Banyak wanita merasa sudah cukup terlindungi dari kanker serviks setelah mendapatkan vaksin HPV. Padahal, perlindungan dari vaksin saja belum sepenuhnya menutup semua risiko yang ada. Inilah yang sering menimbulkan pertanyaan: apakah masih perlu melakukan Pap smear setelah vaksin HPV? Faktanya, pemeriksaan rutin tetap memiliki peran penting dalam mendeteksi perubahan sel sejak dini, bahkan pada mereka yang sudah divaksin. Untuk memahami alasannya, simak penjelasan berikut ini.
Contents
Sudah vaksin HPV, masih perlu Pap smear? Ini alasannya
Vaksin HPV adalah serangkaian suntikan yang berfungsi melindungi tubuh dari infeksi human papillomavirus (HPV), yaitu virus yang sangat umum dan dapat menular melalui kontak kulit, termasuk saat aktivitas seksual. Infeksi HPV inilah yang menjadi salah satu penyebab utama kanker serviks pada wanita. Dengan vaksinasi, risiko terinfeksi beberapa jenis HPV yang paling berbahaya bisa dikurangi secara signifikan.
Sementara itu, Pap smear adalah pemeriksaan untuk mendeteksi kanker serviks sejak dini. Tes ini dilakukan dengan mengambil sampel sel dari leher rahim (serviks) untuk melihat apakah ada sel abnormal yang berpotensi berkembang menjadi kanker. Selain itu, Pap smear juga bisa membantu mendeteksi infeksi atau peradangan tertentu.
Lalu, apakah perlu melakukan Pap smear atau tes HPV sebelum vaksin? Jawabannya tidak perlu. Namun, setelah mendapatkan vaksin HPV, Anda tetap direkomendasikan untuk mulai atau melanjutkan Pap smear secara rutin. Hal ini karena vaksin HPV tidak melindungi dari semua jenis HPV yang bisa menyebabkan kanker serviks. Selain itu, tidak semua orang mendapatkan perlindungan maksimal dari vaksin, misalnya jika sudah pernah terpapar HPV sebelumnya atau belum menyelesaikan seluruh dosis vaksin yang dianjurkan.
Artinya, vaksin HPV dan Pap smear memiliki peran yang saling melengkapi. Vaksin membantu mencegah infeksi, sementara Pap smear berfungsi mendeteksi dini perubahan sel yang bisa berujung pada kanker serviks.
Baca juga: Kenali 10 Gejala Kanker Serviks: Pentingnya Deteksi Dini
Kapan waktu terbaik untuk Pap smear?
Sebaiknya Pap smear tidak dilakukan saat sedang menstruasi karena darah dapat memengaruhi keakuratan hasil pemeriksaan. Meski begitu, dalam kondisi tertentu, pemeriksaan masih bisa dilakukan menjelang akhir menstruasi, terutama jika perdarahan sudah sangat ringan. Untuk menentukan waktu yang paling tepat, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau atur ulang jadwal saat Anda tidak sedang haid.
Selain itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum menjalani Pap smear karena dapat memengaruhi hasil tes. Agar hasil lebih optimal, Anda disarankan untuk:
- Menghindari hubungan seksual vaginal selama 2 hari sebelum pemeriksaan.
- Tidak menggunakan tampon, obat atau krim vaginal, kontrasepsi berbentuk busa atau gel, pelumas, maupun melakukan douching setidaknya 2 hari sebelum tes.
- Menjadwalkan Pap smear setelah menstruasi selesai.
- Menghubungi dokter jika Anda sedang atau akan menstruasi pada hari pemeriksaan untuk mendapatkan arahan lebih lanjut.
Baca juga: Cara Mencegah Kanker Serviks: Panduan Lengkap untuk Wanita
Seberapa sering harus Pap smear?
Frekuensi Pap smear dapat berbeda pada setiap wanita, tergantung usia, riwayat kesehatan, serta hasil pemeriksaan sebelumnya (Pap smear maupun tes HPV). Secara umum, wanita di atas usia 65 tahun biasanya tidak perlu lagi menjalani Pap smear jika hasil sebelumnya selalu normal.
Berikut panduan umum frekuensi Pap smear:
- Di bawah 21 tahun: Tidak perlu Pap smear karena risiko kanker serviks masih sangat rendah.
- Usia 21–29 tahun: Disarankan melakukan Pap smear setiap 3 tahun sekali.
- Usia 30–65 tahun: Pap smear dapat dilakukan setiap 3 tahun, atau setiap 5 tahun jika dikombinasikan dengan tes HPV.
- Di atas 65 tahun: Tidak diperlukan jika tidak memiliki riwayat hasil abnormal atau kanker serviks, serta telah memiliki tiga hasil Pap smear normal berturut-turut dalam 10 tahun terakhir.
Namun, dalam kondisi tertentu, pemeriksaan mungkin perlu dilakukan lebih sering atau tetap dilanjutkan setelah usia 65 tahun, seperti:
- Mengidap HIV atau memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah (misalnya akibat kemoterapi).
- Terpapar obat DES sejak dalam kandungan (obat yang dulu diberikan pada ibu hamil sebelum tahun 1971).
- Memiliki riwayat kanker serviks.
- Pernah mendapatkan hasil Pap smear yang tidak normal.
Kesimpulannya, jadwal Pap smear sebaiknya disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu. Oleh karena itu, penting untuk berkonsultasi dengan dokter agar mendapatkan rekomendasi pemeriksaan yang paling sesuai.
Paket tes Pap smear di Mandaya Royal Hospital Puri
RS Mandaya Royal Puri menyediakan paket Pap smear sekaligus HPV dengan detail sebagai berikut:
Paket Pemeriksaan:
- Pap Smear + Konsultasi — Rp 788.000
- Pap Smear + HPV Genotyping + Konsultasi — Rp 1.788.000
- Pap Smear + PCR Genital + Konsultasi — Rp 2.088.000
Syarat & Ketentuan:
- Promo tidak berlaku bagi pasien jaminan perusahaan atau asuransi
- Promo tidak dapat digabungkan dengan promo bank atau kartu kredit
- Promo berlaku sampai 31 Desember 2026.
Untuk mempermudah kunjungan Anda, gunakan fitur Chat melalui Whatsapp, Book Appointment, atau aplikasi Care Dokter yang bisa di-download di Google Play dan App Store untuk mempermudah kunjungan, melihat nomor antrian, dan mendapatkan informasi lengkap lainnya.


