Atrial fibrillation (AFib) atau atrial fibrilasi merupakan salah satu jenis aritmia, yaitu gangguan pada irama jantung. Pada kondisi ini, detak jantung menjadi tidak teratur dan sering kali berdetak sangat cepat. Fibrilasi atrium dapat menyebabkan terbentuknya gumpalan darah di dalam jantung yang kemudian meningkatkan risiko stroke, gagal jantung, serta komplikasi lain yang berkaitan dengan jantung.
Salah satu pilihan penanganan fibrilasi atrium adalah ablasi jantung. Prosedur minimal invasif ini dilakukan dengan memasukkan kateter melalui pembuluh darah menuju jantung untuk menemukan dan menangani area yang menyebabkan gangguan sinyal listrik jantung. Ablasi jantung dapat menjadi pilihan bagi pasien dengan gangguan irama jantung yang tidak cukup terkontrol dengan obat-obatan.

Baru-baru ini, Siaw Muk Chon, pasien asal Kalimantan Barat, menjalani ablasi jantung untuk menangani atrial fibrilasi yang dialaminya. Tindakan dilakukan dengan metode Pulsed Field Ablation (PFA) oleh dr. Sebastian Andy Manurung, Sp.JP, Subsp. Ar(K), FIHA di RS Mandaya Royal Puri.
“Buat saya sih 10 jari lah, 10 jempol lah. Pelayanannya oke, terus juga cara bicaranya juga enak sih. Tidak bikin orang panik, tidak bikin orang takut. Bersahabat (dokternya),” kata anak pasien.
“Sekarang sudah tidak gemetar ya, hasilnya bagus,” lanjut sang pasien.
Contents
Detak jantung kembali berdebar cepat setelah sebelumnya terlalu lambat
Siaw Muk Chon, pasien asal Kalimantan Barat, memiliki riwayat gangguan irama jantung yang cukup panjang. Sebelumnya, ia pernah mengalami kondisi ketika detak jantung terlalu lambat hingga membutuhkan pemasangan alat pacu jantung (pacemaker). Setelah kondisi tersebut ditangani, muncul masalah lain, yaitu detak jantung yang tiba-tiba menjadi sangat cepat, bahkan dapat mencapai lebih dari 100 kali per menit.
Detak jantung yang cepat tersebut tidak selalu muncul terus-menerus. Kondisinya dapat datang dan pergi, tetapi tetap membuat Siaw Muk Chon dan keluarga merasa khawatir. Pemeriksaan dan konsultasi pun dilakukan secara rutin, termasuk ke rumah sakit di Penang setiap beberapa bulan.
Dari hasil evaluasi sebelumnya, Siaw Muk Chon telah beberapa kali mendapatkan rekomendasi untuk menjalani ablasi jantung. Namun, keluarga masih sempat mempertimbangkan pilihan tersebut dan mencari pendapat lain di Indonesia. Setelah berkonsultasi dengan dr. Sebastian di RS Mandaya Royal Puri, ablasi kembali menjadi pilihan penanganan yang disarankan untuk mengatasi atrial fibrilasi yang dialaminya.
Menjalani ablasi jantung dengan metode PFA
Setelah berdiskusi dan mempertimbangkan pilihan terapi, Siaw Muk Chon akhirnya menjalani ablasi jantung di RS Mandaya Royal Puri. Tindakan dilakukan oleh dr. Sebastian menggunakan metode PFA.
Prosedur dilakukan dengan memasukkan kateter multipoint berukuran kecil melalui pembuluh darah di area paha menuju jantung. Kateter jenis ini memungkinkan kateter menyasar banyak titik sekaligus di jantung. Sebelum tindakan dimulai, pasien mendapatkan anestesi umum atau bius total sehingga tidak merasakan proses ablasi yang berlangsung sekitar empat jam.
Pada pasien dengan atrial fibrilasi, ablasi jantung bertujuan menangani area jantung yang menjadi sumber atau pemicu gangguan irama. Dengan teknologi PFA, dokter menggunakan energi listrik berenergi tinggi dalam waktu singkat untuk menargetkan jaringan jantung tertentu sehingga membantu mengatasi sumber irama jantung yang abnormal.
PFA bekerja melalui mekanisme electroporation, yaitu proses ketika energi listrik membuat pori-pori kecil pada membran sel. Jika energi yang diberikan cukup, kerusakan pada sel dapat menjadi permanen. Mekanisme ini dimanfaatkan dalam ablasi jantung untuk menangani jaringan yang menjadi sumber gangguan irama.
Apa bedanya PFA dengan ablasi jantung konvensional?
PFA berbeda dari beberapa metode ablasi jantung yang lebih konvensional, seperti radiofrequency ablation dan cryoablation. Jika kedua metode tersebut menggunakan energi panas atau dingin untuk menangani jaringan yang ditargetkan, PFA menggunakan energi listrik.
Beberapa keunggulan PFA dibandingkan ablasi berbasis energi termal antara lain:
- Menggunakan energi listrik, bukan panas atau dingin. PFA menggunakan energi listrik berenergi tinggi dalam waktu singkat untuk menargetkan jaringan jantung yang menjadi sumber gangguan irama.
- Membantu membatasi risiko cedera pada organ di sekitar jantung. Ablasi yang menggunakan energi panas memiliki risiko mengenai jaringan di sekitarnya, termasuk kerongkongan serta saraf yang berkaitan dengan diafragma dan lambung.
- Risiko penyempitan pembuluh darah paru dapat lebih terbatas. PFA dirancang untuk memberikan efek pada jaringan jantung yang ditargetkan sekaligus mengurangi paparan terhadap struktur di sekitarnya.
- Prosedur umumnya lebih efisien. Dibandingkan beberapa teknik ablasi berbasis energi termal, PFA umumnya dapat dilakukan dalam waktu yang lebih singkat sehingga dapat mengurangi durasi efek bius pada pasien.
Selama tindakan, dokter juga menggunakan teknologi pemetaan jantung untuk membantu menemukan lokasi gangguan irama secara lebih presisi. Bagi Siaw Muk Chon dan keluarga, kelengkapan fasilitas serta peralatan medis menjadi salah satu pertimbangan dalam memilih tempat untuk menjalani tindakan.
Setelah ablasi, jantung terasa lebih stabil
Setelah menjalani prosedur ablasi, Siaw Muk Chon merasakan perubahan yang cukup baik. Keluhan jantung berdebar dan detak jantung yang sebelumnya tiba-tiba menjadi cepat sudah tidak lagi dirasakan seperti sebelumnya.
Proses pemulihan juga berjalan dengan baik. Tindakan dilakukan melalui akses kecil di area paha sehingga tidak memerlukan sayatan besar pada tubuh. Setelah menjalani perawatan dan observasi sesuai kebutuhan, kondisi pasien dapat dipantau untuk memastikan tidak terdapat keluhan yang mengarah pada kekambuhan gangguan irama.
Pengalaman Siaw Muk Chon menunjukkan bahwa atrial fibrilasi dapat memerlukan penanganan yang lebih definitif ketika keluhan terus berulang. Ablasi jantung dengan metode PFA menjadi salah satu pilihan terapi yang dapat dipertimbangkan berdasarkan kondisi dan hasil evaluasi masing-masing pasien oleh dokter spesialis jantung.
Kenali gejala-gejala aritmia atrial fibrilasi
Gejala utama atrial fibrilasi berkaitan dengan perubahan irama dan kecepatan detak jantung. Keluhan dapat muncul selama beberapa detik hingga beberapa menit, kemudian menghilang dan kembali lagi. Jika mengalami gejala-gejala tersebut, terutama jika terjadi berulang atau mengganggu aktivitas, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan mengetahui penyebabnya.
Beberapa gejala atrial fibrilasi yang perlu diperhatikan meliputi:
- Detak jantung tidak teratur, sehingga denyut nadi terasa tidak stabil.
- Jantung berdebar (palpitasi), yang dapat terasa seperti jantung berdenyut sangat kuat, berdetak cepat, bergetar, atau seperti melewatkan satu denyutan.
- Detak jantung lebih cepat dari 100 kali per menit.
- Mudah merasa lelah, bahkan ketika melakukan aktivitas yang biasanya dapat dilakukan dengan mudah.
- Kemampuan berolahraga atau melakukan aktivitas fisik menurun.
- Nyeri atau rasa tertekan di dada.
- Sesak napas.
- Pusing, kepala terasa ringan, atau seperti akan pingsan.
Namun, tidak semua orang dengan atrial fibrilasi mengalami gejala. Pada sebagian orang, kondisi ini justru ditemukan secara tidak sengaja saat pemeriksaan kesehatan rutin atau ketika menjalani pemeriksaan untuk kondisi medis lainnya.
Gejala atrial fibrilasi juga dapat berbeda berdasarkan jenisnya. Pada paroxysmal atrial fibrillation, gejala dapat muncul dan berhenti dengan sendirinya. Sementara pada persistent atrial fibrillation, gangguan irama biasanya tidak berhenti dengan sendirinya dan memerlukan penanganan untuk mengembalikan irama jantung. Seiring waktu, atrial fibrilasi juga dapat menjadi permanen, sehingga gangguan irama berlangsung terus-menerus.
Konsultasikan gangguan irama jantung (aritmia) Anda dengan dr. Sebastian di RS Mandaya Royal Puri

Pusat Atrial Fibrilasi Jantung Mandaya diperkuat oleh dr. Sebastian Andy Manurung, Sp.JP, Subsp. Ar(K), FIHA, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dengan subspesialisasi aritmia. Beliau berpengalaman dalam menangani berbagai gangguan irama jantung, termasuk atrial fibrilasi, melalui prosedur ablasi jantung dengan teknologi PFA. dr. Sebastian juga bisa melakukan ablasi jantung 2D dan 3D untuk jenis aritmia lainnya.
dr. Sebastian menempuh pendidikan dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, kemudian melanjutkan pendidikan spesialis jantung dan pembuluh darah di FKUI/RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita. Ia juga mendapatkan gelar konsultan aritmia dari Kolegium Ilmu Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah Indonesia.
Baca juga: dr. Sebastian, Dokter Spesialis Jantung Aritmia Lakukan Ablasi PFA Teknologi Terbaru dari Amerika
Tidak hanya ablasi PFA, dr. Sebastian juga memiliki kompetensi dalam melakukan ablasi jantung dengan teknologi pemetaan 3D serta pemasangan alat pacu jantung (pacemaker). Salah satu pencapaiannya adalah melakukan pemasangan Micra, salah satu alat pacu jantung terkecil di dunia, pada pasien di RS Mandaya Royal Puri.
Selain itu, tersedia pula layanan Reprogramming Pacemaker untuk melakukan pemeriksaan sekaligus menyesuaikan kembali pengaturan alat pacu jantung, sehingga perangkat dapat bekerja sesuai kebutuhan pasien.
dr. Sebastian Andy Manurung, Sp.JP, Subsp. Ar(K), FIHA bisa ditemui di RS Mandaya Royal Puri pada:
- Selasa: 16.00 – 20.00 WIB
- Kamis: 16.00 – 20.00 WIB
- Sabtu: 13.00 – 17.00 WIB.
Untuk mempermudah kunjungan Anda ke Mandaya Royal Hospital Puri, gunakan fitur Chat melalui Whatsapp, Book Appointment, atau aplikasi Care Dokter yang bisa di-download di Google Play dan App Store untuk mempermudah kunjungan, melihat nomor antrian, dan mendapatkan informasi lengkap lainnya.
*Informasi yang tersedia pada halaman ini disusun untuk tujuan edukasi dan gambaran umum, sehingga tidak mencerminkan seluruh jenis layanan medis yang dapat dilakukan oleh masing-masing dokter. Untuk memastikan penanganan yang sesuai dengan kondisi kesehatan Anda, disarankan melakukan konsultasi langsung dengan dokter terkait.
Apabila Anda memiliki pertanyaan, saran, atau membutuhkan informasi lebih lanjut, silakan menghubungi call center kami di 0811-1900-2000.
Referensi:
- Mayo Clinic. Atrial Fibrillation – Symptoms and Causes. (https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/atrial-fibrillation/symptoms-causes/syc-20350624). Diakses pada 21 Agustus 2026.
- Cleveland Clinic. Catheter Ablation. (https://my.clevelandclinic.org/health/treatments/16851-catheter-ablation). Diakses pada 21 Agustus 2026.
- Johns Hopkins Medicine. Pulsed Field Ablation. (https://www.hopkinsmedicine.org/health/treatment-tests-and-therapies/pulsed-field-ablation). Diakses pada 21 Agustus 2026.
- NHS. Atrial Fibrillation. (https://www.nhs.uk/conditions/atrial-fibrillation/). Diakses pada 21 Agustus 2026.

