Gangguan kencing pada wanita dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari sering buang air kecil, rasa ingin kencing yang sulit ditahan, kencing tidak tuntas, hingga urine yang keluar tanpa disadari. Keluhan tersebut terkadang dianggap sebagai hal yang wajar, terutama seiring bertambahnya usia. Padahal, gangguan kencing dapat berkaitan dengan masalah pada kandung kemih, saluran kemih, otot dasar panggul, maupun saraf yang mengatur proses berkemih.
Penyebabnya pun tidak selalu sama. Kencing tidak tuntas, misalnya, dapat disebabkan oleh infeksi saluran kemih, gangguan kontraksi kandung kemih, hingga hambatan pada saluran urine. Sementara itu, keluhan beser atau urine yang bocor saat batuk dan tertawa dapat berkaitan dengan gangguan fungsi kandung kemih atau melemahnya otot dasar panggul.

Untuk memahami berbagai gangguan kencing yang umum dialami wanita, dr. Andika Afriansyah, Sp.U, Subsp. FFN (K), MARS, dokter urologi subspesialis urologi fungsional, perempuan, dan neurourologi di RS Mandaya Royal Puri, menjelaskan penyebab, pemeriksaan, hingga pilihan penanganannya.
Contents
Gangguan kencing pada wanita: dari kencing tidak tuntas hingga beser
Menurut dr. Andika, salah satu gangguan kencing pada wanita yang cukup sering ditemui adalah kencing tidak tuntas. Untuk mengetahui penyebabnya, kondisi ini perlu dibedakan berdasarkan mekanisme yang mendasarinya.
Kencing tidak tuntas yang disertai rasa nyeri dan anyang-anyangan dapat berkaitan dengan infeksi saluran kemih atau ISK. Pada kondisi seperti ini, pemeriksaan urine dapat membantu dokter mengetahui adanya infeksi.
Namun, apabila pemeriksaan urine tidak menunjukkan infeksi tetapi keluhan tetap muncul, dokter perlu mencari kemungkinan penyebab lainnya.
Menurut dr. Andika, kencing tidak tuntas dapat terjadi karena masalah pada kemampuan kandung kemih untuk berkontraksi maupun karena adanya hambatan pada saluran urine.
1. Kandung kemih tidak mampu berkontraksi dengan baik
Kandung kemih bekerja seperti sebuah penampung yang akan berkontraksi untuk mendorong urine keluar. Pada kondisi tertentu, otot kandung kemih tidak dapat berkontraksi secara optimal sehingga urine tidak dapat dikeluarkan secara tuntas.
Gangguan ini dapat berkaitan dengan berbagai penyakit atau kondisi yang memengaruhi fungsi kandung kemih.
2. Terdapat sumbatan pada saluran urine
Kencing tidak tuntas juga dapat terjadi ketika aliran urine terhambat sehingga urine tidak dapat keluar dengan lancar.
Pada wanita, terutama yang sudah lanjut usia, salah satu kondisi yang dapat berperan adalah turunnya organ panggul atau prolaps organ panggul. Misalnya, rahim atau jaringan di sekitarnya mengalami penurunan dan kemudian memengaruhi posisi kandung kemih maupun saluran urine.
Sementara itu, pada wanita yang lebih muda, gangguan juga dapat terjadi ketika otot atau katup pada saluran urine tidak dapat membuka dengan baik saat buang air kecil.
Kandung kemih terlalu sensitif juga dapat menyebabkan sering ingin kencing
Selain masalah pengosongan urine, gangguan pada fungsi kandung kemih juga dapat menyebabkan seseorang terlalu sering merasa ingin buang air kecil.
Dalam kondisi normal, kandung kemih dapat menampung urine hingga volume tertentu sebelum mengirimkan sinyal kepada otak bahwa seseorang perlu buang air kecil. Namun, pada kandung kemih terlalu aktif atau overactive bladder, kandung kemih dapat menjadi terlalu sensitif sehingga rasa ingin kencing muncul meskipun urine yang terkumpul masih sedikit.
Pada kondisi yang lebih berat, rasa ingin buang air kecil dapat muncul secara tiba-tiba dan sangat kuat sehingga seseorang tidak sempat mencapai toilet. Kondisi ini dapat menyebabkan urine keluar tanpa disengaja (ngompol) atau inkontinensia urine urgensi.
Otot dasar panggul yang lemah dapat menyebabkan urine bocor
Gangguan kencing pada wanita juga dapat berupa urine yang keluar ketika melakukan aktivitas tertentu, seperti batuk, tertawa, bersin, berjalan, atau melompat. Kondisi ini dikenal sebagai inkontinensia urine stres.
Keluhan tersebut lebih sering ditemukan pada wanita yang lebih tua karena kekuatan otot dasar panggul dapat menurun seiring bertambahnya usia. Otot dan jaringan penyangga di sekitar kandung kemih dan saluran urine berperan membantu menahan urine agar tidak keluar ketika terjadi peningkatan tekanan di dalam perut.
Bagaimana dokter mengetahui penyebab gangguan kencing?
Untuk mengetahui sumber masalahnya, dokter urologi dapat melakukan pemeriksaan sesuai dengan keluhan dan kondisi pasien. Salah satu pemeriksaan yang dapat digunakan untuk mengevaluasi fungsi kandung kemih secara lebih menyeluruh adalah urodinamik.
Pemeriksaan urodinamik dapat mengukur berbagai aktivitas kandung kemih dan saluran urine, termasuk hubungan antara tekanan, volume, serta aktivitas kandung kemih selama proses pengisian dan pengosongan.
Dengan pemeriksaan tersebut, dokter dapat memperoleh gambaran mengenai bagaimana kandung kemih menyimpan dan mengeluarkan urine sehingga membantu menentukan penyebab keluhan serta pilihan terapi yang sesuai.
Pilihan pengobatan gangguan kencing pada wanita
Penanganan gangguan kencing pada wanita bergantung pada penyebab dan jenis keluhannya. Beberapa pilihan yang dapat dilakukan antara lain:
1. Latihan otot dasar panggul
Pada wanita dengan kelemahan otot dasar panggul, latihan otot dasar panggul dapat menjadi salah satu pilihan terapi. Dalam kondisi tertentu, latihan juga dapat dikombinasikan dengan stimulasi elektrikal untuk membantu meningkatkan fungsi otot.
2. Mid-urethral sling
Pada inkontinensia urine stres, salah satu tindakan yang dapat dilakukan adalah pemasangan mid-urethral sling. Prosedur ini bertujuan memberikan penyangga tambahan pada uretra sehingga urine tidak mudah keluar ketika terjadi peningkatan tekanan, misalnya saat batuk, bersin, tertawa, atau melakukan aktivitas fisik.
Untuk memudahkan pasien memahami prinsipnya, dr. Andika mengibaratkan sling seperti “jangkar” yang memberikan support tambahan pada bagian saluran urine.
3. Suntik Botox pada kandung kemih
Pada kandung kemih yang terlalu sensitif atau terlalu aktif, suntikan Botox untuk kandung kemih dapat menjadi salah satu pilihan terapi. Botox bekerja dengan mengurangi aktivitas saraf pada otot kandung kemih sehingga kandung kemih menjadi lebih rileks dan tidak terlalu cepat memberikan sinyal ingin buang air kecil.
Dengan berkurangnya sensitivitas tersebut, kandung kemih diharapkan dapat menampung urine dalam volume yang lebih besar sebelum memberikan sinyal untuk buang air kecil.
4. Sakral neuromodulasi
Pada kondisi tertentu yang tidak membaik dengan terapi sebelumnya, terdapat pula pilihan berupa sakral neuromodulasi. Terapi ini menggunakan perangkat yang ditanam untuk memberikan stimulasi listrik pada saraf sakral yang berperan dalam mengatur fungsi kandung kemih dan proses buang air kecil.
dr. Andika menjelaskan perangkat tersebut secara sederhana sebagai semacam “pacemaker” untuk saraf kandung kemih. Stimulasi yang diberikan dapat membantu mengatur kembali sinyal saraf yang berkaitan dengan fungsi kandung kemih.
Mengenal profil dan jadwal praktek dr. Andika di RS Mandaya Royal Puri

Di RS Mandaya Royal Puri, berbagai gangguan berkemih pada wanita dapat ditangani oleh tim urologi, salah satunya dr. Andika Afriansyah, Sp.U, Subsp. FFN (K), MARS, dokter spesialis urologi konsultan urologi fungsional, perempuan, dan neuro-urologi. Bidang keahliannya mencakup gangguan fungsi kandung kemih dan saluran kemih pada perempuan, termasuk kencing tidak tuntas, kandung kemih terlalu aktif, serta inkontinensia urine.
dr. Andika menyelesaikan pendidikan dokter umum di Universitas Indonesia pada 2008 dan melanjutkan pendidikan Dokter Spesialis Urologi di universitas yang sama hingga lulus pada 2020. Beliau kemudian memperdalam kompetensinya melalui pendidikan Konsultan Urologi Fungsional, Perempuan, dan Neuro-Urologi di Kolegium Urologi Indonesia yang diselesaikan pada 2022.
Dengan latar belakang tersebut, dr. Andika menangani berbagai masalah pada fungsi kandung kemih dan proses berkemih, baik yang berkaitan dengan gangguan pada kandung kemih, saluran kemih, otot dasar panggul, maupun sistem saraf yang mengatur fungsi berkemih.
Konsultasi gangguan berkemih di RS Mandaya Royal Puri
Pasien dengan keluhan seperti sering buang air kecil, kencing tidak tuntas, sulit menahan urine, atau urine yang keluar tanpa disadari dapat berkonsultasi dengan dokter urologi untuk mengetahui penyebabnya. Evaluasi akan disesuaikan dengan keluhan dan kondisi masing-masing pasien, sehingga pilihan penanganan dapat ditentukan berdasarkan masalah yang mendasarinya.
dr. Andika Afriansyah, Sp.U, Subsp. FFN (K), MARS melayani konsultasi di RS Mandaya Royal Puri pada:
- Selasa: 16.00–20.00 WIB
- Kamis: 16.00–20.00 WIB
- Sabtu: 09.00–16.00 WIB.
Untuk mempermudah kunjungan Anda ke Mandaya Royal Hospital Puri, gunakan fitur Chat melalui Whatsapp, Book Appointment, atau aplikasi Care Dokter yang bisa di-download di Google Play dan App Store untuk mempermudah kunjungan, melihat nomor antrian, dan mendapatkan informasi lengkap lainnya.
*Informasi yang tersedia pada halaman ini disusun untuk tujuan edukasi dan gambaran umum, sehingga tidak mencerminkan seluruh jenis layanan medis yang dapat dilakukan oleh masing-masing dokter. Untuk memastikan penanganan yang sesuai dengan kondisi kesehatan Anda, disarankan melakukan konsultasi langsung dengan dokter terkait.
Apabila Anda memiliki pertanyaan, saran, atau membutuhkan informasi lebih lanjut, silakan menghubungi call center kami di 0811-1900-2000.

