Susah Menelan Setelah Stroke: Kenali Gejala, Penyebab, hingga Terapinya

Disfagia adalah istilah medis untuk gangguan menelan yang sering dialami oleh pasien setelah stroke. Kondisi ini terjadi karena stroke dapat mengganggu fungsi saraf dan otot yang berperan dalam proses menelan. Padahal, saat seseorang menelan, puluhan otot dan saraf harus bekerja secara terkoordinasi untuk mengalirkan makanan atau minuman dari mulut menuju lambung.

Ketika koordinasi tersebut terganggu akibat stroke, proses menelan dapat menjadi sulit, lambat, atau tidak nyaman. Penderita dapat mengalami batuk, tersedak saat minum atau makan, bahkan kesulitan menelan air liur sendiri. Jika tidak ditangani dengan tepat, disfagia dapat meningkatkan risiko malnutrisi, dehidrasi, hingga aspirasi yang dapat menyebabkan pneumonia.

Konsultasi dokter

Gejala susah menelan (disfagia) setelah stroke

Pilihan Terapi Susah Menelan Pasca Stroke: FEES hingga Terapi TMS di RS Mandaya Puri

Gejala disfagia pada pasien stroke dapat berbeda-beda, tergantung pada tingkat gangguan saraf dan otot yang mengendalikan proses menelan. Beberapa gejala yang perlu diwaspadai meliputi:

  • Membutuhkan usaha yang lebih besar untuk menelan makanan atau minuman.
  • Nyeri atau rasa tidak nyaman saat menelan.
  • Sulit menelan makanan, minuman, maupun air liur.
  • Sensasi makanan tersangkut di tenggorokan atau dada.
  • Air liur atau makanan keluar dari mulut karena sulit dikendalikan.
  • Makanan, minuman, atau asam lambung naik kembali ke tenggorokan atau bahkan keluar melalui hidung.
  • Batuk atau tersedak saat makan maupun minum.
  • Suara menjadi serak atau berubah setelah menelan.
  • Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas akibat asupan makanan yang berkurang.

Baca juga: Pilihan Terapi Susah Menelan Pasca Stroke: FEES hingga Terapi TMS di RS Mandaya Puri

Penyebab susah menelan pada pasien stroke

Disfagia atau gangguan menelan dapat disebabkan oleh berbagai kondisi medis, namun salah satu penyebab yang paling sering adalah stroke. Kondisi ini terjadi karena stroke dapat merusak bagian otak yang mengatur koordinasi saraf dan otot yang berperan dalam proses menelan.

Akibatnya, kemampuan pasien untuk memindahkan makanan atau minuman dari mulut ke tenggorokan hingga menuju kerongkongan menjadi terganggu. Kondisi ini membuat proses menelan terasa lebih sulit dan meningkatkan risiko tersedak maupun aspirasi, yaitu masuknya makanan atau cairan ke saluran pernapasan.

Baca juga: Susah Menelan Setelah Stroke, Pasien Ini Terapi Magnet TMS di RS Mandaya Puri dan Tunjukkan Perkembangan Baik

Pilihan terapi susah pada pasien stroke di RS Mandaya Royal Puri

RS Mandaya Royal Puri menyediakan berbagai layanan untuk membantu pasien stroke yang mengalami gangguan menelan (disfagia). Penanganan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemeriksaan untuk mengetahui penyebab dan tingkat keparahan gangguan menelan hingga terapi yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap pasien.

1. Flexible Endoscopic Evaluation of Swallowing (FEES)

Flexible Endoscopic Evaluation of Swallowing (FEES) adalah pemeriksaan yang bertujuan mengevaluasi kemampuan menelan pasien secara langsung. Prosedur ini menggunakan endoskop berupa selang kecil yang fleksibel dan dilengkapi kamera, kemudian dimasukkan melalui hidung untuk melihat kondisi tenggorokan serta memantau proses menelan ketika pasien mengonsumsi makanan atau minuman dengan berbagai tekstur.

Pemeriksaan FEES berperan penting pada pasien stroke karena gangguan menelan sering kali tidak disadari, meskipun dapat meningkatkan risiko makanan atau minuman masuk ke saluran napas (aspirasi). Dengan pemeriksaan ini, dokter dan terapis dapat menilai apakah proses menelan berlangsung dengan aman atau memerlukan penanganan khusus.

Berdasarkan hasil FEES, tim medis dapat menyusun rencana terapi yang sesuai, seperti latihan menelan, modifikasi tekstur makanan dan minuman, hingga program rehabilitasi lanjutan untuk membantu pasien kembali makan dan minum dengan lebih aman.

2. Transcranial Magnetic Stimulation (TMS)

Transcranial Magnetic Stimulation (TMS) merupakan terapi nonbedah yang menggunakan gelombang magnet untuk merangsang aktivitas sel saraf di otak. Terapi ini dilakukan tanpa sayatan, tidak menimbulkan rasa nyeri, dan telah dimanfaatkan dalam penanganan berbagai gangguan neurologis, termasuk rehabilitasi pasien pasca stroke.

Pada prosedur TMS, dokter menempatkan kumparan magnet di area kepala yang sesuai dengan bagian otak yang ingin dirangsang. Kumparan tersebut menghasilkan denyut magnet yang mampu menembus tulang tengkorak dan memicu impuls listrik berintensitas rendah pada jaringan saraf yang menjadi target terapi.

Stimulasi ini bertujuan membantu mengoptimalkan kembali fungsi jaringan saraf yang terganggu akibat stroke. Pada sebagian pasien, perbaikan fungsi otak tersebut dapat mendukung pemulihan kemampuan menelan, terutama bila disfagia disebabkan oleh kerusakan saraf akibat stroke.

3. Terapi wicara (speech therapy)

Selain pemeriksaan dan stimulasi otak, pasien stroke yang mengalami disfagia juga dapat menjalani terapi wicara (speech therapy). Terapi ini bertujuan melatih kembali koordinasi otot dan saraf yang berperan dalam proses menelan sehingga kemampuan menelan dapat meningkat secara bertahap.

Di RS Mandaya Royal Puri, terapi wicara dilakukan oleh terapis wicara yang bekerja sama dengan dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi untuk menyusun program rehabilitasi yang sesuai dengan kondisi masing-masing pasien. Jenis latihan yang diberikan disesuaikan dengan lokasi gangguan pada proses menelan, sehingga terapi dapat membantu mengurangi risiko tersedak, aspirasi, serta meningkatkan keamanan dan kenyamanan pasien saat makan maupun minum selama masa pemulihan pasca stroke.

Dokter spesialis rehab medik di RS Mandaya Royal Puri

1. dr. Andre Sugiyono, Sp.KFR

Salah satu dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi yang dapat Anda temui di RS Mandaya Royal Puri adalah dr. Andre Sugiyono, Sp.KFR.

dr. Andre menyelesaikan pendidikan dokter umum di Universitas Katolik Atma Jaya, kemudian melanjutkan pendidikan spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi di Universitas Indonesia.

Beliau memiliki kompetensi dalam berbagai layanan rehabilitasi medik, di antaranya:

  • Elektroterapi
  • Fisioterapi
  • Hidroterapi
  • Rehabilitasi pascastroke.

dr. Andre Sugiyono, Sp.KFR melayani konsultasi di RS Mandaya Royal Puri dengan jadwal berikut:

  • Senin: 08.30–15.30 WIB
  • Selasa: 08.30–15.30 WIB
  • Rabu: 08.30–15.30 WIB
  • Kamis: 08.30–15.30 WIB
  • Jumat: 08.30–15.30 WIB
  • Sabtu: 14.30–19.00 WIB.

2. dr. Eugene Nathania, Sp.KFR

dr. Eugene Nathania, Sp.KFR merupakan dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi medik yang menempuh pendidikan dokter umum serta spesialis di Universitas Indonesia.

Beliau memiliki keahlian dalam berbagai bidang rehabilitasi, seperti rehabilitasi obstetri, manual therapy, taping, hingga dry needling. Selain itu, dr. Eugene juga menangani berbagai keluhan nyeri muskuloskeletal serta membantu pasien mengembalikan fungsi gerak dan mobilitas tubuh.

Jadwal praktik dr. Eugene Nathania, Sp.KFR di RS Mandaya Royal Puri adalah:

  • Senin: 08.00–14.00 WIB
  • Selasa: 08.00–14.00 WIB
  • Rabu: 08.00–14.00 WIB
  • Kamis: 08.00–14.00 WIB
  • Jumat: 08.00–14.00 WIB
  • Sabtu: 08.00–14.00 WIB.

3. dr. Johanes Putra, Sp.KFR

Rekomendasi dokter rehabilitasi medik lainnya di RS Mandaya Royal Puri adalah dr. Johanes Putra, Sp.KFR.

Beliau menyelesaikan pendidikan dokter umum di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, kemudian meraih gelar spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi dari Universitas Indonesia.

Fokus praktik dr. Johanes meliputi penanganan gangguan muskuloskeletal yang melibatkan otot, tulang, dan sendi. Selain itu, beliau juga memiliki kompetensi dalam melakukan manajemen nyeri intervensi untuk membantu mengurangi keluhan nyeri dan meningkatkan kualitas hidup pasien.

dr. Johanes Putra, Sp.KFR membuka praktik di RS Mandaya Royal Puri pada jadwal berikut:

  • Senin: 14.30–20.00 WIB
  • Selasa: 14.30–20.00 WIB
  • Rabu: 14.30–20.00 WIB
  • Kamis: 14.30–20.00 WIB
  • Jumat: 14.30–20.00 WIB
  • Sabtu: 08.00–14.00 WIB.

Baca juga: Rumah Sakit Rehabilitasi Medik di Jakarta Barat dan Tangerang, RS Mandaya Puri

Dokter saraf ahli terapi TMS pasca stroke di RS Mandaya Royal Puri

Selain ditangani oleh dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi, pasien stroke yang membutuhkan terapi TMS juga dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis saraf di RS Mandaya Royal Puri, yaitu Dr. dr. Yetty Ramli, Sp.N(K). Beliau memiliki keahlian di bidang neurorestorasi, neurobehavior, dan neurotrauma, serta menangani pasien anak maupun dewasa.

Dr. Yetty berpengalaman menangani berbagai gangguan neurologis, mulai dari penyakit Parkinson, penyakit Alzheimer, rehabilitasi pasca stroke, hingga autisme pada anak. Selain terapi TMS, beliau juga menguasai berbagai metode neuromodulasi lainnya, seperti Transcranial Direct Current Stimulation (tDCS), pemeriksaan Electroencephalography (EEG), serta pendekatan neurorestorasi yang bertujuan membantu mengembalikan fungsi sistem saraf yang terganggu.

Beliau merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, kemudian menyelesaikan pendidikan spesialis neurologi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Dr. Yetty juga meraih gelar Ph.D. di bidang Biomedik Veteriner dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Untuk memperdalam kompetensinya, beliau mengikuti berbagai program fellowship, di antaranya Fellowship Neuropediatri di Sydney Children’s Hospital, serta fellowship di bidang neurobehavior, neurorestorasi, dan neurotrauma.

Bagi Anda yang ingin berkonsultasi dengan Dr. dr. Yetty Ramli, Sp.N(K) di RS Mandaya Royal Puri, berikut jadwal praktiknya:

  • Senin: 16.00–20.00 WIB
  • Rabu: 16.00–20.00 WIB

Untuk mempermudah kunjungan Anda ke Mandaya Royal Hospital Puri, gunakan fitur Chat melalui Whatsapp, Book Appointment, atau aplikasi Care Dokter yang bisa di-download di Google Play dan App Store untuk mempermudah kunjungan, melihat nomor antrian, dan mendapatkan informasi lengkap lainnya.

*Informasi yang tersedia pada halaman ini disusun untuk tujuan edukasi dan gambaran umum, sehingga tidak mencerminkan seluruh jenis layanan medis yang dapat dilakukan oleh masing-masing dokter. Untuk memastikan penanganan yang sesuai dengan kondisi kesehatan Anda, disarankan melakukan konsultasi langsung dengan dokter terkait.

Apabila Anda memiliki pertanyaan, saran, atau membutuhkan informasi lebih lanjut, silakan menghubungi call center kami di 0811-1900-2000.

Konsultasi dokter

Referensi:

  1. Cleveland Clinic. Dysphagia (Difficulty Swallowing). (https://my.clevelandclinic.org/health/symptoms/21195-dysphagia-difficulty-swallowing). Direvisi terakhir 31 Januari 2025. Diakses pada 13 Juli 2026.
  2. Mayo Clinic. Dysphagia. (https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/dysphagia/symptoms-causes/syc-20372028). Direvisi terakhir 5 Juni 2024. Diakses pada 13 Juli 2026.
  3. UPMC HealthBeat. Understanding Dysphagia After Stroke. (https://share.upmc.com/2025/04/understanding-dysphagia-after-stroke/). Dipublikasikan April 2025. Diakses pada 13 Juli 2026.
  4. Johns Hopkins Medicine. Fiberoptic Evaluation of Swallowing. (https://www.hopkinsmedicine.org/health/treatment-tests-and-therapies/fiberoptic-evaluation-of-swallowing). Tanpa tanggal publikasi. Diakses pada 13 Juli 2026.
  5. Cleveland Clinic. Transcranial Magnetic Stimulation (TMS). (https://my.clevelandclinic.org/health/treatments/17827-transcranial-magnetic-stimulation-tms). Direvisi terakhir 12 Februari 2024. Diakses pada 13 Juli 2026.
  6. BetterSpeech. Speech Therapy for Dysphagia. (https://www.betterspeech.com/post/speech-therapy-dysphagia). Dipublikasikan 15 November 2023. Diakses pada 13 Juli 2026.
Need Help? Chat with us!
Start a Conversation
Hi! Click one of our members below to chat on WhatsApp
We usually reply in a few minutes