Saraf terjepit di punggung bawah atau pinggang dapat menimbulkan rasa nyeri yang sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Kondisi ini terjadi ketika saraf mengalami tekanan dari jaringan di sekitarnya, seperti tulang, ligamen, atau otot. Akibatnya, penderita dapat mengalami nyeri yang menjalar ke bokong atau kaki, kesemutan, mati rasa, hingga kelemahan pada tungkai.

Keluhan inilah yang dialami oleh seorang pasien berusia 44 tahun asal Karawaci, Kota Tangerang, setelah mengalami cedera akibat terjatuh. Untuk mengatasi saraf terjepit yang dideritanya, pasien menjalani tindakan arthrospine bersama dr. Christian Ariono, Sp.BS-FTB, FINSS, FINPS, FICS, dokter spesialis bedah saraf di RS Mandaya Royal Puri. Hasilnya, sesaat setelah operasi kondisi pasien berangsur membaik dan sudah dapat duduk serta berjalan kembali.
“Setelah keluar operasi, rasa sakitnya langsung hilang. Kebas sudah hilang, pokoknya semua yang dirasakan sakit, setelah keluar operasi itu saya merasanya langsung enak, yang sakit-sakit itu langsung hilang,” kata pasien. “Bangun-bangun (dari bius total setelah operasi), langsung duduk dan jalan,” tambah sang suami.
Contents
Nyeri pinggang semakin parah, pasien akhirnya jalani arthrospine di RS Mandaya Puri
Pasien ini mengalami cedera setelah terjatuh. Awalnya ia tidak merasakan keluhan apa pun, tetapi sekitar dua bulan kemudian mulai muncul nyeri di pinggang. Seiring berjalannya waktu, rasa sakit semakin berat, terutama saat bulan puasa. Nyeri yang awalnya hanya terasa di pinggang berubah menjadi seperti ditusuk dan tersetrum, bahkan menjalar hingga membuatnya sulit bergerak. Kondisinya semakin memburuk hingga ia harus dilarikan ke rumah sakit dan menjalani pemeriksaan MRI. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya saraf terjepit, dan dokter saat itu menyarankan operasi.
Meski demikian, pasien dan keluarga belum langsung mengambil keputusan. Mereka memilih menjalani fisioterapi dan pengobatan konservatif selama sekitar satu bulan. Namun, kondisinya justru semakin memburuk. Nyeri semakin hebat, tubuh bagian kanan mulai mati rasa dari pinggang hingga kaki, bahkan untuk bangun dari tempat tidur pun ia harus merangkak dan mencari posisi yang paling nyaman. Keluarga sempat berencana membawa pasien berobat ke Singapura karena khawatir terhadap risiko operasi bedah saraf.
Sebelum berangkat ke luar negeri, seorang rekan menyarankan agar pasien berkonsultasi dengan dr. Christian Ariono, Sp.BS-FTB, FINSS, FINPS, FICS di RS Mandaya Royal Puri. Setelah menjalani pemeriksaan ulang, hasil MRI menunjukkan temuan yang sama. Namun, penjelasan yang diberikan dr. Christian mengenai penyebab keluhan, pilihan tindakan, hingga risiko dan manfaat operasi membuat pasien dan keluarganya merasa lebih yakin untuk menjalani pengobatan di Mandaya.
Pasien kemudian menjalani tindakan arthrospine dengan teknik endoskopi. Hasilnya dirasakan seketika setelah operasi. Sesaat setelah efek anestesi hilang, pasien sudah dapat belajar duduk dan berjalan. Nyeri hebat yang sebelumnya dirasakan langsung menghilang, begitu juga dengan rasa kebas pada tungkai. Pada kontrol pascaoperasi, kondisinya terus membaik sehingga ia tidak perlu lagi sering datang ke rumah sakit dan cukup berkonsultasi dengan dr. Christian melalui WhatsApp apabila mengalami keluhan. Berkat pengalamannya tersebut, pasien mengaku tidak ragu merekomendasikan RS Mandaya Royal Puri kepada kerabat yang mengalami masalah saraf terjepit.
Apa itu arthrospine dan bagaimana cara kerjanya?
Arthrospine merupakan metode operasi tulang belakang minimal invasif yang digunakan untuk menangani saraf terjepit (HNP) maupun berbagai gangguan tulang belakang lainnya.
Prosedur ini dilakukan melalui sayatan yang sangat kecil, sekitar 1,5–2 cm, dengan bantuan kamera endoskopi dan instrumen bedah khusus. Berkat teknologi tersebut, dokter dapat melakukan tindakan secara lebih presisi, meminimalkan kerusakan pada jaringan di sekitar saraf, serta membantu mempercepat proses pemulihan pasien.
Pada prosedur arthrospine, dokter akan melakukan tahapan sebagai berikut:
- Membuat sayatan kecil berukuran sekitar 1,5–2 cm pada area yang akan ditangani.
- Memasukkan selongsong khusus sebagai jalur untuk kamera endoskopi dan alat bedah khusus.
- Menggunakan kamera endoskopi yang menampilkan kondisi di dalam tubuh secara real-time pada layar monitor.
- Membebaskan saraf yang terjepit atau mengangkat bantalan tulang (diskus) yang menonjol dengan tingkat ketelitian yang tinggi tanpa perlu membuat sayatan besar.
Keunggulan arthrospine dalam penanganan saraf terjepit
Dibandingkan operasi tulang belakang konvensional, arthrospine menawarkan sejumlah keunggulan, di antaranya:
- Sayatan lebih kecil, hanya sekitar 1,5–2 cm, sehingga bekas luka operasi lebih minimal.
- Pemulihan lebih cepat karena kerusakan pada otot dan jaringan di sekitar tulang belakang jauh lebih sedikit.
- Risiko komplikasi lebih rendah, termasuk risiko perdarahan, infeksi, dan nyeri pascaoperasi.
- Presisi lebih tinggi berkat penggunaan kamera endoskopi yang membantu dokter melihat area saraf secara langsung dan melakukan tindakan dengan lebih akurat.
Kapan harus segera memeriksakan saraf terjepit?
Saraf terjepit sebaiknya tidak dianggap sebagai keluhan biasa. Nyeri, kesemutan, atau mati rasa yang muncul merupakan tanda bahwa terdapat saraf yang mengalami tekanan. Apabila gejala tersebut tidak kunjung membaik setelah menjalani pengobatan awal atau terus berlangsung selama beberapa hari, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter agar penyebabnya dapat diketahui dan ditangani sedini mungkin.
Beberapa kondisi berikut juga menjadi tanda bahwa penderita membutuhkan penanganan medis secepatnya, antara lain:
- Gangguan kontrol buang air kecil atau buang air besar akibat saraf terjepit.
- Tangan terasa lemah sehingga sulit menggenggam atau sering menjatuhkan benda.
- Lengan atau tungkai mendadak kehilangan kekuatan sehingga sulit digunakan untuk menopang tubuh atau berjalan.
Untuk memastikan lokasi dan tingkat keparahan saraf yang terjepit, dokter dapat menyarankan sejumlah pemeriksaan penunjang, seperti MRI, CT scan, maupun elektromiografi (EMG). Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, dokter akan menentukan terapi yang paling sesuai, mulai dari pemberian obat-obatan, fisioterapi, injeksi, hingga tindakan operasi apabila kondisi sudah berat atau tidak membaik dengan terapi konservatif.
Baca juga: 7 Cara Mengatasi Saraf Kejepit Tanpa Operasi
Konsultasikan penanganan saraf terjepit dengan dr. Christian Ariono di RS Mandaya Royal Puri

dr. Christian Ariono, Sp.BS-FTB, FINSS, FINPS, FICS merupakan dokter spesialis bedah saraf di RS Mandaya Royal Puri yang berpengalaman menangani berbagai penyakit pada otak, tulang belakang, dan saraf perifer, termasuk saraf terjepit dengan teknik bedah minimal invasif. Beliau menyelesaikan pendidikan dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, kemudian melanjutkan pendidikan spesialis bedah saraf di universitas yang sama.
Untuk terus mengikuti perkembangan ilmu bedah saraf modern, dr. Christian secara aktif mengikuti berbagai pelatihan dan forum ilmiah, di antaranya Aesculap Academy & Padjadjaran University Skullbase Cadaver Dissection Resident Course & Cerebrovascular Microanastomosis Course, Trigeminal Neuralgia International Awareness Day Symposium, serta Annual Scientific Meeting of Indonesian Society of Neurological Surgeon yang diselenggarakan bersama World Federation of Neurosurgical Societies (WFNS). Pengalaman tersebut mendukung kompetensinya dalam menerapkan teknik bedah saraf yang modern, presisi, dan berbasis bukti ilmiah.
Bagi Anda yang ingin berkonsultasi dengan dr. Christian Ariono, Sp.BS-FTB, FINSS, FINPS, FICS, beliau praktik di RS Mandaya Royal Puri dengan jadwal sebagai berikut:
- Senin: 08.00–16.00 WIB
- Selasa: 08.00–12.00 WIB
- Rabu: 08.00–16.00 WIB
- Kamis: 08.00–16.00 WIB
- Jumat: 08.00–16.00 WIB
- Sabtu: 08.00–16.00 WIB
Untuk mempermudah kunjungan Anda ke Mandaya Royal Hospital Puri, gunakan fitur Chat melalui Whatsapp, Book Appointment, atau aplikasi Care Dokter yang bisa di-download di Google Play dan App Store untuk mempermudah kunjungan, melihat nomor antrian, dan mendapatkan informasi lengkap lainnya.
*Informasi yang tersedia pada halaman ini disusun untuk tujuan edukasi dan gambaran umum, sehingga tidak mencerminkan seluruh jenis layanan medis yang dapat dilakukan oleh masing-masing dokter. Untuk memastikan penanganan yang sesuai dengan kondisi kesehatan Anda, disarankan melakukan konsultasi langsung dengan dokter terkait.
Apabila Anda memiliki pertanyaan, saran, atau membutuhkan informasi lebih lanjut, silakan menghubungi call center kami di 0811-1900-2000.
Referensi
- University of Utah Health. What to Do for a Pinched Nerve in Your Back. (https://healthcare.utah.edu/healthfeed/2023/11/what-do-pinched-nerve-your-back). Dipublikasikan 24 November 2023. Diakses pada 17 Juli 2026.
- Cleveland Clinic. Pinched Nerve: What It Is, Causes, Symptoms & Treatment. (https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/6481-pinched-nerves). Direvisi terakhir 25 Juni 2024. Diakses pada 17 Juli 2026.
- Medical News Today. Pinched Nerve: Symptoms, Causes, and Treatment. (https://www.medicalnewstoday.com/articles/320045). Direvisi terakhir 24 Januari 2024. Diakses pada 17 Juli 2026.

