Pasien Saraf Terjepit Lakukan Tindakan AUSS dengan dr. Christian Ariono di RS Mandaya Puri: Sensasi Kesemutan Langsung Hilang

Pasien Saraf Terjepit Lakukan Tindakan AUSS dengan dr. Christian Ariono di RS Mandaya Puri: Sensasi Kesemutan Langsung Hilang

Saraf terjepit merupakan kondisi ketika saraf mengalami tekanan dari jaringan di sekitarnya, seperti tulang, ligamen, atau otot. Tekanan tersebut dapat memicu berbagai gejala yang mengganggu aktivitas sehari-hari, mulai dari nyeri yang menjalar, mati rasa, hingga sensasi kesemutan atau seperti tertusuk jarum. Pada beberapa kasus, saraf terjepit juga dapat menyebabkan kelemahan otot dan membuat bagian tubuh tertentu terasa seperti “tertidur”. Kondisi inilah yang dialami oleh seorang pasien bernama Nurul Hikmah yang berusia 40 tahun asal Penjaringan, Jakarta Utara. 

dr. Christian Ariono, Sp.BS-FTB, FINSS, FINPS, FICS
dr. Christian Ariono, Sp.BS-FTB, FINSS, FINPS, FICS

Setelah menjalani tindakan Arthroscopic-assisted Uni-portal Spine Surgery (AUSS) bersama dr. Christian Ariono, Sp.BS-FTB, FINSS, FINPS, FICS, dokter spesialis bedah saraf di RS Mandaya Royal Puri, sensasi kesemutan yang selama ini mengganggunya langsung menghilang.

“Setelah tindakan yang aku rasakan kesemutan tangan kanannya tadinya ada sekarang sudah tidak ada. Biasanya kalau duduk terasa beda antara tangan kiri sama tangan kanan. Kalau sekarang sama-sama tidak kesemutan (kedua tangannya),” kata pasien.

Konsultasi dokter

Kisah pasien mengalami saraf terjepit dan pemulihannya

Pasien ini awalnya mengalami sakit kepala yang disertai kesemutan pada kedua tangan. Setelah menjalani pemeriksaan, ia didiagnosis mengalami saraf terjepit di leher dan menjalani operasi Anterior Cervical Discectomy and Fusion (ACDF) di rumah sakit lain pada Desember 2024. Kondisinya sempat membaik setelah operasi, tetapi sekitar tujuh bulan kemudian keluhan yang sama kembali muncul. Ia pun menjalani tindakan radiofrekuensi (radiofrequency ablation/RFA) untuk meredakan nyeri.

Sayangnya, hasil tindakan tersebut tidak bertahan lama. Setelah menjalani RFA untuk kedua kalinya, nyeri kepala dan kesemutan di tangan kembali muncul hanya dalam waktu sekitar satu bulan. Pemeriksaan lanjutan, termasuk elektromiografi (EMG), menunjukkan bahwa masih terdapat saraf yang terjepit pada ruas tulang belakang leher C5-C6 dan C6-C7. Karena tidak ingin kembali menjalani operasi besar melalui sayatan di bagian depan leher, pasien mulai mencari alternatif penanganan yang lebih minimal invasif.

Dari media sosial RS Mandaya Royal Puri, pasien mengetahui adanya prosedur endoskopi tulang belakang yang dilakukan oleh dr. Christian. Setelah berkonsultasi, dr. Christian merekomendasikan tindakan Arthroscopic-assisted Uni-portal Spine Surgery (AUSS). Berbeda dengan operasi sebelumnya yang dilakukan dari bagian depan leher, prosedur AUSS dilakukan melalui akses dari belakang dengan sayatan yang sangat kecil, tanpa perlu memotong otot, sehingga risiko perdarahan dan komplikasi lebih rendah serta proses pemulihan dapat berlangsung lebih cepat.

Pasien juga mengaku merasa lebih tenang karena seluruh proses penanganan dijelaskan secara rinci oleh dr. Christian, mulai dari penyebab keluhannya, alasan pemilihan metode AUSS, hingga perawatan setelah tindakan. Bahkan, selama proses operasi pasien juga mendapatkan dokumentasi video yang memperlihatkan saraf yang terjepit dan bagaimana saraf tersebut dibebaskan. Hasilnya pun langsung terasa. Sensasi kesemutan yang sebelumnya selalu muncul di tangan kanan kini hilang sepenuhnya. Jika sebelumnya kedua tangannya terasa berbeda saat digunakan, setelah menjalani AUSS kedua tangan terasa normal tanpa kesemutan lagi.

Baca juga: Penanganan Saraf Terjepit Terbaru Metode AUSS oleh dr. Christian Ariono di RS Mandaya Royal Puri, Sayatan Hanya 1,5 cm

Penjelasan tindakan AUSS oleh dr. Christian Ariono

Menurut dr. Christian, tindakan yang dilakukan pada pasien ini adalah AUSS, yaitu prosedur endoskopi tulang belakang yang menggunakan sayatan minimal untuk mengatasi saraf terjepit.

“Jadi tindakan yang kita lakukan adalah tindakan endoskopik pada tulang belakang, yang saya gunakan adalah AUSS atau Arthroscopic-assisted Uniportal Spinal Surgery. Untuk kasus ini, walaupun kita lakukan re-operasi, tetapi kita menggunakan akses yang berbeda. Kalau yang sebelumnya dari depan, kali ini saya masuk dari belakang sehingga hampir bisa dikatakan seperti operasi baru,” ucapnya. 

dr. Christian menjelaskan bahwa penggunaan jalur operasi yang berbeda menjadi keuntungan pada kasus ini. Jika operasi kedua atau ketiga dilakukan melalui akses yang sama, prosedur biasanya akan lebih sulit karena sudah terbentuk jaringan perlengketan dan struktur anatomi tidak lagi seperti kondisi normal.

Lebih lanjut, dr. Christian mengatakan bahwa pemilihan teknik AUSS disesuaikan dengan kondisi pasien. Bantalan atau diskus pada tulang belakang pasien sebelumnya sudah diganti melalui operasi ACDF sehingga sumber tekanan bukan lagi berasal dari bagian depan. Dengan AUSS, dokter dapat mengakses saraf dari bagian belakang hanya pada sisi yang mengalami keluhan sehingga tindakan menjadi lebih tepat sasaran.

“Dengan kita melakukan AUSS, kita bisa mengakses dari belakang dengan satu sisi sesuai dengan keluhan pasien yaitu hanya di sisi kanan, dengan luka yang lebih minimal. Kita tidak perlu membuka sayatan besar, tidak perlu memotong otot, sehingga penyembuhannya bisa lebih cepat dan komplikasinya pun juga lebih kecil, perdarahannya juga lebih minimal.”

Baca juga: 7 Cara Mengatasi Saraf Kejepit Tanpa Operasi

Kapan harus waspada dengan tanda-tanda saraf terjepit?

Saraf terjepit merupakan kondisi yang tidak boleh diabaikan. Rasa nyeri, kesemutan, atau mati rasa yang muncul sebenarnya merupakan sinyal dari tubuh bahwa ada saraf yang sedang mengalami tekanan. Jika keluhan tersebut tidak membaik setelah menjalani penanganan sederhana atau terus berlangsung selama beberapa hari, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.

Selain itu, ada beberapa kondisi yang memerlukan penanganan medis sesegera mungkin, antara lain:

  • Saraf terjepit yang menyebabkan gangguan kontrol buang air kecil atau buang air besar.
  • Tangan menjadi lemah sehingga sulit menggenggam atau sering menjatuhkan benda.
  • Kelemahan saraf yang menyebabkan lengan atau tungkai tiba-tiba kehilangan kekuatan atau tidak mampu menopang tubuh.

Untuk memastikan penyebab keluhan, dokter dapat menyarankan pemeriksaan penunjang seperti MRI, CT scan, atau EMG guna menilai kondisi saraf dan mengetahui lokasi terjadinya penjepitan. Hasil pemeriksaan tersebut akan membantu dokter menentukan terapi yang paling sesuai, mulai dari pemberian obat pereda nyeri atau kortikosteroid, fisioterapi, tindakan injeksi, hingga operasi pada kasus saraf terjepit yang berat atau tidak membaik dengan pengobatan konservatif.

Konsultasikan penanganan saraf terjepit Anda dengan dr. Christian Ariono di RS Mandaya Puri

dr. Christian Ariono, Sp.BS-FTB, FINSS, FINPS, FICS

dr. Christian Ariono, Sp.BS-FTB, FINSS, FINPS, FICS merupakan dokter spesialis bedah saraf di RS Mandaya Royal Puri yang memiliki keahlian dalam penanganan berbagai gangguan pada otak, tulang belakang, dan saraf perifer, termasuk prosedur bedah minimal invasif untuk saraf terjepit. Ia menyelesaikan pendidikan dokter umum di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, kemudian melanjutkan Program Pendidikan Dokter Spesialis Bedah Saraf di fakultas yang sama. 

Untuk terus meningkatkan kompetensinya, dr. Christian juga aktif mengikuti berbagai pelatihan dan simposium nasional maupun internasional, di antaranya Aesculap Academy & Padjadjaran University Skullbase Cadaver Dissection Resident Course & Cerebrovascular Microanastomosis Course, Trigeminal Neuralgia International Awareness Day Symposium, serta Annual Scientific Meeting of Indonesian Society of Neurological Surgeon yang diselenggarakan bersama World Federation of Neurosurgical Societies (WFNS). Berbagai pelatihan tersebut semakin memperkuat kompetensinya dalam menangani kasus-kasus bedah saraf dengan teknik yang modern dan berbasis bukti ilmiah.

dr. Christian Ariono, Sp.BS-FTB, FINSS, FINPS, FICS bisa ditemui di RS Mandaya Royal Puri pada:

  • Senin: 08.00 – 16.00 WIB
  • Selasa: 08.00 – 12.00 WIB
  • Rabu: 08.00 – 16.00 WIB
  • Kamis: 08.00 – 16.00 WIB
  • Jumat: 08.00 – 16.00 WIB
  • Sabtu: 08.00 – 16.00 WIB.

Untuk mempermudah kunjungan Anda ke Mandaya Royal Hospital Puri, gunakan fitur Chat melalui Whatsapp, Book Appointment, atau aplikasi Care Dokter yang bisa di-download di Google Play dan App Store untuk mempermudah kunjungan, melihat nomor antrian, dan mendapatkan informasi lengkap lainnya.

*Informasi yang tersedia pada halaman ini disusun untuk tujuan edukasi dan gambaran umum, sehingga tidak mencerminkan seluruh jenis layanan medis yang dapat dilakukan oleh masing-masing dokter. Untuk memastikan penanganan yang sesuai dengan kondisi kesehatan Anda, disarankan melakukan konsultasi langsung dengan dokter terkait.

Apabila Anda memiliki pertanyaan, saran, atau membutuhkan informasi lebih lanjut, silakan menghubungi call center kami di 0811-1900-2000.

Konsultasi dokter

Referensi

Need Help? Chat with us!
Start a Conversation
Hi! Click one of our members below to chat on WhatsApp
We usually reply in a few minutes