“Bisa Dua Kali Lipat Harganya (di Singapura)”: Testimoni Pasien Kanker Tiroid Pilih Ablasi Nuklir di RS Mandaya Puri, Indonesia

"Bisa Dua Kali Lipat Harganya (di Singapura)": Testimoni Pasien Kanker Tiroid Pilih Ablasi Nuklir di RS Mandaya Puri, Indonesia

Kanker tiroid merupakan salah satu jenis kanker yang sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Banyak pasien baru menyadari adanya kelainan setelah menemukan benjolan di leher atau saat menjalani pemeriksaan kesehatan. Setelah menjalani operasi pengangkatan kelenjar tiroid, sebagian pasien masih memerlukan terapi lanjutan, misalnya dengan ablasi nuklir, untuk membantu menghilangkan sisa jaringan tiroid atau sel kanker yang masih tersisa.

Hal inilah yang dialami oleh Pak Sahi, seorang pasien kanker tiroid papiler yang sempat berencana menjalani terapi ablasi nuklir di Singapura. Namun, setelah mencari informasi lebih lanjut, ia menemukan bahwa terapi yang sama juga tersedia di RS Mandaya Royal Puri, Indonesia dengan biaya yang jauh lebih terjangkau.

“Wah masih terlalu mahal. Kalau di situ (Singapura) berobat terus terang bisa dua kali lipat (harganya). Saya sudah tanya-tanya harganya, sampai kalau nggak salah itu sekitar 17.000 SGD. Selain biaya operasi yang sangat tinggi, kita juga harus keluarkan biaya hotel, bahasa juga (menjadi) kendala. Di Indonesia itu saya cari-cari tentang ablasi, ternyata di Mandaya Royal Hospital Puri ini ada ablasi. Saya lihat juga obatnya dengan Singapura sama, tapi di sini jauh lebih murah gitu,” ungkap Pak Sahi. 

Konsultasi dokter

Berawal dari benjolan di leher yang tidak menimbulkan keluhan

Pak Sahi mengaku awalnya tidak merasakan gejala apa pun. Ia tetap dapat beraktivitas seperti biasa tanpa nyeri maupun gangguan kesehatan lainnya. Namun, suatu hari seorang temannya menyadari adanya benjolan di lehernya saat sedang berbicara.

Setelah memperhatikan dirinya di depan cermin, ia menyadari bahwa memang terdapat benjolan yang cukup terlihat di area leher. Meski tidak menimbulkan rasa sakit, keberadaan benjolan tersebut membuatnya khawatir sehingga ia memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter.

Dari hasil pemeriksaan, Pak Sahi didiagnosis menderita kanker tiroid papiler. Karena diagnosis tersebut muncul saat pandemi COVID-19 masih berlangsung, ia sempat menunda tindakan operasi. Hingga akhirnya pada tahun 2023, ia menjalani operasi pengangkatan kelenjar tiroid secara total di Singapura.

Setelah operasi selesai, dokter menyarankan agar ia menjalani terapi ablasi nuklir untuk membersihkan sisa jaringan kanker yang mungkin masih tertinggal di dalam tubuh.

Baca juga: Terapi Ablasi Nuklir, Tindakan Lanjutan Setelah Operasi Kanker Tiroid

Membatalkan rencana ablasi nuklir di Singapura karena biaya yang tinggi

Saat menjalani konsultasi lanjutan di Singapura, Pak Sahi mendapatkan informasi mengenai terapi ablasi nuklir yang direkomendasikan dokter. Namun setelah mempertimbangkan berbagai faktor, terutama biaya pengobatan, ia mulai mencari alternatif lain.

Menurutnya, biaya yang perlu dikeluarkan untuk menjalani ablasi nuklir di Singapura tergolong sangat tinggi. Saat itu, Pak Sahi menuturkan bahwa perkiraan biayanya mencapai 17.000 SGD atau setara Rp200 juta. Selain biaya tindakan medis, pasien juga perlu memperhitungkan biaya akomodasi, transportasi, dan kebutuhan selama berada di luar negeri.

Ketika mencari informasi mengenai layanan serupa di Indonesia, ia menemukan bahwa RS Mandaya Royal Puri menyediakan terapi ablasi nuklir untuk pasien kanker tiroid. Setelah berkonsultasi dengan dr. Eko Purnomo, Sp.KNTM (K) Onk, dokter spesialis kedokteran nuklir di Mandaya, ia mengetahui bahwa terapi yang digunakan sama dengan yang direkomendasikan di Singapura.

Faktor biaya yang lebih terjangkau, lokasi yang dekat dengan tempat tinggal, serta kemudahan komunikasi menjadi alasan utama yang membuatnya memutuskan menjalani terapi di Indonesia.

Selain itu, ia juga mengaku terkesan dengan fasilitas yang tersedia di RS Mandaya Royal Puri. Menurutnya, suasana rumah sakit terasa nyaman dan tidak memberikan kesan seperti rumah sakit pada umumnya.

Baca juga: Kisah Pasien Asal Singapura Jalani Terapi Ablasi Nuklir untuk Tumor Tiroid di RS Mandaya Puri

Pengalaman menjalani ablasi nuklir di RS Mandaya Royal Puri

Sebelum menjalani ablasi nuklir, pasien perlu mengikuti beberapa persiapan yang telah ditentukan oleh dokter. Pada kasus kanker tiroid, persiapan tersebut umumnya meliputi penghentian sementara konsumsi hormon tiroid serta menjalani diet rendah yodium selama periode tertentu sebelum terapi.

Setelah seluruh persiapan selesai, pasien akan menerima terapi ablasi nuklir menggunakan radioiodine (I-131) yang diberikan dalam bentuk kapsul atau obat yang ditelan. Prosedur ini umumnya berlangsung sederhana dan tidak memerlukan tindakan operasi tambahan.

Prosedur ablasi nuklir untuk kanker tiroid umumnya berlangsung sederhana dan tidak memerlukan tindakan yang kompleks. Berikut tahapan yang biasanya dijalani pasien:

  • Mengonsumsi kapsul atau obat yang mengandung radioiodine (I-131)

Radioiodin diberikan secara oral dan tidak memiliki warna, bau, maupun rasa yang khas, sehingga prosesnya serupa dengan mengonsumsi obat pada umumnya.

  • Menjalani perawatan di ruang isolasi khusus

Setelah menerima radioiodin, pasien akan dirawat di kamar isolasi selama sekitar 3–5 hari, tergantung pada dosis yang diberikan. Masa isolasi ini bertujuan untuk mencegah paparan radiasi kepada orang lain hingga kadar radiasi dalam tubuh menurun ke tingkat yang aman.

Selama menjalani isolasi di RS Mandaya Royal Puri, pasien tetap dapat beraktivitas dengan nyaman berkat berbagai fasilitas yang tersedia di dalam kamar, seperti smart TV 55 inci, coffee and tea maker, microwave, serta lemari pendingin yang dapat digunakan selama masa perawatan.

Dalam pengalamannya, Pak Sahi mengaku tidak merasakan keluhan khusus selama menjalani terapi. Ia bahkan dapat tetap melakukan pekerjaan dari kamar isolasi selama masa perawatan.

Ia juga menilai proses pelayanan berjalan dengan baik karena seluruh tahapan terapi telah dijelaskan secara rinci sejak jauh hari sebelum jadwal tindakan. Tim rumah sakit secara aktif mengingatkan pasien mengenai jadwal, persiapan yang perlu dilakukan, hingga langkah-langkah yang harus dijalani selama terapi.

Berdasarkan hasil evaluasi setelah terapi pertama, kadar tiroglobulin yang menjadi salah satu indikator pemantauan kanker tiroid mengalami penurunan. Untuk mengoptimalkan hasil terapi, ia kemudian menjalani ablasi nuklir kedua sesuai rekomendasi dokter.

Melalui pengalamannya, Pak Sahi berharap masyarakat tidak menunda pemeriksaan apabila menemukan benjolan atau keluhan yang mencurigakan pada tubuh. Menurutnya, semakin cepat kanker terdeteksi, semakin besar peluang untuk mendapatkan penanganan yang optimal. Ia juga menilai bahwa layanan pengobatan kanker di Indonesia kini sudah semakin berkembang, termasuk terapi ablasi nuklir untuk kanker tiroid yang tersedia di RS Mandaya Royal Puri dengan fasilitas dan teknologi yang tidak kalah dari luar negeri.

Konsultasi dokter

Profil dan jadwal praktek dr. Eko, dokter spesialis kedokteran nuklir RS Mandaya Royal Puri

dr. Eko Purnomo, Sp.KNTM (K) Onk adalah dokter spesialis kedokteran nuklir dan terapi molekuler konsultan onkologi yang berpengalaman dalam diagnosis serta terapi berbagai penyakit, terutama kanker dan gangguan kelenjar tiroid. Dalam praktiknya, beliau menangani berbagai layanan kedokteran nuklir, seperti terapi ablasi tiroid, terapi hipertiroid, terapi kanker tiroid, terapi kanker prostat, hingga berbagai pemeriksaan penunjang seperti PET Scan, Whole Body Scan, Bone Scan, dan Renography.

dr. Eko menyelesaikan pendidikan dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta. Setelah itu, beliau melanjutkan pendidikan spesialis Kedokteran Nuklir di Rumah Sakit Hasan Sadikin yang berafiliasi dengan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung. Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman di bidang kedokteran nuklir, dr. Eko berperan dalam membantu pasien mendapatkan diagnosis yang akurat sekaligus terapi yang tepat sesuai dengan kondisi yang dialami.

dr. Eko Purnomo, Sp.KNTM (K) Onk bisa ditemui di RS Mandaya Royal Puri pada:

  • Senin: 11.00 – 17.00 WIB
  • Selasa: 11.00 – 17.00 WIB
  • Rabu: 11.00 – 17.00 WIB
  • Kamis: 11.00 – 17.00 WIB
  • Jumat: 13.00 – 17.00 WIB.

Untuk mempermudah kunjungan Anda ke Mandaya Royal Hospital Puri, gunakan fitur Chat melalui Whatsapp, Book Appointment, atau aplikasi Care Dokter yang bisa di-download di Google Play dan App Store untuk mempermudah kunjungan, melihat nomor antrian, dan mendapatkan informasi lengkap lainnya.

*Informasi yang tersedia pada halaman ini disusun untuk tujuan edukasi dan gambaran umum, sehingga tidak mencerminkan seluruh jenis layanan medis yang dapat dilakukan oleh masing-masing dokter. Untuk memastikan penanganan yang sesuai dengan kondisi kesehatan Anda, disarankan melakukan konsultasi langsung dengan dokter terkait.

Apabila Anda memiliki pertanyaan, saran, atau membutuhkan informasi lebih lanjut, silakan menghubungi call center kami di 0811-1900-2000.

Konsultasi dokter

Need Help? Chat with us!
Start a Conversation
Hi! Click one of our members below to chat on WhatsApp
We usually reply in a few minutes