Osteoporosis adalah penyakit tulang yang terjadi ketika tubuh kehilangan terlalu banyak tulang, tidak membentuk tulang yang cukup, atau mengalami keduanya. Kondisi ini menyebabkan kepadatan dan kekuatan tulang menurun sehingga tulang menjadi lebih rapuh dan mudah patah, bahkan akibat benturan ringan atau dalam kondisi yang lebih parah saat melakukan aktivitas sederhana seperti bersin.
Secara sederhana, osteoporosis dapat diibaratkan seperti tulang yang memiliki lebih banyak rongga daripada tulang yang sehat. Seiring berkurangnya kepadatan tulang, risiko terjadinya patah tulang pun semakin meningkat. Karena itu, terutama bagi Anda yang berusia 50 tahun ke atas dan pernah mengalami patah tulang, pemeriksaan kepadatan tulang dapat membantu mengetahui kondisi kesehatan tulang. Lantas, apa saja gejala, penyebab, dan pengobatan osteoporosis?
Contents
Waspadai gejala osteoporosis yang sering tidak disadari

Osteoporosis umumnya tidak menimbulkan gejala yang mudah dikenali seperti pada banyak penyakit lainnya. Karena itu, kondisi ini sering disebut sebagai silent disease atau penyakit yang dapat berkembang tanpa disadari.
Penderita osteoporosis biasanya tidak merasakan tanda khusus seperti sakit kepala, demam, atau sakit perut yang menunjukkan adanya masalah pada tubuh. Gejala yang paling sering terjadi justru adalah patah tulang secara tiba-tiba, terutama setelah terjatuh atau mengalami benturan ringan yang biasanya tidak menyebabkan cedera serius.
Meski osteoporosis tidak secara langsung menimbulkan gejala, terdapat beberapa perubahan pada tubuh yang dapat menjadi tanda bahwa kepadatan dan kekuatan tulang mulai menurun, seperti:
- Tinggi badan berkurang sekitar 2,5 cm atau lebih.
- Perubahan postur tubuh, misalnya menjadi lebih membungkuk atau condong ke depan.
- Nyeri punggung bagian bawah.
- Sesak napas jika tulang belakang mengalami penekanan yang cukup parah hingga memengaruhi kapasitas paru-paru.
Perubahan pada tubuh tersebut terkadang sulit disadari oleh diri sendiri. Orang terdekat justru mungkin lebih mudah melihat adanya perubahan, terutama pada tinggi badan atau postur. Karena itu, jika Anda merasa tubuh semakin pendek atau postur semakin membungkuk seiring bertambahnya usia, sebaiknya konsultasikan kondisi tersebut kepada dokter. Dokter dapat menyarankan pemeriksaan kepadatan tulang untuk mengetahui kondisi tulang secara lebih akurat.
Selain osteoporosis, seseorang juga dapat mengalami osteopenia, yaitu kondisi ketika kepadatan tulang lebih rendah dari yang seharusnya untuk usia tertentu. Osteopenia dapat menjadi tanda awal penurunan kepadatan tulang dan berpotensi berkembang menjadi osteoporosis jika tidak ditangani dengan tepat.
Apa yang menjadi penyebab osteoporosis?
Osteoporosis terjadi ketika tubuh kehilangan massa tulang lebih cepat daripada kemampuannya untuk membentuk tulang baru. Hingga sekitar usia 30 tahun, pembentukan tulang biasanya masih lebih banyak daripada tulang yang hilang. Namun, setelah memasuki usia 35 tahun, proses kehilangan tulang mulai berlangsung lebih cepat sehingga massa tulang perlahan menurun. Pada penderita osteoporosis, proses ini terjadi lebih cepat dari normal. Setelah menopause, terutama pada perempuan, kehilangan massa tulang juga dapat berlangsung lebih cepat akibat perubahan hormon.
Faktor risiko osteoporosis
Siapa pun dapat mengalami osteoporosis, tetapi risikonya dapat meningkat jika Anda:
- Berusia lebih dari 50 tahun.
- Berjenis kelamin perempuan, terutama setelah menopause.
- Memiliki riwayat osteoporosis dalam keluarga.
- Memiliki tubuh yang kurus atau kerangka tubuh kecil.
- Merokok atau menggunakan produk tembakau.
- Kekurangan vitamin D.
- Jarang melakukan aktivitas fisik.
- Mengonsumsi alkohol secara berlebihan, terutama lebih dari dua minuman per hari.
Beberapa kondisi kesehatan juga dapat meningkatkan risiko osteoporosis, seperti:
- Gangguan endokrin, termasuk penyakit tiroid, hipertiroidisme, dan diabetes.
- Penyakit saluran pencernaan, seperti penyakit celiac dan penyakit radang usus.
- Penyakit autoimun yang memengaruhi tulang, seperti rheumatoid arthritis dan ankylosing spondylitis.
- Kelainan darah atau kanker darah, seperti multiple myeloma.
Selain itu, penggunaan obat-obatan tertentu atau tindakan operasi tertentu juga dapat meningkatkan risiko osteoporosis, di antaranya:
- Obat diuretik.
- Kortikosteroid.
- Beberapa obat untuk mengatasi kejang.
- Operasi bariatrik.
- Terapi hormon untuk pengobatan kanker.
- Obat pengencer darah.
- Proton pump inhibitor (PPI).
Komplikasi osteoporosis jika tidak ditangani
Patah tulang, terutama pada tulang belakang atau panggul, merupakan salah satu komplikasi osteoporosis yang paling serius. Patah tulang panggul sering terjadi akibat jatuh dan dapat menyebabkan keterbatasan dalam beraktivitas. Pada kondisi tertentu, patah tulang panggul juga dapat meningkatkan risiko kematian dalam satu tahun setelah cedera.
Patah tulang pada tulang belakang juga dapat terjadi tanpa didahului oleh jatuh atau cedera berat. Tulang belakang yang disebut vertebra dapat melemah hingga akhirnya mengalami keruntuhan. Kondisi ini dapat menyebabkan nyeri punggung, penurunan tinggi badan, serta perubahan postur tubuh menjadi lebih membungkuk.
Apakah osteoporosis bisa dideteksi?
Osteoporosis dapat dideteksi melalui pemeriksaan kepadatan tulang, yang dikenal sebagai tes Bone Mineral Density (BMD). Pemeriksaan ini menggunakan sinar-X dengan dosis rendah untuk mengukur kepadatan tulang serta jumlah kalsium dan mineral di dalamnya. Prosedurnya mirip dengan pemeriksaan X-ray dan tidak memerlukan jarum atau suntikan.
Pemeriksaan kepadatan tulang dapat membantu mendeteksi osteoporosis sebelum terjadi patah tulang. Dokter mungkin menyarankan pemeriksaan secara berkala, terutama jika Anda:
- Memiliki riwayat osteoporosis dalam keluarga.
- Berusia lebih dari 50 tahun.
- Mengalami osteopenia.
- Sudah mengalami menopause.
Di RS Mandaya Royal Hospital Puri, pemeriksaan kepadatan tulang atau tes BMD juga tersedia untuk membantu mengevaluasi kondisi dan kepadatan tulang. Hasil pemeriksaan dapat menjadi salah satu dasar bagi dokter untuk menentukan kondisi kesehatan tulang serta langkah penanganan yang sesuai.
Pengobatan osteoporosis
Tujuan utama pengobatan osteoporosis adalah mencegah patah tulang. Dokter dapat merekomendasikan berbagai cara untuk memperkuat tulang yang sudah ada sekaligus memperlambat penurunan kepadatan tulang. Pilihan pengobatan dapat meliputi:
1. Olahraga
Tetap aktif secara fisik dapat membantu memperkuat tulang, otot, tendon, dan ligamen. Dokter dapat menyarankan olahraga yang melatih kekuatan serta keseimbangan, seperti:
- Berjalan kaki.
- Yoga.
- Pilates.
- Tai chi.
Pada kondisi tertentu, Anda mungkin perlu berkonsultasi dengan fisioterapis untuk menentukan jenis dan intensitas olahraga yang sesuai.
2. Suplemen vitamin dan mineral
Dokter dapat merekomendasikan suplemen kalsium atau vitamin D yang dijual bebas maupun dengan resep. Jenis, dosis, dan frekuensi penggunaannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
3. Obat-obatan osteoporosis
Dokter dapat meresepkan obat untuk membantu memperlambat kehilangan tulang atau meningkatkan kekuatan tulang. Beberapa obat yang dapat digunakan antara lain:
- Terapi hormon, seperti estrogen atau testosteron.
- Bisphosphonate.
Pada osteoporosis yang berat atau ketika risiko patah tulang cukup tinggi, dokter mungkin mempertimbangkan obat lain, seperti:
- Analog hormon paratiroid (PTH).
- Denosumab.
- Romosozumab.
Beberapa obat tersebut diberikan melalui suntikan dan penggunaannya perlu disesuaikan dengan kondisi serta kebutuhan pasien.
Untuk mempermudah kunjungan Anda ke Mandaya Royal Hospital Puri, gunakan fitur Chat melalui Whatsapp, Book Appointment, atau aplikasi Care Dokter yang bisa di-download di Google Play dan App Store untuk mempermudah kunjungan, melihat nomor antrian, dan mendapatkan informasi lengkap lainnya.
*Informasi yang tersedia pada halaman ini disusun untuk tujuan edukasi dan gambaran umum, sehingga tidak mencerminkan seluruh jenis layanan medis yang dapat dilakukan oleh masing-masing dokter. Untuk memastikan penanganan yang sesuai dengan kondisi kesehatan Anda, disarankan melakukan konsultasi langsung dengan dokter terkait.
Apabila Anda memiliki pertanyaan, saran, atau membutuhkan informasi lebih lanjut, silakan menghubungi call center kami di 0811-1900-2000.
Referensi:
- Bone Health & Osteoporosis Foundation. What is Osteoporosis and What Causes It? (https://www.bonehealthandosteoporosis.org/patients/what-is-osteoporosis/). Diakses pada 24 September 2026.
- Cleveland Clinic. Osteoporosis: Symptoms, Causes & Treatment. (https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/4443-osteoporosis). Diakses pada 24 September 2026.
- Mayo Clinic. Osteoporosis – Symptoms and Causes. (https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/osteoporosis/symptoms-causes/syc-20351968). Diakses pada 24 September 2026.

