Saraf terjepit merupakan kondisi ketika saraf mengalami tekanan akibat penyempitan ruang tulang belakang, bantalan tulang belakang (diskus), atau jaringan di sekitarnya. Kondisi ini sering menimbulkan keluhan nyeri pinggang, rasa kesemutan, kebas, hingga nyeri yang menjalar ke tungkai. Pada kasus tertentu, saraf terjepit dapat mengganggu aktivitas sehari-hari karena menurunkan kemampuan berjalan dan bergerak secara normal.
Hal inilah yang dialami oleh seorang pasien yang datang ke RS Mandaya Royal Puri dengan keluhan nyeri pinggang yang menjalar ke kaki kiri. Nyeri tersebut sudah dirasakan selama berbulan-bulan dan semakin mengganggu, terutama saat berjalan jauh untuk menjalani aktivitas sehari-hari.
Di RS Mandaya Royal Puri, penanganan saraf terjepit dilakukan oleh dokter spesialis ortopedi berpengalaman. Salah satunya adalah dr. Mohammad Fachry Lubis, Sp.OT-(K), yang menangani kasus ini dengan tindakan minimal invasif menggunakan metode BESS (Biportal Endoscopic Spine Surgery). Teknik ini memanfaatkan teknologi endoskopi untuk membebaskan saraf terjepit dengan sayatan minimal, sehingga pasien dapat merasakan pemulihan yang lebih cepat.
Contents
Keluhan nyeri pinggang menjalar hingga kaki kiri
Pada pemeriksaan awal, pasien mengeluhkan nyeri pinggang yang menjalar ke tungkai, terutama kaki kiri. Keluhan ini telah berlangsung lama, bahkan selama berbulan-bulan, sehingga membatasi kemampuan pasien untuk berjalan jauh dan menjalani aktivitas sehari-hari secara normal. Kondisi ini menjadi tanda khas adanya penekanan saraf di area tulang belakang bawah.
“Pasien ini datang ke saya dengan keluhan nyeri pinggang dan nyeri menjalar ke tungkai, terutama kaki kiri dan ini sudah berlangsung berbulan-bulan, berlangsung lama, dan juga menyebabkan pasien ini susah berjalan jauh untuk aktivitas sehari-hari,” kata dr. Fachry.
Setelah dilakukan evaluasi dan pemeriksaan penunjang, diketahui bahwa pasien mengalami saraf terjepit di dua lokasi, yaitu pada level L5-S1 dan juga di level atasnya, L4-L5. Penekanan saraf di dua titik ini menjadi penyebab utama nyeri yang dirasakan pasien.
Baca juga: Rekomendasi Dokter Saraf Terjepit di Jakarta dan Tangerang
Penanganan saraf terjepit dengan metode endoskopi BESS
Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, dr. Fachry, dokter spesialis ortopedi konsultan tulang belakang (spine) memutuskan untuk melakukan tindakan dengan metode endoskopi menggunakan teknik BESS. Prosedur ini dilakukan dengan bantuan alat seperti teropong (endoskop), sehingga dokter dapat melihat area saraf secara jelas dan akurat.
Melalui metode BESS, kedua saraf yang terjepit dapat dibebaskan sekaligus dalam satu tindakan. Teknik ini tergolong minimal invasif karena hanya memerlukan sayatan kecil, tanpa merusak jaringan di sekitarnya secara berlebihan.
Keunggulan BESS: pemulihan lebih cepat dan risiko minimal
Salah satu keunggulan utama metode endoskopi BESS adalah sifatnya yang minimal invasif. Dengan sayatan yang sangat minimal, risiko infeksi menjadi jauh lebih kecil dibandingkan operasi terbuka konvensional. Selain itu, kerusakan jaringan juga dapat diminimalkan.
“Jadi karena metode endoskopi BESS ini merupakan minimal invasif dengan sayatan minimal, insya Allah pemulihannya juga lebih cepat, kemudian risiko infeksi jauh lebih kecil, sehingga diharapkan pemulihan dalam waktu 1-2 hari ini pasien untuk bisa mobilisasi seperti biasa,” pungkas dr. Fachry.
Dengan metode ini, diharapkan proses pemulihan pasien berjalan lebih cepat. Pasien umumnya sudah dapat mulai mobilisasi kembali dalam waktu sekitar 1–2 hari setelah tindakan, sehingga bisa kembali beraktivitas secara bertahap dengan lebih nyaman.
Penanganan saraf terjepit dengan metode BESS di RS Mandaya Royal Puri menjadi salah satu solusi modern bagi pasien yang menginginkan tindakan efektif dengan pemulihan yang lebih singkat, ditangani langsung oleh dokter spesialis berpengalaman.
Baca juga: 6 Penanganan Saraf Terjepit dengan Metode Minimal Invasif
Profil dr. Fachry, dokter ahli tulang belakang di RS Mandaya Royal Puri

dr. Fachry merupakan dokter spesialis ortopedi konsultan tulang belakang yang berpraktik di RS Mandaya Royal Puri. Pendidikan dokter umum ditempuhnya di Universitas Sumatera Utara, kemudian dilanjutkan dengan pendidikan spesialis ortopedi serta subspesialis konsultan tulang belakang di Universitas Indonesia.
Sebagai dokter ortopedi dengan kompetensi tinggi di bidang tulang belakang, dr. Fachry memiliki pengalaman klinis yang luas dan terus memperbarui keilmuannya. Beliau aktif mengikuti berbagai kursus dan pelatihan, baik di dalam maupun luar negeri, guna mendukung penerapan teknik dan teknologi terkini dalam penanganan pasien, antara lain:
- AO Spine Asia Pacific Cadaveric Sydney (2017)
- AO Trauma Chengdu (2016)
- Paris Shoulder Course (2017)
- North America Spine Society Bali (2017)
- AO Spine Advance Jakarta (2017).
Dalam praktiknya, dr. Fachry memiliki keahlian menangani berbagai gangguan dan penyakit tulang belakang. Beberapa kondisi yang ditangani meliputi saraf terjepit, skoliosis, serta beragam kelainan tulang belakang lainnya, seperti pergeseran tulang belakang, tumor pada saraf tulang belakang, hingga patah tulang belakang.
Selain itu, dr. Fachry juga berpengalaman menangani cedera tulang belakang akibat aktivitas olahraga serta keluhan nyeri dan gangguan saraf, seperti nyeri pinggang yang menjalar ke kaki, nyeri dari area leher hingga kepala, nyeri pada area bokong, serta nyeri punggung dan pinggang yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Jadwal dr. Fachry di RS Mandaya Royal Puri
dr. Mohammad Fachry Lubis, Sp.OT-(K) bisa ditemui di RS Mandaya Royal Puri pada hari:
- Selasa: 17.00 – 20.00 WIB
- Kamis: 11.00 – 15.00 WIB
- Sabtu: 14.00 – 16.00 WIB.
Untuk mempermudah kunjungan Anda, gunakan fitur Chat melalui Whatsapp, Book Appointment, atau aplikasi Care Dokter yang bisa di-download di Google Play dan App Store untuk mempermudah kunjungan, melihat nomor antrian, dan mendapatkan informasi lengkap lainnya.

