pertumbuhan organ reproduksi yang optimal.
Contents
Penjelasan kondisi hipospadia dan prosedur operasinya oleh dr. Hendy Mirza, Sp.U (K)
Menurut dr. Hendy, hipospadia merupakan kelainan bawaan pada penis yang dapat memengaruhi fungsi buang air kecil, sehingga memerlukan penanganan yang disesuaikan dengan tingkat keparahannya.
Menurut dr. Hendy, salah satu karakteristik utama hipospadia adalah posisi lubang saluran kencing yang tidak berada di ujung penis. Akibatnya, aliran urine menjadi tidak normal dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari pasien.
“Pasien ini terlahir dengan kelainan pada penisnya dengan hipospadia, di mana lubang penisnya tidak terletak di ujung, tapi agak mundur ke pangkalnya ke daerah batang penisnya sehingga pasien ini kencingnya tidak normal,” ujar dr. Hendy.
Selain letak lubang uretra yang tidak normal, sebagian pasien hipospadia juga dapat mengalami penyempitan lubang saluran kencing serta kelengkungan pada penis (chordee). Oleh karena itu, tujuan operasi tidak hanya memindahkan lubang uretra ke posisi yang semestinya, tetapi juga memperbaiki bentuk penis agar dapat berfungsi dengan optimal.
dr. Hendy menjelaskan bahwa salah satu prinsip utama dalam operasi hipospadia atau uretroplasti adalah meluruskan penis yang bengkok sebelum melakukan rekonstruksi saluran kencing.
“Jadi prinsip operasi hipospadia atau uretroplasti itu pertama kita harus meluruskan penis yang bengkok dulu, karena salah satu bentuk kelainan dari hipospadia itu adalah penis yang bengkok,” lanjutnya.
Teknik operasi yang digunakan akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Setelah tindakan selesai, pasien umumnya menjalani kontrol sekitar satu minggu kemudian untuk mengevaluasi proses penyembuhan dan memastikan fungsi buang air kecil sudah kembali berjalan dengan baik.
Kenali jenis-jenis hipospadia
Jenis hipospadia dibedakan berdasarkan letak lubang saluran kencing (uretra) pada penis. Semakin jauh posisi lubang uretra dari ujung penis, umumnya kondisi hipospadia semakin berat. Berikut jenis-jenis hipospadia yang perlu diketahui:
1. Hipospadia glanular (balanik)
Hipospadia glanular terjadi ketika lubang saluran kencing berada di kepala penis, tetapi tidak tepat di ujungnya. Ini merupakan jenis hipospadia yang paling ringan dan paling mudah ditangani.
2. Hipospadia koronal
Hipospadia koronal adalah jenis yang paling sering ditemukan. Pada kondisi ini, lubang saluran kencing berada tepat di bawah kepala penis, yaitu di perbatasan antara kepala dan batang penis.
3. Hipospadia midshaft
Pada hipospadia midshaft, lubang saluran kencing berada di bagian tengah batang penis. Kondisi ini biasanya memerlukan tindakan operasi untuk memperbaiki fungsi dan posisi uretra.
4. Hipospadia penoskrotal
Hipospadia penoskrotal terjadi ketika lubang saluran kencing berada di area pertemuan antara batang penis dan kantung zakar (skrotum). Jenis ini tergolong lebih berat dibandingkan jenis sebelumnya.
5. Hipospadia skrotal atau perineal
Ini merupakan jenis hipospadia yang paling berat. Lubang saluran kencing berada di kantung zakar (skrotum) atau bahkan lebih ke bawah, yaitu di area di antara skrotum dan anus (perineum). Penanganan kondisi ini umumnya lebih kompleks dan memerlukan operasi rekonstruksi oleh dokter spesialis urologi yang berpengalaman.
Baca juga: Penjelasan Hipospadia dan Pengobatannya oleh dr. Hendy Mirza dari RS Mandaya Puri
Apa saja gejala hipospadia pada anak?
Gejala utama hipospadia adalah lubang saluran kencing (uretra) tidak berada di ujung penis, melainkan di bagian bawah penis. Selain itu, anak dengan hipospadia juga dapat mengalami beberapa gejala berikut:
- Aliran urine tidak lurus saat buang air kecil. Urine dapat menyembur ke samping atau mengarah ke bawah sehingga anak kesulitan buang air kecil dalam posisi berdiri. Pada beberapa kasus, kondisi ini juga dapat menyebabkan iritasi pada kulit di sekitar area genital.
- Kulup penis tidak berkembang sempurna. Kulup hanya menutupi sebagian kepala penis sehingga bentuknya tampak tidak normal. Karena kulup sering digunakan sebagai jaringan untuk operasi perbaikan hipospadia, anak dengan kondisi ini sebaiknya tidak disunat terlebih dahulu sebelum diperiksa oleh dokter spesialis urologi.
- Penis tampak melengkung ke bawah (chordee). Kelengkungan ini dapat terlihat saat penis ereksi dan pada beberapa kasus dapat memengaruhi fungsi penis jika tidak ditangani.
- Testis belum turun ke dalam kantung zakar (kriptorkismus). Pada sebagian anak, salah satu atau kedua buah zakar belum berada di dalam skrotum saat lahir dan memerlukan evaluasi lebih lanjut oleh dokter.
Jika orang tua menemukan satu atau beberapa tanda di atas pada bayi atau anak laki-laki, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter spesialis urologi agar dapat dilakukan pemeriksaan dan penanganan sedini mungkin.
Penyebab dan cara mencegah hipospadia
Hingga saat ini, penyebab pasti hipospadia belum diketahui. Namun, para ahli meyakini bahwa kondisi ini terjadi akibat kombinasi faktor genetik dan lingkungan yang memengaruhi perkembangan organ reproduksi bayi selama masih berada di dalam kandungan.
Beberapa faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko hipospadia meliputi:
- Faktor keturunan. Risiko hipospadia lebih tinggi jika ayah atau saudara laki-laki juga lahir dengan kondisi yang sama. Hipospadia juga dapat berkaitan dengan beberapa kelainan genetik tertentu.
- Program atau terapi kesuburan. Penggunaan terapi hormon atau obat-obatan tertentu untuk membantu kehamilan diduga dapat meningkatkan risiko, meski masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
- Usia dan kondisi kesehatan ibu. Risiko hipospadia cenderung lebih tinggi pada bayi yang lahir dari ibu berusia di atas 35 tahun, mengalami obesitas, atau sudah menderita diabetes sebelum hamil.
- Paparan rokok dan pestisida selama kehamilan. Zat-zat tertentu dari asap rokok maupun pestisida diduga dapat memengaruhi perkembangan janin.
- Bayi lahir prematur. Bayi yang lahir sebelum usia kehamilan cukup bulan diketahui memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipospadia.
Meskipun tidak semua kasus hipospadia dapat dicegah, ibu hamil dapat mengurangi risikonya dengan menerapkan pola hidup sehat selama kehamilan, seperti:
- Tidak merokok dan tidak mengonsumsi minuman beralkohol.
- Menjaga berat badan tetap sehat sebelum dan selama kehamilan.
- Mengonsumsi asam folat sebanyak 400–800 mikrogram (mcg) per hari sesuai anjuran dokter.
- Rutin melakukan pemeriksaan kehamilan agar kondisi ibu dan janin dapat dipantau secara berkala.
Langkah-langkah tersebut tidak dapat menjamin bayi terhindar dari hipospadia, tetapi dapat membantu mendukung pertumbuhan dan perkembangan janin yang lebih optimal selama masa kehamilan.
Konsultasi dengan dr. Hendy Mirza Sp.U (K) di Mandaya Royal Hospital Puri

dr. Hendy Mirza, Sp.U (K) adalah dokter spesialis urologi konsultan urologi pediatrik di RS Mandaya Royal Puri yang berpengalaman dalam menangani berbagai kelainan saluran kemih pada anak maupun dewasa, termasuk hipospadia, kelainan bawaan saluran kemih, batu saluran kemih, hingga pembesaran prostat. Beliau menyelesaikan pendidikan dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, kemudian melanjutkan pendidikan Dokter Spesialis Bedah Urologi di Universitas Indonesia. Setelah itu, dr. Hendy menempuh Fellowship Rekonstruksi Pediatrik (Laparoskopi) di Universitas Indonesia dan meraih kompetensi sebagai Konsultan Urologi Pediatrik.
Selain memiliki keahlian dalam operasi rekonstruksi saluran kemih pada anak, dr. Hendy juga menangani berbagai tindakan urologi, seperti operasi ginjal, PCNL (Percutaneous Nephrolithotomy), ESWL, ureterorenoskopi, biopsi prostat, TURP, TUNA (Transurethral Needle Ablation), pemeriksaan dan USG prostat, retrograde pyelografi (RPG), lithoclast, hingga tindakan bedah saluran kemih dan sirkumsisi (sunat). Dengan pengalaman dan kompetensinya, dr. Hendy memberikan penanganan urologi yang komprehensif sesuai dengan kondisi dan kebutuhan setiap pasien.
dr. Hendy Mirza, Sp.U (K) bisa ditemui di RS Mandaya Royal Puri pada:
- Senin: 16.00 – 19.00 WIB
- Rabu: 16.00 – 19.00 WIB
- Jumat: 16.00 – 19.00 WIB.
Untuk mempermudah kunjungan Anda ke Mandaya Royal Hospital Puri, gunakan fitur Chat melalui Whatsapp, Book Appointment, atau aplikasi Care Dokter yang bisa di-download di Google Play dan App Store untuk mempermudah kunjungan, melihat nomor antrian, dan mendapatkan informasi lengkap lainnya.
*Informasi yang tersedia pada halaman ini disusun untuk tujuan edukasi dan gambaran umum, sehingga tidak mencerminkan seluruh jenis layanan medis yang dapat dilakukan oleh masing-masing dokter. Untuk memastikan penanganan yang sesuai dengan kondisi kesehatan Anda, disarankan melakukan konsultasi langsung dengan dokter terkait.
Apabila Anda memiliki pertanyaan, saran, atau membutuhkan informasi lebih lanjut, silakan menghubungi call center kami di 0811-1900-2000.
Referensi:
- Mayo Clinic. Hypospadias. (https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hypospadias/symptoms-causes/syc-20355148). Diperbarui terakhir 14 September 2024. Diakses pada 3 Agustus 2026.
- Cleveland Clinic. Hypospadias. (https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/15060-hypospadias). Diperbarui terakhir 17 Oktober 2022. Diakses pada 3 Agustus 2026.
- WebMD. What Is Hypospadias? (https://www.webmd.com/parenting/baby/what-is-hypospadias). Diperbarui terakhir 18 Januari 2024. Diakses pada 3 Agustus 2026.

