Saraf kejepit di leher bisa menimbulkan nyeri hebat hingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Hal inilah yang dialami oleh Yani, pasien berusia 44 tahun asal Kosambi, yang mengalami saraf kejepit leher di tiga titik sejak 2022. Rasa sakitnya bahkan membuatnya harus bersembunyi di kamar mandi saat nyeri datang.
Setelah menjalani tindakan Anterior Cervical Discectomy and Fusion (ACDF) di RS Mandaya Royal Puri dengan dr. Christian Ariono, Sp.BS-FTB, FINSS, FINPS, FICS, hasilnya langsung terasa. “Kalau sebelumnya semua sakit di sini, begitu sudah dioperasi itu hilang saja. Jadi benar-benar enteng, kembali normal,” katanya.
Ia juga mengungkapkan kepuasannya terhadap pelayanan rumah sakit. “Dari segi harga juga lebih baik di sini. Apa yang kita bayar memang sesuai dengan yang kita dapat. Fasilitasnya oke, bersih, nyaman,” lanjutnya.
Lalu, seperti apa tindakan ACDF yang dijalani pasien dengan saraf kejepit leher di tiga titik ini?
Contents
Evaluasi MRI: ditemukan 3 titik penekanan saraf
Berdasarkan hasil MRI, terdapat dua masalah utama yang menjadi penyebab keluhan pasien.
Menurut dr. Christian Ariono: “Yang pertama adalah kelengkungan bentuk lehernya sudah tidak ideal. Normalnya leher melengkung ke belakang, ini cenderung membungkuk ke depan. Yang kedua, yang menjepit sarafnya adalah bantalan-bantalan yang menonjol ini.”
Artinya, pasien tidak hanya mengalami saraf terjepit akibat bantalan yang menonjol, tetapi juga gangguan alignment atau kelengkungan tulang leher.
Apa itu tindakan ACDF?
ACDF adalah prosedur operasi saraf kejepit leher yang dilakukan melalui sayatan kecil di bagian depan leher.
Tujuan tindakan ini adalah:
- Mengangkat bantalan (diskus) yang menonjol dan menekan saraf
- Memperbaiki kelengkungan atau alignment tulang leher
- Menstabilkan tulang belakang dengan pemasangan implan.
Dalam prosedur ini, dokter menggunakan mikroskop bedah untuk presisi tinggi serta alat C-arm untuk memastikan level tulang yang dioperasi sudah tepat.
Setelah diskus yang menonjol diangkat, ruang tersebut diganti dengan implan cage berbahan kombinasi silikon dan titanium untuk menjaga stabilitas tulang belakang.
Operasi dengan teknologi intraoperative monitoring untuk keamanan pasien
Untuk meningkatkan keamanan selama operasi bedah saraf di RS Mandaya Royal Puri, termasuk operasi saraf kejepit di leher dengan ACDF, dokter menggunakan teknologi intraoperative neuromonitoring (IOM).
dr. Christian Ariono menjelaskan: “Untuk protokol operasi leher, kami menggunakan intraoperative monitoring. Saya ditemani dokter spesialis neurologi yang memantau fungsi saraf pasien selama operasi sehingga kita bisa mencegah komplikasi kerusakan saraf.”
Pendekatan ini membantu meminimalkan risiko cedera saraf selama tindakan berlangsung.
Proses operasi lebih cepat dari perkiraan
Operasi yang diperkirakan memakan waktu sekitar 5 jam ternyata berjalan lancar dan selesai dalam waktu 3,5 jam. Proses dilakukan dengan sayatan kecil di sisi kanan leher bagian depan menggunakan teknik minimal invasif berbantuan mikroskop. Setelah operasi, pasien langsung merasakan perbedaan signifikan.
Pada hari kedua setelah operasi, pasien menyampaikan bahwa nyeri yang sebelumnya dirasakan sudah hilang sepenuhnya.
“Tidak ada rasa sakit. Setiap kali ditanya dokter dan suster ada nyeri atau tidak, saya bilang tidak ada,” kata pasien.
Masa pemulihan penuh diperkirakan sekitar dua bulan. Namun untuk aktivitas ringan, pasien sudah dapat kembali beraktivitas secara bertahap dengan pembatasan tertentu.
Alasan pasien memilih RS Mandaya Royal Puri
Selain mempertimbangkan faktor jarak yang dekat dari tempat tinggalnya, pasien juga merasa lebih nyaman menjalani operasi di Mandaya.
Pasien mengungkapkan beberapa alasan yang membuatnya merasa yakin menjalani tindakan di rumah sakit tersebut, antara lain proses administrasi yang cepat dan terkoordinasi dengan baik, adanya grup komunikasi khusus sebelum operasi sehingga informasi tersampaikan secara jelas, fasilitas kamar dan layanan yang dinilai nyaman serta memadai, serta harga yang kompetitif dibandingkan rumah sakit lain dengan standar pelayanan yang sebanding.
Ia menekankan pentingnya keyakinan dan kepercayaan kepada tim dokter sebelum menjalani operasi besar seperti ACDF.
Profil dr. Christian Ariono, dokter bedah saraf ahli tangani saraf kejepit

dr. Christian Ariono, Sp.BS, FICS adalah dokter spesialis bedah saraf yang memiliki pengalaman luas dalam menangani berbagai kasus saraf terjepit, khususnya pada area leher (servikal) dan tulang belakang. Selain fokus pada gangguan saraf kejepit, beliau juga kompeten dalam melakukan tindakan bedah tumor saraf, penanganan kelainan pembuluh darah otak, hingga terapi berbagai penyakit neurologis seperti meningitis.
Sebagai anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Saraf Indonesia (PERSPEBSI), dr. Christian menguasai berbagai teknik bedah saraf modern. Keahliannya mencakup prosedur arthrospine hingga tindakan Anterior Cervical Discectomy and Fusion (ACDF), yang sering digunakan untuk menangani saraf kejepit dengan tingkat kompleksitas tinggi secara presisi dan aman.
dr. Christian Ariono, Sp.BS, FICS melayani pasien di RS Mandaya Royal Puri dengan jadwal praktek sebagai berikut:
- Senin: 08.00 – 16.00 WIB
- Selasa: 08.00 – 12.00 WIB
- Rabu: 08.00 – 16.00 WIB
- Kamis: 08.00 – 16.00 WIB
- Jumat: 08.00 – 16.00 WIB
- Sabtu: 08.00 – 16.00 WIB.
Untuk mempermudah kunjungan Anda, gunakan fitur Chat melalui Whatsapp, Book Appointment, atau aplikasi Care Dokter yang bisa di-download di Google Play dan App Store untuk mempermudah kunjungan, melihat nomor antrian, dan mendapatkan informasi lengkap lainnya.

