Kolaborasi Dokter THT & Bedah Saraf RS Mandaya Puri Berhasil Angkat Tumor Otak Lewat Hidung

Kolaborasi Dokter THT & Bedah Saraf RS Mandaya Puri Berhasil Angkat Tumor Otak Lewat Hidung

Makroadenoma pituitari merupakan tumor yang umumnya bersifat jinak dan berasal dari pertumbuhan jaringan kelenjar pada kelenjar pituitari dengan ukuran lebih dari 10 mm. Sementara itu, tumor pituitari yang berukuran kurang dari 10 mm disebut mikroadenoma. Istilah “makro” pada makroadenoma sendiri merujuk pada ukuran tumor yang lebih besar.

Meskipun sebagian besar makroadenoma pituitari bersifat jinak, tumor ini tetap dapat menimbulkan berbagai gejala ketika ukurannya semakin besar dan menekan struktur otak atau jaringan di sekitarnya. Makroadenoma juga dapat menyebabkan gangguan karena menghasilkan hormon secara berlebihan, yang pada akhirnya dapat memengaruhi berbagai fungsi tubuh.

Dr. dr. Mardjono Joy Tjahjadi, Sp.BS, Subsp. N-Vas, F. N-Onk, PhD, FICS, IFAANS
Dr. dr. Mardjono Joy Tjahjadi, Sp.BS, Subsp. N-Vas, F. N-Onk, PhD, FICS, IFAANS
dr. Zuki Saputra, Sp.THT-BKL

Penanganan tumor pituitari berukuran besar membutuhkan pendekatan yang tepat, terutama karena lokasinya berada di dasar otak dan berdekatan dengan berbagai struktur penting. Baru-baru ini, tim dokter RS Mandaya Royal Puri yang terdiri dari dr. Zuki Saputra, Sp.THT-BKL dan Dr. dr. Mardjono Joy Tjahjadi, Sp.BS, Subsp. N-Vas, F. N-Onk, PhD, FICS, IFAANS, berkolaborasi untuk mengangkat tumor otak makroadenoma pituitari  melalui hidung. Tindakan tersebut dilakukan menggunakan prosedur Endoscopic Endonasal Transsphenoidal Surgery (EETS), yaitu teknik operasi minimal invasif yang memungkinkan dokter mencapai area tumor melalui rongga hidung tanpa perlu membuka tulang tengkorak dari atas.

Konsultasi dokter

Penjelasan kondisi pasien dan prosedur EETS 

EETS EETS EETS

Menurut dr. Zuki, tindakan yang dilakukan pada pasien tersebut merupakan operasi untuk mengangkat pituitari makroadenoma yang dilakukan melalui lubang hidung. Prosedur ini dikenal sebagai EETS.

Pada prosedur EETS, dokter menggunakan lubang hidung sebagai jalur untuk mencapai lokasi tumor yang berada di area sella atau sellar region. Area tumor pituitari sendiri berada berdekatan dengan sinus sfenoid, yaitu salah satu rongga sinus yang terletak di bagian belakang rongga hidung.

Dalam tindakan ini, tim dokter THT berperan mempersiapkan dan membuka akses melalui rongga hidung menuju lokasi tumor. Setelah akses tersedia, dokter bedah saraf dapat memasukkan endoskop beserta instrumen operasi melalui hidung untuk mencapai dan mengangkat tumor.

Operasi ini merupakan hasil kolaborasi antara tim THT dan tim bedah saraf. Tim THT membantu mempersiapkan jalur melalui hidung sekaligus menjaga kondisi rongga hidung selama proses operasi, sehingga dokter bedah saraf dapat memperoleh akses menuju lokasi tumor.

Pada kasus tersebut, pasien merupakan seorang laki-laki berusia 66 tahun yang datang dengan keluhan gangguan penglihatan. Setelah operasi selesai, tim dokter menggunakan endoskopi dengan visualisasi high definition serta berbagai instrumen pendukung untuk membantu proses pengangkatan tumor.

Menurut dr. Zuki, selain dukungan teknologi, kolaborasi antara tim THT dan bedah saraf menjadi salah satu bagian penting dalam pelaksanaan operasi tersebut. Kerja sama kedua tim memungkinkan akses menuju tumor dipersiapkan dengan baik sehingga proses pengangkatan tumor dapat dilakukan secara cepat, akurat, dan optimal. 

Tujuan EETS

EETS dilakukan terutama untuk mengangkat tumor pada kelenjar pituitari sekaligus mempertahankan fungsi kelenjar tersebut semaksimal mungkin. Tindakan ini juga bertujuan mengurangi risiko tumor kembali tumbuh dan mencegah tumor menekan struktur penting di sekitarnya.

Selain mengangkat tumor, EETS dapat dilakukan untuk beberapa tujuan berikut:

  • Mengurangi gejala akibat tumor, seperti sakit kepala dan gangguan penglihatan yang muncul karena tumor menekan jaringan di sekitar kelenjar pituitari.
  • Mengatasi gangguan produksi hormon, terutama ketika tumor menyebabkan kelenjar pituitari menghasilkan hormon secara berlebihan atau mengganggu keseimbangan hormon tubuh.
  • Menghentikan atau mengendalikan pertumbuhan tumor agar tidak semakin menekan kelenjar pituitari, saraf optik, maupun struktur otak di sekitarnya.
  • Mengambil sampel jaringan tumor untuk biopsi, sehingga dokter dapat mengetahui karakteristik dan jenis tumor serta menentukan penanganan selanjutnya.
  • Mengurangi ukuran tumor, apabila pengangkatan seluruh tumor dinilai terlalu berisiko. Pengurangan massa tumor juga dapat membantu terapi tambahan menjadi lebih efektif.
  • Menangani pituitary apoplexy, yaitu kondisi ketika terjadi perdarahan secara tiba-tiba atau gangguan aliran darah di dalam tumor pituitari yang dapat menimbulkan kondisi darurat.
  • Menangani akromegali, yaitu kelainan akibat produksi hormon pertumbuhan yang berlebihan dan pada banyak kasus disebabkan oleh tumor pada kelenjar pituitari.

Baca juga: Operasi Tumor Otak Via Hidung oleh Dr. Joy, Pasien Dapat Melihat Kembali

Kondisi yang dapat ditangani dengan EETS

EETS terutama digunakan untuk menangani tumor atau kelainan yang berada di sekitar kelenjar pituitari dan dasar tengkorak. Beberapa kondisi yang dapat ditangani dengan pendekatan ini antara lain:

  • Adenoma pituitari, yaitu tumor yang berasal dari sel kelenjar pituitari. Tumor ini dapat bersifat fungsional dan menghasilkan hormon berlebih atau tidak menghasilkan hormon tertentu.
  • Craniopharyngioma, yaitu tumor yang umumnya bersifat jinak dan berkembang dari jaringan di sekitar tangkai kelenjar pituitari. Pada kondisi tertentu, tumor dapat tumbuh hingga mendekati atau masuk ke ventrikel ketiga otak.
  • Kista Rathke’s cleft, yaitu kista berisi cairan yang terbentuk di area antara bagian anterior dan posterior kelenjar pituitari.
  • Meningioma, yaitu tumor yang berasal dari meninges atau selaput yang melapisi dan melindungi otak serta sumsum tulang belakang.
  • Chordoma, yaitu jenis tumor ganas yang dapat tumbuh pada tulang di dasar tengkorak.

Konsultasi dokter

Prosedur EETS

Pelaksanaan EETS umumnya dilakukan dengan anestesi umum atau bius total. Sebelum menjalani operasi, pasien akan mendapatkan sejumlah persiapan untuk memastikan kondisi tubuh cukup aman untuk menjalani tindakan.

Sebelum EETS dilakukan

Pasien biasanya diminta berpuasa sebelum operasi, termasuk tidak makan dan minum sejak waktu yang telah ditentukan oleh dokter. Dokter juga akan meninjau obat-obatan yang sedang dikonsumsi. Beberapa jenis obat mungkin perlu dihentikan sementara, terutama obat yang dapat meningkatkan risiko perdarahan. Namun, penghentian obat harus dilakukan berdasarkan instruksi dokter dan tidak boleh dilakukan secara mandiri.

Sebelum operasi, pasien juga dapat menjalani pemeriksaan penunjang, seperti tes darah, pemeriksaan jantung, dan foto rontgen dada. Dokter anestesi kemudian akan mengevaluasi hasil pemeriksaan tersebut untuk memastikan pasien siap menjalani anestesi dan operasi.

Selama prosedur EETS

EETS dapat berlangsung selama beberapa jam, tergantung pada ukuran, lokasi, dan karakteristik tumor. Dalam pelaksanaannya, prosedur ini dapat melibatkan kolaborasi antara dokter spesialis THT dan dokter spesialis bedah saraf.

Secara umum, tahapan operasi meliputi:

  1. Memasukkan endoskop melalui hidung. Dokter THT memasukkan endoskop, yaitu alat berbentuk tabung kecil yang dilengkapi kamera dan sumber cahaya, melalui rongga hidung.
  2. Mencapai sinus sfenoid. Endoskop diarahkan melewati rongga hidung menuju sinus sfenoid yang terletak di bagian belakang rongga hidung.
  3. Membuka akses melalui sinus sfenoid. Dokter membuat akses pada sinus sfenoid untuk mencapai area yang berada di belakangnya.
  4. Membuka bagian dasar tengkorak. Dokter membuat bukaan pada bagian belakang sinus sfenoid untuk memperoleh akses menuju area kelenjar pituitari.
  5. Menentukan lokasi tumor. Pada kondisi tertentu, pencitraan seperti MRI dapat digunakan sebagai panduan selama tindakan untuk membantu dokter mengidentifikasi lokasi serta batas tumor.
  6. Mengangkat tumor. Setelah area kelenjar pituitari dapat dijangkau, dokter bedah saraf mengangkat tumor secara bertahap melalui akses yang telah dibuat, biasanya dalam potongan-potongan kecil.
  7. Menutup dan menyelesaikan tindakan. Setelah pengangkatan tumor selesai, endoskop dikeluarkan. Dokter kemudian dapat menggunakan bahan tertentu pada area operasi untuk membantu proses penutupan dan pemulihan jaringan.

Setelah menjalani EETS

Setelah operasi selesai, pasien biasanya masih perlu menjalani pemantauan di rumah sakit. Lama perawatan dapat berbeda pada setiap pasien, tetapi pada kondisi tertentu pasien dapat menjalani perawatan selama sekitar satu hingga dua hari.

Selama masa pemulihan, tim medis akan memantau kondisi pasien, termasuk fungsi kelenjar pituitari, keseimbangan cairan, serta jumlah urine yang dikeluarkan. Pasien juga akan diarahkan untuk mulai bergerak dan berjalan secara bertahap sesuai dengan kondisi tubuh.

Setelah diperbolehkan pulang, dokter dapat memberikan beberapa anjuran untuk mendukung proses pemulihan, seperti:

  • Mengonsumsi obat pereda nyeri sesuai resep dokter untuk membantu mengatasi rasa sakit atau sakit kepala setelah operasi.
  • Membatasi aktivitas fisik tertentu, termasuk mengangkat beban berat dan mengejan, hingga dokter menyatakan aktivitas tersebut sudah aman.
  • Menjalani kontrol secara berkala untuk memantau kondisi setelah operasi dan fungsi kelenjar pituitari.
  • Melakukan pemeriksaan MRI lanjutan untuk mengevaluasi area operasi dan melihat kemungkinan adanya sisa tumor atau pertumbuhan tumor kembali.
  • Menjalani pemeriksaan penglihatan untuk mengevaluasi kondisi fungsi penglihatan setelah tumor diangkat.

Baca juga: Dr. Joy Operasi Tumor Otak Lewat Hidung, Endoscopic Endonasal Transsphenoidal (EETH)

Manfaat EETS

Tumor pada kelenjar pituitari dapat memengaruhi keseimbangan hormon dan menekan saraf optik sehingga menyebabkan gangguan penglihatan. Dengan mengangkat tumor, tekanan pada struktur di sekitarnya dapat dikurangi dan pada sebagian pasien, fungsi penglihatan maupun keseimbangan hormon dapat mengalami perbaikan.

EETS juga merupakan pendekatan minimal invasif karena dokter mencapai tumor melalui rongga hidung tanpa perlu membuat sayatan besar pada kepala atau membuka tengkorak seperti pada prosedur craniotomy. Pada kondisi yang sesuai, pendekatan ini dapat memberikan sejumlah keuntungan, seperti:

  • Sayatan pada bagian luar kepala tidak diperlukan, karena akses menuju tumor dilakukan melalui rongga hidung.
  • Rasa tidak nyaman setelah operasi dapat lebih ringan dibandingkan pendekatan operasi tertentu yang membutuhkan pembukaan tengkorak.
  • Masa pemulihan cenderung lebih singkat, sehingga pasien berpotensi kembali menjalani aktivitas secara lebih cepat.
  • Risiko cedera pada jaringan otak dapat lebih rendah karena dokter tidak perlu melewati jaringan otak untuk mencapai tumor.
  • Memberikan akses langsung ke area tumor, terutama pada tumor yang berada di sekitar kelenjar pituitari dan dasar tengkorak.

Namun, tidak semua tumor pituitari atau tumor dasar tengkorak dapat ditangani dengan EETS. Pemilihan teknik operasi akan disesuaikan dengan jenis, ukuran, lokasi tumor, kondisi pasien, serta kedekatan tumor dengan struktur penting di sekitarnya. Karena itu, diperlukan pemeriksaan dan evaluasi menyeluruh oleh dokter sebelum menentukan metode operasi yang paling sesuai.

Bagi Anda yang ingin berkonsultasi lebih lanjut tentang prosedur EETS, Anda bisa datang ke RS Mandaya Royal Puri. Untuk mempermudah kunjungan Anda, gunakan fitur Chat melalui Whatsapp, Book Appointment, atau aplikasi Care Dokter yang bisa di-download di Google Play dan App Store untuk mempermudah kunjungan, melihat nomor antrian, dan mendapatkan informasi lengkap lainnya.

Konsultasi dokter

Referensi:

  1. Barrow Neurological Institute. Pituitary Macroadenoma. (https://www.barrowneuro.org/condition/macroadenoma/). Diakses pada 13 Agustus 2026.
  2. Mayo Clinic. Transsphenoidal Surgery. (https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/transsphenoidal-surgery/about/pac-20583059). Diakses pada 13 Agustus 2026.
  3. University of Florida Health. Transsphenoidal Surgery. (https://ufhealth.org/conditions-and-treatments/transsphenoidal-surgery). Diakses pada 13 Agustus 2026.
  4. Johns Hopkins Medicine. Endoscopic Pituitary Surgery. (https://www.hopkinsmedicine.org/health/treatment-tests-and-therapies/endoscopic-pituitary-surgery). Diakses pada 13 Agustus 2026.
Need Help? Chat with us!
Start a Conversation
Hi! Click one of our members below to chat on WhatsApp
We usually reply in a few minutes