Endoscopic Endonasal Transsphenoidal Surgery (EETS), Operasi Angkat Tumor Otak melalui Hidung

Endoscopic Endonasal Transsphenoidal Surgery (EETS), Operasi Angkat Tumor Otak melalui Hidung

Endoscopic Endonasal Transsphenoidal Surgery (EETS) adalah salah satu metode yang paling umum digunakan untuk mengangkat tumor pada kelenjar pituitari (hipofisis). Kelenjar pituitari berada di bagian dasar otak, tepat di atas rongga hidung, dan memiliki peran penting dalam mengatur berbagai hormon yang mengendalikan fungsi tubuh.

Dalam prosedur EETS, dokter menggunakan alat bernama endoskop, yaitu selang tipis dan kaku yang dilengkapi kamera, sumber cahaya, serta sistem pembesaran. Alat ini dimasukkan melalui hidung hingga mencapai area kelenjar pituitari. Kamera pada endoskop memungkinkan dokter melihat area operasi melalui layar monitor, kemudian memasukkan instrumen khusus lainnya melalui endoskop untuk mengangkat tumor secara lebih terarah.

Konsultasi dokter

Tujuan Endoscopic Endonasal Transsphenoidal Surgery

EETS

Tujuan utama EETS adalah mengembalikan fungsi kelenjar pituitari agar tetap sehat, mengangkat tumor, serta mencegah tumor tumbuh kembali. Selain itu, prosedur ini juga dapat dilakukan untuk:

  • Meredakan gejala akibat tumor yang berada di dalam atau di sekitar kelenjar pituitari, seperti sakit kepala dan gangguan penglihatan.
  • Mengontrol produksi hormon yang terganggu akibat adanya tumor pada kelenjar pituitari.
  • Menghentikan pertumbuhan tumor dan mencegah kerusakan pada kelenjar pituitari, saraf optik, maupun bagian otak di sekitarnya.
  • Mengambil sampel jaringan tumor (biopsi) untuk mengetahui jenis tumor dan membantu dokter menentukan rencana pengobatan yang sesuai.
  • Mengangkat sebagian tumor jika pengangkatan seluruh tumor berisiko membahayakan pasien. Pengurangan ukuran tumor juga dapat membantu terapi lain bekerja lebih efektif.
  • Menangani pituitary apoplexy, yaitu kondisi darurat ketika tumor pituitari mengalami perdarahan hebat secara tiba-tiba atau aliran darah di dalam tumor terhambat.
  • Menangani akromegali, yaitu kondisi akibat produksi hormon pertumbuhan yang berlebihan dan umumnya disebabkan oleh tumor pada kelenjar pituitari.

Baca juga: Operasi Tumor Otak Via Hidung oleh Dr. Joy, Pasien Dapat Melihat Kembali

Kondisi apa saja yang bisa ditangani dengan Endoscopic Endonasal Transsphenoidal Surgery?

EETS dapat digunakan untuk menangani beberapa kondisi atau tumor yang berada di sekitar kelenjar pituitari dan dasar tengkorak, antara lain:

  • Adenoma pituitari: Tumor yang tumbuh dari kelenjar pituitari dan dapat menghasilkan hormon maupun tidak menghasilkan hormon.
  • Craniopharyngioma: Tumor jinak yang tumbuh dari sel-sel di sekitar tangkai kelenjar pituitari dan pada beberapa kasus dapat meluas hingga ke ventrikel ketiga otak.
  • Kista Rathke’s cleft: Kista jinak berupa kantung berisi cairan yang berada di antara lobus anterior dan posterior kelenjar pituitari.
  • Meningioma: Tumor yang tumbuh dari meninges atau dura, yaitu selaput yang melindungi otak dan sumsum tulang belakang.
  • Chordoma: Tumor tulang ganas yang tumbuh di area dasar tengkorak.

Prosedur Endoscopic Endonasal Transsphenoidal Surgery 

EETS EETS

Sebelum EETS dilakukan

EETS umumnya dilakukan dengan anestesi umum (bius total). Oleh karena itu, pasien biasanya diminta untuk tidak makan dan minum setelah tengah malam sebelum hari operasi. Dokter juga mungkin meminta pasien menghentikan sementara obat-obatan tertentu yang dapat meningkatkan risiko perdarahan selama tindakan. Hindari mengonsumsi obat yang dijual bebas tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.

Sebelum operasi, pasien mungkin perlu menjalani beberapa pemeriksaan, seperti tes darah, pemeriksaan irama jantung, dan foto rontgen dada. Hasil pemeriksaan tersebut akan dievaluasi sebelum operasi, termasuk oleh dokter anestesi untuk memastikan kondisi pasien siap menjalani tindakan.

Selama prosedur EETS

Prosedur EETS dapat berlangsung selama beberapa jam. Dalam banyak kasus, tindakan dilakukan secara bersama oleh dokter spesialis THT dan dokter spesialis bedah saraf. Secara umum, tahapan prosedurnya meliputi:

  1. Dokter THT memasukkan endoskop melalui rongga hidung. Endoskop merupakan alat berbentuk tabung tipis yang dilengkapi kamera dan sumber cahaya untuk membantu dokter melihat area yang akan ditangani.
  2. Endoskop diarahkan melalui rongga hidung hingga mencapai dinding tulang sinus sphenoid, yang berada di bagian belakang rongga hidung.
  3. Dokter membuka sinus sphenoid agar endoskop dapat diarahkan menuju bagian belakang sinus.
  4. Selanjutnya, dibuat bukaan kecil pada dinding belakang sinus sphenoid untuk mendapatkan akses menuju area kelenjar pituitari.
  5. Pada kondisi tertentu, Magnetic Resonance Imaging (MRI) dapat digunakan selama operasi untuk memberikan gambaran area kelenjar pituitari. Informasi dari pencitraan ini dapat membantu dokter menentukan lokasi dan batas tumor dengan lebih tepat.
  6. Setelah area kelenjar pituitari berhasil dicapai, dokter bedah saraf mengangkat tumor secara bertahap dalam potongan-potongan kecil melalui akses yang telah dibuat.
  7. Setelah bagian tumor yang dapat dijangkau berhasil diangkat, endoskop dikeluarkan. Dokter kemudian dapat menempatkan bahan khusus pada rongga hidung untuk membantu menyelesaikan prosedur.

Setelah menjalani EETS

Setelah operasi, pasien mungkin perlu menjalani perawatan di rumah sakit selama sekitar satu hingga dua hari, tergantung pada kondisi masing-masing. Selama masa pemulihan di rumah sakit, perawat akan membantu memenuhi kebutuhan pasien, termasuk perawatan area hidung dan aktivitas ke kamar mandi.

Pasien umumnya dapat kembali mengonsumsi makanan seperti biasa apabila sudah mampu menerima cairan dengan baik. Pasien juga akan dianjurkan untuk mulai bangun dari tempat tidur dan berjalan secara bertahap sesegera mungkin sesuai kondisi.

Selama dirawat, jumlah cairan yang diminum dan volume urine yang dikeluarkan juga dapat dipantau. Pemantauan ini penting untuk membantu dokter mengevaluasi fungsi kelenjar pituitari setelah operasi.

Setelah diperbolehkan pulang, perawatan lanjutan dapat meliputi:

  • Obat pereda nyeri untuk membantu mengatasi sakit kepala, yang merupakan salah satu keluhan yang umum terjadi setelah operasi.
  • Pembatasan aktivitas, termasuk menghindari mengangkat beban berat atau mengejan sampai dokter menyatakan aman untuk melakukannya.
  • Kontrol lanjutan dengan dokter yang menangani operasi untuk memantau kondisi serta fungsi kelenjar pituitari.
  • Pemeriksaan MRI ulang untuk mengevaluasi kondisi area operasi dan kemungkinan adanya sisa atau pertumbuhan kembali tumor.
  • Pemeriksaan fungsi penglihatan untuk memastikan tidak terdapat gangguan pada penglihatan setelah tindakan.

Baca juga: Dr. Joy Operasi Tumor Otak Lewat Hidung, Endoscopic Endonasal Transsphenoidal (EETH) 

Manfaat Endoscopic Endonasal Transsphenoidal Surgery

Tumor pada kelenjar pituitari dapat menyebabkan gangguan produksi hormon dan masalah penglihatan. Dengan mengangkat tumor tersebut, keseimbangan hormon dapat kembali membaik dan gangguan penglihatan pada sebagian pasien dapat mengalami perbaikan. Untuk tumor berukuran kecil, operasi transsphenoidal memiliki risiko cedera otak dan efek samping yang lebih rendah dibandingkan operasi melalui pembukaan tengkorak (craniotomy).

Sebagai prosedur minimal invasif, EETS memiliki beberapa manfaat, antara lain:

  • Rasa tidak nyaman setelah operasi lebih ringan.
  • Risiko komplikasi lebih rendah.
  • Masa pemulihan lebih singkat, sehingga pasien dapat lebih cepat kembali beraktivitas.
  • Risiko cedera saraf lebih rendah.
  • Memberikan hasil terapi yang baik.

Prosedur Endoscopic Endonasal Transsphenoidal Surgery di RS Mandaya Royal Puri

EETS

Prosedur EETS di RS Mandaya Royal Puri dilakukan melalui kolaborasi multidisiplin antara dokter bedah saraf dan dokter spesialis THT. Kolaborasi ini penting karena prosedur dilakukan melalui rongga hidung untuk mencapai area dasar tengkorak dan kelenjar pituitari yang berada di dekat struktur penting otak.

Dalam tindakan ini, Dr. dr. Mardjono Joy Tjahjadi, Sp.BS, Subsp. N-Vas, F. N-Onk, PhD, FICS, IFAANS (Dr. Joy) sebagai dokter spesialis bedah saraf berperan dalam menangani bagian tumor yang berada di area otak dan kelenjar pituitari. Sementara itu, dr. Zuki Saputra, Sp.THT-BKL berperan dalam mengakses area tumor melalui rongga hidung dan sinus dengan menggunakan teknik endoskopi.

Kolaborasi antara kedua bidang keahlian tersebut memungkinkan akses menuju tumor dilakukan melalui jalur hidung tanpa perlu membuka tempurung kepala seperti pada operasi otak konvensional. Dengan pendekatan ini, proses operasi dapat dilakukan secara lebih terarah sekaligus mempertimbangkan keamanan struktur penting di sekitar tumor.

Untuk mempermudah kunjungan Anda ke Mandaya Royal Hospital Puri, gunakan fitur Chat melalui Whatsapp, Book Appointment, atau aplikasi Care Dokter yang bisa di-download di Google Play dan App Store untuk mempermudah kunjungan, melihat nomor antrian, dan mendapatkan informasi lengkap lainnya.

Konsultasi dokter

Referensi:

  1. Johns Hopkins Medicine. Endoscopic Pituitary Surgery. https://www.hopkinsmedicine.org/health/treatment-tests-and-therapies/endoscopic-pituitary-surgery. Diakses 12 Agustus 2026.
  2. Mayo Clinic. Transsphenoidal Surgery. https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/transsphenoidal-surgery/about/pac-20583059. Diakses 12 Agustus 2026.
  3. UF Health. Transsphenoidal Surgery. https://ufhealth.org/conditions-and-treatments/transsphenoidal-surgery. Diakses 12 Agustus 2026.
Need Help? Chat with us!
Start a Conversation
Hi! Click one of our members below to chat on WhatsApp
We usually reply in a few minutes