Dislokasi bahu adalah kondisi ketika tulang lengan atas keluar dari soket sendi bahu. Cedera ini dapat terjadi saat berolahraga, termasuk padel, karena bahu merupakan salah satu sendi paling fleksibel di tubuh sehingga lebih rentan mengalami dislokasi. Jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini dapat menimbulkan nyeri hebat dan membatasi pergerakan lengan.

Kondisi tersebut dialami oleh seorang pasien yang mengalami dislokasi bahu kanan bagian depan akibat bermain padel. Saat menjalani penanganan di RS Mandaya Royal Puri, pasien mendapatkan tindakan reposisi bahu oleh dr. Venansius Herry P.S, Sp.OT, CF-Sports Injury, AIFO-K, CIPS, FIPP, yang merupakan dokter spesialis ortopedi dengan keahlian di bidang cedera olahraga.
Berkat pemberian anestesi sebelum tindakan, pasien tidak merasakan nyeri selama proses reposisi berlangsung.
Contents
Tindakan reposisi bahu akibat dislokasi setelah bermain padel oleh dr. Venan
Seorang pasien laki-laki berusia 20 tahun mengalami dislokasi bahu kanan ke arah depan setelah bermain padel. Kondisi ini menyebabkan tulang lengan atas keluar dari posisi normalnya di sendi bahu sehingga membutuhkan tindakan reposisi untuk mengembalikan posisi tulang seperti semula.
Tindakan reposisi dilakukan oleh dr. Venan. Sebelum prosedur dimulai, pasien diberikan anestesi (bius) agar tidak merasakan nyeri selama tindakan berlangsung. Setelah tulang dikembalikan ke posisi semula, dokter melakukan pemeriksaan menggunakan rontgen portabel di kamar operasi untuk memastikan posisi sendi bahu telah kembali dengan tepat.
Melakukan reposisi di rumah sakit memberikan sejumlah keuntungan, mulai dari pemberian anestesi untuk meningkatkan kenyamanan pasien hingga pemeriksaan rontgen setelah tindakan untuk mengevaluasi posisi tulang. Penanganan medis yang segera juga membantu dokter menilai kemungkinan cedera lain dan menentukan perawatan lanjutan yang sesuai dengan kondisi pasien.
Baca juga: Dislokasi Bahu Akibat Olahraga: Gejala, Penyebab, Penanganan, dan Dokter yang Menanganinya
Jenis-jenis dislokasi bahu
Berdasarkan sejauh mana tulang bergeser dari posisi normalnya, dislokasi bahu dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
- Dislokasi total: Kondisi ketika tulang lengan atas keluar sepenuhnya dari soket sendi bahu sehingga kedua permukaan sendi tidak lagi bersentuhan.
- Subluksasi: Kondisi ketika tulang bergeser sebagian dari posisi normalnya, tetapi sebagian permukaan sendi masih saling bersentuhan.
Apa saja gejala dislokasi bahu?
Tidak semua orang langsung menyadari bahwa bahunya mengalami dislokasi setelah cedera. Namun, kondisi ini umumnya ditandai dengan perubahan bentuk bahu, nyeri, hingga kesulitan menggerakkan lengan. Berikut beberapa gejala dislokasi bahu yang perlu diwaspadai:
- Nyeri bahu yang hebat, terutama saat mencoba menggerakkan lengan.
- Bahu terasa lemah.
- Lengan sulit atau tidak bisa digerakkan.
- Bentuk bahu terlihat berubah atau tidak simetris seperti biasanya.
- Pembengkakan di sekitar sendi bahu.
- Memar atau perubahan warna kulit.
- Otot di sekitar bahu mengalami kejang atau spasme.
- Mati rasa, kesemutan, atau kelemahan pada lengan, tangan, maupun jari-jari.
Penyebab dan faktor risiko dislokasi bahu
Dislokasi bahu terjadi ketika sendi menerima benturan atau tekanan yang cukup kuat hingga menyebabkan tulang bergeser dari posisi normalnya. Kondisi ini dapat dipicu oleh beberapa hal, antara lain:
- Terjatuh dengan posisi bertumpu pada lengan atau bahu.
- Kecelakaan kendaraan bermotor yang menyebabkan benturan pada bahu.
- Cedera olahraga, terutama saat melakukan gerakan lengan secara tiba-tiba atau mengalami benturan ketika beraktivitas fisik.
Meski dapat dialami oleh siapa saja, beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi mengalami dislokasi bahu, yaitu:
- Atlet yang mengikuti olahraga dengan kontak fisik atau melibatkan gerakan bahu secara intensif.
- Laki-laki.
- Individu berusia 15–30 tahun.
- Orang yang pernah mengalami dislokasi bahu sebelumnya karena memiliki risiko lebih tinggi mengalami dislokasi berulang.
Baca juga: 8 Jenis Cedera Olahraga yang Perlu Diwaspadai, Kenali Juga Penanganannya
Penanganan dislokasi bahu
Jika bahu diduga mengalami dislokasi, segera cari pertolongan medis agar dokter dapat memeriksa kondisi sendi dan menentukan penanganan yang tepat. Sambil menunggu, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk membantu mengurangi rasa tidak nyaman dan mencegah cedera bertambah parah.
- Kompres dingin: Tempelkan kantong es atau sayuran beku yang dibungkus handuk pada bahu selama maksimal 20 menit setiap 2–3 jam untuk membantu mengurangi nyeri dan pembengkakan.
- Topang lengan: Gunakan penyangga lengan (sling) atau handuk untuk menopang lengan yang cedera agar bahu tetap stabil.
- Gunakan obat pereda nyeri: Paracetamol dapat digunakan sesuai petunjuk pada kemasan jika diperlukan dan tidak memiliki kontraindikasi.
- Hindari menggerakkan bahu secara berlebihan: Jangan mencoba mengembalikan posisi sendi sendiri karena dapat memperparah cedera pada tulang, saraf, atau pembuluh darah di sekitarnya.
Setelah mendapatkan pemeriksaan medis, dokter dapat menentukan beberapa pilihan penanganan berikut sesuai kondisi pasien.
1. Reposisi bahu untuk mengembalikan posisi sendi
Reposisi merupakan tindakan untuk mengembalikan tulang lengan atas yang keluar dari rongga sendi bahu ke posisi normalnya. Prosedur ini dilakukan oleh dokter dengan mengarahkan tulang secara hati-hati agar kembali ke tempat semula.
Untuk mengurangi rasa sakit dan meningkatkan kenyamanan pasien, dokter dapat memberikan obat pereda nyeri, anestesi, atau obat penenang sesuai kebutuhan dan kondisi pasien.
Reposisi sebaiknya dilakukan oleh tenaga medis terlatih. Mencoba mengembalikan posisi bahu sendiri berisiko memperburuk cedera dan menimbulkan kerusakan pada jaringan di sekitarnya. Oleh karena itu, pasien perlu segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.
2. Imobilisasi bahu setelah reposisi
Setelah tulang kembali ke posisi normal, dokter dapat menyarankan penggunaan penyangga lengan (sling) untuk menjaga bahu tetap stabil selama tahap awal pemulihan. Langkah ini membantu membatasi gerakan yang berpotensi menimbulkan nyeri atau memperburuk cedera.
Dokter juga dapat menyarankan kompres dingin untuk membantu meredakan pembengkakan. Durasi penggunaan penyangga disesuaikan dengan tingkat keparahan cedera, usia pasien, dan kondisi sendi setelah reposisi. Gerakan bahu biasanya mulai dilatih secara bertahap sesuai rekomendasi dokter untuk membantu mencegah kekakuan.
3. Pemberian obat untuk meredakan nyeri
Dokter dapat meresepkan obat pereda nyeri atau antiradang sesuai kebutuhan pasien. Obat ini membantu mengurangi rasa tidak nyaman selama proses pemulihan.
Penggunaan obat bebas tetap perlu mengikuti petunjuk pada kemasan. Jika nyeri tidak membaik, semakin berat, atau disertai keluhan lain, pasien sebaiknya berkonsultasi kembali dengan dokter daripada terus mengonsumsi obat tanpa evaluasi medis.
4. Istirahat dan pembatasan aktivitas fisik
Pasien perlu membatasi aktivitas yang membebani bahu selama masa pemulihan. Aktivitas seperti mengangkat beban, melakukan gerakan lengan secara mendadak, atau mengikuti olahraga yang melibatkan bahu sebaiknya dihindari sementara waktu.
Waktu untuk kembali bekerja, beraktivitas, atau berolahraga bergantung pada kondisi cedera dan perkembangan pemulihan. Dokter akan memberikan arahan mengenai aktivitas yang aman serta kapan pasien dapat kembali berlatih secara bertahap.
5. Fisioterapi untuk memulihkan fungsi bahu
Fisioterapi berperan dalam membantu mengembalikan rentang gerak, kelenturan, dan kekuatan otot di sekitar bahu setelah dislokasi. Program latihan biasanya dimulai dengan gerakan ringan, kemudian ditingkatkan secara bertahap sesuai perkembangan kondisi pasien.
Latihan penguatan otot dan stabilisasi sendi juga dapat membantu meningkatkan kemampuan bahu dalam menopang gerakan sehari-hari serta mengurangi risiko dislokasi berulang. Durasi fisioterapi berbeda pada setiap pasien, bergantung pada tingkat keparahan cedera dan respons terhadap latihan.
Apakah dislokasi bahu memerlukan operasi?
Tidak semua kasus dislokasi bahu membutuhkan operasi. Pada banyak kasus, dokter dapat mengembalikan posisi tulang melalui reposisi tertutup tanpa pembedahan. Namun, operasi dapat dipertimbangkan apabila terdapat kondisi tertentu, seperti:
- Kerusakan jaringan di sekitar sendi: Dislokasi disertai kerusakan ligamen, tulang rawan, atau struktur lain yang memengaruhi kestabilan bahu.
- Reposisi tertutup tidak berhasil: Tulang tidak dapat dikembalikan ke posisi normal melalui prosedur tanpa operasi.
- Dislokasi berulang: Bahu mengalami dislokasi berkali-kali akibat ketidakstabilan sendi sehingga diperlukan tindakan untuk memperbaiki struktur yang menopang bahu.
Jenis operasi ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan, tingkat kerusakan jaringan, frekuensi dislokasi, dan kebutuhan pasien. Dokter akan mengevaluasi kondisi tersebut sebelum merekomendasikan tindakan yang sesuai.
Berapa lama pemulihan dislokasi bahu?
Pemulihan dislokasi bahu dapat berlangsung selama beberapa minggu hingga beberapa bulan, bergantung pada tingkat keparahan cedera dan ada tidaknya kerusakan jaringan lain.
Pada tahap awal, pasien mungkin perlu membatasi gerakan bahu dan menggunakan penyangga lengan. Setelah itu, latihan gerak dan fisioterapi dapat dilakukan secara bertahap untuk membantu mengembalikan fungsi sendi.
Pasien yang ingin kembali berolahraga, termasuk bermain padel, sebaiknya menunggu hingga bahu cukup stabil, kekuatan otot membaik, dan rentang gerak kembali memadai. Keputusan untuk kembali beraktivitas perlu mengikuti evaluasi dan rekomendasi dokter guna mengurangi risiko cedera berulang.
Profil dan jadwal praktek dr. Venan di RS Mandaya Royal Puri

Bagi Anda yang mengalami dislokasi bahu atau cedera olahraga lainnya, konsultasi dengan dokter spesialis ortopedi dapat membantu menentukan penanganan sesuai kondisi cedera. dr. Venansius Herry P.S, Sp.OT, CF-Sports Injury, AIFO-K, CIPS, FIPP memiliki kompetensi di bidang ortopedi dan cedera olahraga, termasuk evaluasi cedera serta penanganan untuk membantu pasien kembali beraktivitas secara bertahap.
Selain sertifikasi CF-Sports Injury, beliau memiliki sertifikasi AIFO-K (Ahli Ilmu Faal Olahraga Konsultan), CIPS (Certified Interventional Pain Sonologist), dan FIPP (Fellow of Interventional Pain Practice). Kompetensi tersebut berkaitan dengan bidang fisiologi olahraga dan penanganan nyeri, termasuk pendekatan intervensi tertentu sesuai indikasi medis.
Dalam bidang pendidikan, dr. Venansius menempuh pendidikan dokter umum dan spesialis ortopedi dan traumatologi di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Beliau juga mengikuti program pelatihan ortopedi di Semmelweis University, Budapest, Hungaria.
Berikut jadwal praktik dr. Venansius Herry P.S di RS Mandaya Royal Puri:
- Selasa: 10.00–12.00 WIB
- Rabu: 16.00–20.00 WIB
- Jumat: 16.00–20.00 WIB
- Sabtu: 16.00–20.00 WIB.
Fasilitas pasien luar kota dan internasional di RS Mandaya Royal Puri


Mandaya Royal Hospital Puri menyediakan berbagai fasilitas penunjang untuk memberikan kenyamanan ekstra bagi pasien yang berasal dari luar kota maupun luar negeri:
- Penjemputan VIP (VIP transport): Layanan penjemputan dari Bandara Soekarno-Hatta, stasiun, atau pelabuhan menuju rumah sakit menggunakan kendaraan nyaman yang didampingi oleh tim Patient Experience Officer (PEO).
- Penjemputan ambulans medis: Penjemputan khusus bagi pasien dengan kondisi kesehatan tertentu dari titik kedatangan (bandara/stasiun/pelabuhan) yang dilengkapi peralatan medis dan pendampingan tenaga kesehatan profesional.
- Akomodasi penginapan (Sleep Hub & apartemen): Fasilitas penginapan nyaman bagi keluarga yang mendampingi pasien, terletak langsung di lantai 8 gedung Mandaya Royal Puri serta opsi apartemen terdekat.
- Layanan pasien internasional (International Patient Relation): Pendampingan khusus bagi pasien luar negeri untuk pengurusan koordinasi medis, penerjemah, hingga administrasi. Untuk informasi dan bantuan International Patient Relation, Anda dapat menghubungi 021 5092 8888 atau email ke [email protected].
Untuk mempermudah kunjungan Anda ke Mandaya Royal Hospital Puri, gunakan fitur Chat melalui Whatsapp, Book Appointment, atau aplikasi Care Dokter yang bisa di-download di Google Play dan App Store untuk mempermudah kunjungan, melihat nomor antrian, dan mendapatkan informasi lengkap lainnya.
*Informasi yang tersedia pada halaman ini disusun untuk tujuan edukasi dan gambaran umum, sehingga tidak mencerminkan seluruh jenis layanan medis yang dapat dilakukan oleh masing-masing dokter. Untuk memastikan penanganan yang sesuai dengan kondisi kesehatan Anda, disarankan melakukan konsultasi langsung dengan dokter terkait.
Apabila Anda memiliki pertanyaan, saran, atau membutuhkan informasi lebih lanjut, silakan menghubungi call center kami di 0811-1900-2000.
Referensi:
- Mayo Clinic. Dislocated Shoulder: Symptoms and Causes. (https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/dislocated-shoulder/symptoms-causes/syc-20371715). Diakses pada 14 Oktober 2026.
- Cleveland Clinic. Dislocated Shoulder: Causes, Treatment & Prevention. (https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/17746-dislocated-shoulder). Diakses pada 14 Oktober 2026.

