Afasia adalah gangguan bahasa yang dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk berkomunikasi, baik dalam berbicara, memahami ucapan, membaca, maupun menulis. Kondisi ini paling sering terjadi setelah stroke, terutama apabila stroke menyerang bagian otak kiri yang berperan dalam mengatur fungsi bicara dan bahasa. Akibatnya, penderita afasia dapat mengalami kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari, berinteraksi dengan keluarga maupun lingkungan sekitar, bahkan merasa terisolasi karena hambatan dalam berkomunikasi.
Selain mengalami gangguan berbicara, sebagian pasien afasia pascastroke juga dapat mengalami kesulitan menelan (disfagia). Kondisi ini membuat pasien kesulitan menelan makanan bertekstur padat maupun minuman, sehingga kebutuhan nutrisi dan cairan tubuh menjadi sulit terpenuhi. Keluhan tersebut juga dialami oleh salah satu pasien stroke bernama Pak Agus yang menjalani perawatan di RS Mandaya Royal Puri, di mana ia mengalami afasia disertai gangguan menelan yang membuatnya kesulitan mengonsumsi makanan maupun minuman.
Setelah menjalani program rehabilitasi dengan terapi Transcranial Magnetic Stimulation (TMS) di RS Mandaya Royal Puri, pasien tersebut menunjukkan perkembangan yang signifikan. Perubahan ini mulai terlihat bahkan sebelum satu bulan terapi, memberikan harapan baru dalam proses pemulihan kemampuan berkomunikasi dan menelan setelah stroke.
“Sejauh ini Pak Agus sudah bisa nyetir sendiri dan sudah mulai ikut kegiatan di kantor walaupun masih Work From Home (WFH). Mungkin yang signifikannya terlihat dari (perkembangan makan dan minum). Dulu waktu Pak Agus awal kena stroke, itu pakai NGT (alat bantu makan), dan belum ada satu bulan NGT sudah dilepas karena Pak Agus sudah bisa menelan,” ujar istri pasien yang mendampingi.
Contents
Kisah pasien mengalami stroke dan afasia, serta kondisi setelah terapi
Pak Agus mengalami serangan stroke secara tiba-tiba saat sedang bekerja di kantor. Menurut sang istri, gejala awal yang muncul adalah bibir yang tampak miring. Tak lama kemudian, Pak Agus juga mengalami kesulitan menelan, baik cairan maupun makanan padat, sehingga asupan nutrisi harus dibantu menggunakan nasogastric tube (NGT) atau selang makan.
Untuk mengetahui penyebab kondisinya, Pak Agus menjalani pemeriksaan MRI dengan kontras. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ia mengalami stroke yang menyebabkan afasia.
“Kebetulan suami saya ini kemarin terkena serangan stroke pada saat bekerja di kantor. Waktu terjadi serangan, dia bibirnya miring. Jadi sempat tidak bisa masuk cairan minuman, makanan juga tidak bisa,” kata sang istri.
Karena sebelumnya sudah menjadi pasien di RS Mandaya Royal Puri, keluarga segera membawa Pak Agus untuk menjalani perawatan di sana. Tim dokter kemudian merekomendasikan program rehabilitasi yang mencakup terapi TMS sebagai bagian dari upaya membantu proses pemulihan fungsi otak.
Seiring menjalani terapi, kondisi Pak Agus menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Salah satu perubahan yang paling signifikan adalah kemampuan menelannya yang membaik. Jika sebelumnya ia harus menggunakan NGT karena tidak dapat menelan makanan maupun minuman, alat tersebut sudah dapat dilepas bahkan sebelum satu bulan setelah menjalani terapi. Selain itu, Pak Agus kini sudah dapat menyetir sendiri dan mulai kembali beraktivitas untuk pekerjaan secara WFH.
Baca juga: 5 Keunggulan Transcranial Magnetic Stimulation (TMS), Harapan Baru Pasien Stroke
Apa itu TMS dan bagaimana cara kerjanya?

TMS adalah terapi noninvasif tanpa rasa sakit yang memanfaatkan denyut magnet untuk merangsang sel-sel saraf di otak. Terapi ini dapat membantu menangani berbagai kondisi, seperti depresi, obsessive-compulsive disorder (OCD), migrain jenis tertentu, serta digunakan sebagai bagian dari rehabilitasi pada beberapa gangguan neurologis, termasuk pemulihan pascastroke.
TMS bekerja dengan menggunakan sebuah kumparan (coil) kecil yang ditempatkan di permukaan kepala. Cara kerjanya meliputi:
- Coil ditempatkan pada area kepala tertentu sesuai dengan bagian otak yang akan dirangsang.
- Coil menghasilkan denyut magnet yang menembus tulang tengkorak tanpa memerlukan pembedahan atau sayatan.
- Denyut magnet tersebut menciptakan impuls listrik berintensitas rendah pada sel-sel saraf di area otak yang dituju.
- Pola denyut magnet disesuaikan dengan tujuan terapi, yaitu untuk meningkatkan aktivitas pada area otak yang kurang aktif atau menurunkan aktivitas pada area otak yang terlalu aktif.
- Stimulasi ini membantu memperbaiki fungsi jaringan saraf, sehingga dapat mendukung pemulihan fungsi otak pada kondisi tertentu sesuai indikasi medis.
Baca juga: Mengenal Prosedur Transcranial Magnetic Stimulation (TMS) untuk Rehabilitasi Stroke
Berapa lama terapi TMS perlu dilakukan?
Terapi TMS umumnya tidak dilakukan hanya dalam satu kali sesi, melainkan melalui serangkaian terapi yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.
Pada umumnya, TMS dilakukan lima hari dalam seminggu selama 4–6 minggu. Namun, jumlah sesi dan durasi terapi dapat berbeda-beda tergantung pada kondisi pasien, tujuan terapi, serta penilaian dokter yang menangani.
Dokter akan menentukan rencana terapi yang paling sesuai, termasuk berapa banyak sesi yang dibutuhkan dan berapa lama terapi perlu dijalani. Pada beberapa pasien, terapi lanjutan atau sesi pemeliharaan juga dapat dipertimbangkan apabila diperlukan untuk mendukung proses pemulihan.
Dokter saraf ahli terapi TMS pascastroke di RS Mandaya Royal Puri

Salah satu rekomendasi dokter spesialis saraf ahli terapi TMS yang dapat Anda temui di RS Mandaya Royal Puri adalah Dr. dr. Yetty Ramli, Sp.N(K). Beliau memiliki fokus keahlian di bidang neurorestorasi, neurobehavior, dan neurotrauma untuk pasien anak maupun dewasa.
Dr. Yetty berpengalaman dalam menangani berbagai gangguan neurologis, seperti penyakit Alzheimer, penyakit Parkinson, terapi pascastroke, hingga autisme pada anak. Selain itu, beliau juga memiliki kompetensi dalam terapi neuromodulasi menggunakan Transcranial Direct Current Stimulation (tDCS), pemeriksaan Electroencephalography (EEG), serta berbagai pendekatan neurorestorasi untuk membantu memulihkan fungsi sistem saraf.
Beliau menyelesaikan pendidikan dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, kemudian meraih gelar spesialis neurologi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Dr. Yetty juga memperoleh gelar Ph.D. di bidang Biomedik Veteriner dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Untuk memperdalam keahliannya, beliau mengikuti berbagai program fellowship di bidang Neuropediatri di Sydney Children’s Hospital, serta fellowship Neurobehavior, Neurorestorasi, dan Neurotrauma, sehingga memiliki kompetensi yang komprehensif dalam menangani berbagai penyakit dan gangguan sistem saraf.
Jadwal praktik Dr. dr. Yetty Ramli, Sp.N(K) di RS Mandaya Royal Puri:
- Senin: 16.00–20.00 WIB
- Rabu: 16.00–20.00 WIB
Paket terapi TMS di RS Mandaya Royal Puri

Di RS Mandaya Royal Puri, terapi TMS tersedia dengan paket Rp1.500.000 untuk 1 kali terapi atau Rp12.500.000 untuk 10 kali terapi.
Seluruh tindakan dilakukan oleh tim dokter dan tenaga medis berpengalaman setelah pasien menjalani evaluasi menyeluruh untuk menentukan rencana terapi yang sesuai dengan kondisinya.
Untuk mempermudah kunjungan Anda ke Mandaya Royal Hospital Puri, gunakan fitur Chat melalui Whatsapp, Book Appointment, atau aplikasi Care Dokter yang bisa di-download di Google Play dan App Store untuk mempermudah kunjungan, melihat nomor antrian, dan mendapatkan informasi lengkap lainnya.
Referensi:
- American Stroke Association. Aphasia and Stroke. (https://www.stroke.org/en/about-stroke/effects-of-stroke/communication-and-aphasia/stroke-and-aphasia). Direvisi terakhir 12 April 2024. Diakses pada 9 Juli 2026.
- Cleveland Clinic. Dysphagia (Difficulty Swallowing): What It Is, Causes & Treatment. (https://my.clevelandclinic.org/health/symptoms/21195-dysphagia-difficulty-swallowing). Direvisi terakhir 20 Agustus 2023. Diakses pada 9 Juli 2026.
- Cleveland Clinic. Transcranial Magnetic Stimulation (TMS): What It Is. (https://my.clevelandclinic.org/health/treatments/17827-transcranial-magnetic-stimulation-tms). Direvisi terakhir 29 Januari 2026. Diakses pada 9 Juli 2026.

