fbpx

Kisah Inspiratif Ibu Yusnita: Hipertiroid Bisa Sembuh Dengan Ablasi Nuklir

Ibu Yusnita adalah contoh nyata bahwa hipertiroid bisa sembuh dengan perawatan yang tepat. Sejak tahun 2011, ia berjuang melawan penyakit hipertiroid yang menyebabkan berbagai gejala melemahkan, seperti penurunan berat badan drastis, gemetar, mata menonjol, dan rasa lemas yang terus menerus. Bahkan, penyakit ini membuat suaranya hilang dan semangat hidupnya menurun.

Konsultasi dokter

Perjalanan panjang melawan hipertiroid

Sejak tahun 2011, seorang wanita bernama Yusnita Tarigan dari Medan harus menghadapi perjalanan panjang melawan hipertiroid. Awalnya, ia mengalami penurunan berat badan hingga 10 kilogram, gemetaran, mata menonjol, mudah lelah, serta tidak tahan panas. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar hormon tiroid dalam tubuhnya jauh di atas normal.

Selama bertahun-tahun ia mencoba berbagai pengobatan dengan obat-obatan medis. Meski sesekali kondisinya membaik, gejala selalu kembali muncul setiap kali ia berhenti minum obat. Bahkan, kondisinya semakin memburuk hingga suaranya sempat hilang, benjolan di leher membesar, dan emosinya menjadi tidak stabil. Pada tahun 2019, komplikasi lain muncul berupa vitiligo dan osteoporosis, yang membuatnya semakin kehilangan semangat hidup.

Beberapa dokter menyarankan operasi sebagai solusi, termasuk saat ia berkonsultasi ke luar negeri. Namun, risiko operasi di area leher yang dekat dengan pita suara membuatnya ragu dan takut. Ia pun terus bertahan dengan pengobatan obat, meski hasilnya tidak memuaskan.

Menemukan harapan baru di RS Mandaya Royal Puri

Titik balik terjadi pada awal 2024 ketika Yusnita mendapatkan informasi tentang RS Mandaya Royal Puri di Tangerang, yang memiliki pusat kedokteran nuklir khusus untuk pengobatan tiroid. Ia pun memutuskan untuk datang dan berkonsultasi dengan dr. Eko Purnomo, Sp.KN (K) Onk, spesialis kedokteran nuklir.

Di sana, ia diperkenalkan dengan metode terapi ablasi nuklir menggunakan iodium radioaktif. Berbeda dengan operasi, terapi ini bekerja dengan cara menghancurkan jaringan tiroid yang terlalu aktif secara bertahap sesuai respons tubuh, sehingga lebih aman tanpa perlu tindakan bedah.

Keputusan itu menjadi titik harapan baru setelah 13 tahun penuh perjuangan. Dengan penuh keyakinan, ia menjalani terapi ablasi nuklir di RS Mandaya Royal Puri.

Konsultasi dokter

Terapi Ablasi Nuklir untuk Mengobati Hipertiroid di Mandaya Royal Hospital Puri

Pada awal 2024, Ibu Yusnita memutuskan untuk mencoba terapi ablasi radioaktif nuklir di bawah penanganan dr. Eko di Mandaya Royal Hospital Puri. dr. Eko menjelaskan bahwa terapi ini berbeda dari operasi tradisional, dan meskipun efeknya tidak langsung terlihat, ada harapan besar untuk perbaikan.

Terapi ablasi nuklir dengan iodine-131 merupakan salah satu metode pengobatan untuk kanker tiroid dan hipertiroid. Prosedur ini dilakukan dengan cara pasien meminum cairan radioaktif yang telah diformulasikan dalam dosis aman. Cairan tersebut bekerja menargetkan dan menghancurkan sel-sel kanker maupun sel tiroid yang abnormal penyebab hipertiroid, sehingga kondisi pasien dapat membaik. Prosesnya pun tergolong nyaman karena tidak memerlukan jarum suntik sama sekali.

Prosedur ini tergolong sederhana. Tahapannya meliputi:

  • Pasien cukup mengonsumsi cairan radioaktif iodin-131 yang tidak memiliki warna, bau, maupun rasa, layaknya minum obat biasa.
  • Setelah itu, pasien akan ditempatkan di ruang isolasi selama tiga hingga lima hari sesuai dengan dosis yang diterima. Isolasi ini bertujuan untuk mencegah paparan radiasi dari tubuh pasien menyebar ke orang lain.

Setelah menjalani terapi ablasi nuklir, kondisi Ibu Yusnita mulai menunjukkan perkembangan positif. Ukuran jaringan tiroidnya mulai mengecil, suaranya kembali, dan yang paling menggembirakan, ia tidak lagi perlu bergantung pada obat-obatan. Kondisi ini juga membuatnya lebih hemat secara finansial dan mampu menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih baik.

Baca Juga: Metode Pengobatan Hipertiroid Tanpa Operasi Hingga Akhirnya Dapat Berhenti Minum Obat Seumur Hidup

Harapan Baru dan Semangat Hidup

Perubahan besar dalam kondisi kesehatan Ibu Yusnita membawa kebahagiaan tidak hanya baginya, tetapi juga bagi keluarganya. Keluarganya melihat progres yang jelas, dan mereka semua merasakan kebahagiaan karena melihat Ibu Yusnita kembali sehat. Ia juga merasa lebih percaya diri dan bahagia karena tubuhnya mulai kembali normal.

Pengalaman positif ini membuat Ibu Yusnita percaya bahwa hipertiroid bisa sembuh tanpa operasi. Ia merasa sangat bersyukur atas perawatan yang diterimanya di Mandaya Royal Hospital Puri dan merekomendasikan tempat ini kepada orang-orang yang mengalami kondisi serupa.

Dengan pelayanan yang setara dengan rumah sakit luar negeri, Ibu Yusnita merasa bahwa Mandaya Royal Hospital Puri adalah pilihan yang tepat untuk pengobatan hipertiroid. Ia berharap kisahnya dapat menjadi inspirasi bagi orang lain untuk tidak menyerah dan terus mencari pengobatan yang tepat.

Konsultasi dokter

Dokter spesialis kedokteran nuklir di RS Mandaya Royal Puri

Terapi ablasi nuklir untuk mengatasi hipertiroid ataupun kanker tiroid akan dilakukan oleh dokter spesialis kedokteran nuklir. RS Mandaya Royal Puri memiliki tim dokter spesialis kedokteran nuklir yang berpengalaman, yaitu:

1. dr. Aleksander, Sp.KN

dr. Aleksander, Sp.KN merupakan dokter spesialis kedokteran nuklir lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha, Jakarta, dan melanjutkan pendidikan spesialis di Universitas Padjadjaran, Bandung.

Dengan pengalaman klinis dan pemahaman mendalam dalam teknologi kedokteran nuklir, beliau memiliki keahlian menggunakan peralatan mutakhir, termasuk Digital PET Scan, untuk menunjang diagnosis dan perawatan pasien dengan lebih akurat.

Jadwal praktik dr. Aleksander, Sp.KN di RS Mandaya Royal Puri adalah:

  • Senin: 09.00 – 17.00 WIB
  • Selasa: 09.00 – 17.00 WIB
  • Rabu: 09.00 – 17.00 WIB
  • Kamis: 09.00 – 17.00 WIB

2. dr. Eko Purnomo, Sp.KNTM (K) Onk

dr. Eko Purnomo menyelesaikan pendidikan kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Atma Jaya, Jakarta, kemudian melanjutkan spesialisasi Kedokteran Nuklir di RS Hasan Sadikin, Universitas Padjadjaran, Bandung.

Untuk memperluas kompetensi, beliau juga mengikuti berbagai pelatihan PET Scan di luar negeri, termasuk di Shanghai (Tiongkok), Amsterdam (Belanda), dan Tokyo (Jepang). Dengan pengalaman tersebut, dr. Eko Purnomo dikenal ahli dalam penanganan pasien onkologi menggunakan teknologi kedokteran nuklir terkini.

Jadwal praktik dr. Eko Purnomo, Sp.KNTM (K) Onk di RS Mandaya Royal Puri adalah:

  • Senin: 09.00 – 15.00 WIB
  • Selasa: 09.00 – 15.00 WIB
  • Rabu: 09.00 – 15.00 WIB
  • Kamis: 09.00 – 15.00 WIB
  • Jumat: 11.00 – 15.00 WIB

3. dr. Alvita Dewi S, Sp.KN (K), M.Kes, FANMB

dr. Alvita Dewi S adalah dokter spesialis kedokteran nuklir yang menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung, serta menyelesaikan program spesialisasi di bidang yang sama. Beliau juga aktif dalam pengembangan ilmu kedokteran nuklir dan memiliki sertifikasi profesional internasional.

Jadwal praktik dr. Alvita Dewi S, Sp.KN (K), M.Kes, FANMB di RS Mandaya Royal Puri adalah:

  • Senin: 17.00 – 19.00 WIB
  • Rabu: 17.00 – 19.00 WIB

Baca Juga: Rekomendasi Dokter Spesialis Tiroid di Jakarta Barat

Untuk konsultasi dengan dokter spesialis kedokter nuklir, silahkan buat janji dengan melalui Chat Whatsapp, halaman Booking di website Mandaya, atau aplikasi Care Dokter yang bisa di-download di Google Play dan App Store. Selain janji temu, Anda juga bisa memantau nomor antrian dan mendapatkan informasi lengkap lainnya di sana.

Konsultasi dokter

Need Help? Chat with us!
Start a Conversation
Hi! Click one of our members below to chat on WhatsApp
We usually reply in a few minutes